Pendar matahari pagi menyapu rumah-rumah dan segala macam pepohonan yang membuat keelokan tersendiri bagi setiap mata memandang tiap-tiap ruas sudut perkampungan. Deretan perbukitan bagai jajaran raksasa terlelap membuat daya pukau bagi setiap orang yang melihat. Terlebih bagi siapa saja yang terbangun dipagi hari menyambut setelah penuh beraktivitas dari derap kehidupan. Menerabas detik demi detik kehidupan untuk menggulung waktu yang terus berjalan tanpa pernah mampu diberhentikan oleh siapapun. Waktu akan terus dan selalu berjalan bagi semua kehidupan manusia.
Kemudian, bila suatu Ketika nasib yang sepertinya tidak menyenangkan atau bencana dating kepada keluarga, kerabat, ataupun bahkan seseorang yang tak dikenal sekalipun, penduduk satu sama lain tidak segan untuk bertegur sapadan membantu. Sebab hampir semua mereka mengerti, betapa hidup adalah laksana sikap baik kehidupan keraton di istana Kesultanan Kutai Kartanegara pada masa silam. Kehidupan keraton memberikan pengaruh bagi setiap masyarakat untuk saling membantu satu sama lain. Bahkan, sampai sekarang pun, masyarakat senantiasa hidup untuk mengencangkan rasa kekeluargaan bagi sesamanya, tanpa sikap pamrih, seperti juga selalu dilakukan oleh para tokoh masyarakat setempat. Mereka adalah para tokoh panutan yang berprinsip kuat untuk melayani dan bukan untuk dilayani dalam lelaku keseharian kehidupan bagi sesamanya.
Atas kebersamaan kehidupan seperti itu pula, para suami dan istri senantiasa menyambut pagi dengan decak kagum. Para penduduk seakan-akan mendapatkan gairah dan inspirasi baru dalam menjalani kehidupan. Meski mereka tahu bahwa kehidupan tidak selalu berjalan dalam situasi manis namun kadang dalam situasi pahit sekalipun. Akan tetapi, penduduk seperti diajarkan untuk terbiasa memperbanyak rasa syukurnya. Meski pahit melahap keseharian mereka. Kehidupan yang bukan hanya didarat melainkan disungai juga. Seperti kehidupan yang tiada pernah berhenti untuk berburu mencari ikan. Semua dilakukan demi keberlangsungan sebuah kehidupan. Mencari ikan memang sejak lama menjadi tradisi. Tradisi cara lain saat berladang atau mengurus kebun yang berganti musim. Seperti kala menunggu musim panen tiba.
Kisah sepasang suami istri yang berada di Kutai Kartanegara, mereka yang sehari-hari melarungi sungai demi mencari nafkah untuk menyambung hidup. Mereka adalah Si Gunam yang menjadi kepala keluarga dan Ben menjadi pujaan hatinya. Mereka adalah pasangan yang sedang mencari jati diri. Kehidupan mencari nafkah dikampung seperti berburu di hutan belantara, bercocok tanam di ladang, mereka tinggalkan sementara dan mencari ikan di sungai pun mereka mulai.
Dalam waktu yang sudah berlangsung sekian lama, tidak bisa merasakan lagi waktu kecuali memandang bayangan berupa pagi, siang, petang dan malam. Sepasang kekasih ini tetap setia menunggu ikan yang terperangkap oleh jaringnya. Walau hanya berbekal alat seadanya dan menumpangi perahu candik berkayu coklat yang melintasi aliran sungai dari hulu ke hilir. Akan tetapi, semangat mereka tidak pernah memudar malah makin membara bagai api yang berkobar. Seolah-olah waktu adalah derap perjalanan kehidupan yang harus selalu dilaksanakan dan diperjuangkan.
Setelah sekian lama menyusuri sungai Mahakam dengan segala riam yang sangat berbahaya, akhirnya Gunam dan Ben memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya. Kampung tersebut berada di Kutai Kartanegara tepatnya di Kampung Separi. Perbukitan tampak begitu bersahaja, matahari perlahan menyembul tanpa keraguan. Mereka tinggal disebuah rumah yang sederhana hanya berdinding dan beralaskan kayu. Kehidupan saat itu masih sangat terbatas, sehingga penduduknya hanya mengandalkan hasil panen dari ladang mereka. Seperti halnya Si Gunam yang mencoba keberuntungannya dalam bercocok tanam.
Gunam terkenal sebagai sosok orang yang tangguh dalam bekerja. Segala upaya dikerahkan Gunam dalam merawat tanamannya diladang, berharap ada keajaiban datang kepada keluarganya. Seperti pepatah mengatakan bahwa tiada pernah usaha menjadi sia-sia bilamana kita selalu merasa bersyukur atas pemberian-Nya. Hanya dari tanaman itulah Gunam menggantungkan harapan besar agar mendapat hasil panen yang memuaskan. Ben sebagai istri sangat mendukung semua pekerjaan yang dilakukan Gunam, Ben selalu setia menemani kemanapun Gunam berada. Sebuah kebersamaan dalam pekerjaan yang dilalui penuh kesetiaan dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun, hingga mereka menemukan kehidupan pada suatu masa.
Disela kegiatan mengurus ladangnya, tak lupa Gunam sesekali mencari ikan disungai. Namun, kali ini ia hanya berkelana dalam waktu yang tidak lama. Ia memulai menyusuri sungai saat matahari belum menampakan wujudnya sampai matahari kembali terbenam, yang terpenting hasil tangkapannya cukup untuk lauk sehari-hari.
Sekadar untuk diketahui, pada zaman itu penduduk masih mengalami keterbatasan pakaian penutup badan atau pakaian, sehingga mereka masih menggunakan pakaian yang terbuat dari kulit pohon yang dililitkan kebadan mereka. Terkadang sepasang suami istri hanya memiliki satu penutup badan yang dipakai untuk bergantian. Namun hal itu sudah menjadi hal yang wajar pada zamannya. Sama halnya yang dirasakan oleh Gunam dan Ben, kulit pohon yang dipakai sehari-hari nampak semakin lusuh karena terpapar sinar matahari setiap harinya. Hingga suatu waktu, pakaian Ben sudah tidak layak dipakai lagi. Gunam dan Ben terpaksa harus bergantian pakaian ketika ingin keluar rumah. Setiap kali akan keluar rumah, Gunam selalu berpesan kepada Ben agar tidak keluar rumah sebelum ia pulang, karena pakaian yang akan digunakan harus bergantian.
Gunam mengawali segenap Tindakan yang akan dilaluinya dengan semangat yang membara. Semangat Gunam dari air mata milik manusia-manusia yang terlahir oleh situasi penuh kemiskinan. Gunam mengingat tentang pentingnya menafsirkan bahasa keringat, menurutnya dari setiap tetesan keringat yang dikorbankan pasti akan digantikan oleh kebahagiaan dan keberuntungan. Doa yang selalu dipanjatkan kepada Sang Hyang setiap harinya, berharap mendapat rezeki yang melimpah.
Waktu yang selalu diharapkan oleh penduduk kampung akhirnya menjadi kenyataan. Berkah menghampiri perjalanan kehidupan mereka sebagai sepasang suami istri sepanjang melarungi kehidupan. Bilamana berkah datang, tiada lagi mereka sanggup untuk menghindar dari takdir-Nya. Hal tersebut dirasakan pula oleh penduduk Kampung Separi. Si Gunam dan Ben, juga penduduk kampung, mulai merasakan panen yang melimpah hasil dari mengetam padi, jagung, dan hasil panen lainnya. Tiada lagi mereka merasa lapar apalagi merasakan kekurangan. Meski demikian, gaya hidup sederhana mereka tidaklah berubah, yakni tetap menggunakan pakaian sebagai penutup tubuhnya dari kulit pohon yang dijadikan baju dan celana untuk mengerjakan aktivitasnya sehari-hari.
Prinsip mereka masih sama seperti sedia kala yaitu dengan tetap kuat menjalani kesehariannya yang selalu senantiasa bangun saat subuh untuk memulai kegiatannya. Istilahnya, mereka harus memulai hari sebelum lalat terbang, sekawan burung melintas diatas rumah mereka, bahkan sebelum ayam menyuarakan kokoknya. Bersyukur sekali pada musim panen kali ini mereka merasakan hasil panen yang luar biasa.
Penduduk Kampung Separi merasakan kemudahan dalam mencari rezeki, baik hasil memancing, berladang, maupun berburu, semua berjalan lancer dan sangat menghasilkan. Anugerah Sang Hyang tampak semakin jelas memberi nikmat dan rezeki bagi mereka. Kampung Separi menjadi tempat yang kian penuh berkah. Segalanya tumbuh subur dan bersahaja dari waktu ke waktu.
Lalu, sampailah pada suatu ketika, penduduk kampung berinisiatif untuk menggelar acara sebagai tempat untuk melampiaskan perasaan syukurnya kepada Sang Hyang. Acara tersebut dinamakan sebagai Pesta Panen atau Pesta Belian yang sejak lampau sudah diselenggarakan sebagai bentuk terima kasih dan sebagai tanda syukur yang pernah dilakukan oleh kerabat keratorn atau istana, bahkan sejak nenek moyang, dengan mengundang seluruh tokoh pemuka masyarakat yang mengabdi kepada kerajaan. Biasanya mereka berdatangan dari seluruh pelosok wilayah kerajaan dengan membawa bahan makanan berupa sayur, beras, dan hasil ternak seperti ayam dan babi. Dalam upacaranya, biasanya Sultan serta kerabat keraton memberikan jamuan makan kepada rakyat sebagai tanda terima kasih atas pengabdiaanya selama ini.
Pada saat Pesta Belian digelar, hingar binger berkumandang, semua masyarakat bersuka cita mengikuti setiap prosesi adat istiadat yang berlangsung. Acara pesta Belian dilaksanakan di sebuah rumah adat atau disebut dengan rumah Lamin. Rumah lamin cocok dijadikan tempat berkumpul para pemuka adat dan perwakilan kerajaan diseluruh Kalimantan Timur karena dianggap luas sehingga dapat menampung tamu yang hadir saat acara berlangsung. Rumah Lamin tersebut memiliki tiga puluh enam pintu dan ruangan atau kamar yang digunakan untuk menginap para tokoh penting. Pesta Belian berlangsung selama enam belas malam.
Pesta yang sangat meriah dan berkesan ini tidak mau dilewatkan begitu saja bagi Gunam dan Ben. Untuk membawa perbekalan yang akan dibawa ke pesta, maka Gunam berniat untuk mencari ikan terlebih dahulu ke sungai. Lalu, ia berpamitan kepada Ben untuk meminta restu agar selama perjalanannya diberikan keselamatan dan semoga mendapat hasil tangkapan yang melimpah. Gunam berpesan pula kepada Ben agar tidak keluar rumah sebelum dirinya pulang, karena mengingat pakaian yang mereka punya hanya satu untuk bergantian.
Sesampainya Gunam di sungai, dengan menaiki sebuah sampan usang yang ia miliki, Gunam langsung menebar jaringnya disetiap ruas Sungai Mahakam. Kesabaran memang diperlukan saat mencari ikan. Sungai yang berwarna cokelat dan keruh, ditambah sesekali angin meniup kencang, membuat Gunam harus benar-benar jeli untuk menebak dimana ikan sebenernya berada. Setelah menunggu waktu yang cukup lama, Gunam mengecek jaringnya, namun nihil hasil, tidak ada satupun ikan yang terperangkap dijaringnya. Sampai di penghujung hari, ia memutuskan untuk balik kerumah dengan keadaan hampa. Gunam merasa heran karena biasanya ia mudah untuk menangkap ikan namun keadaan itu tidak berlaku untuk hari ini. Merasa cemas karena seharian mencari ikan tidak ada hasil yang ia dapat. Lantas, Gunam berdoa meminta kepada Sang Hyang agar dimudahkan dalam mencari ikan. Tak berselang lama, tiba-tiba muncul seekor Ikan Pari yang mendekatinya. Gunam yakin ikan tersebut adalah jawaban dari doa-doa yang ia panjatkan kepada Sang Hyang. Tanpa perlawanan, ikan tersebut mudah ditangkap oleh Gunam dan ia langsung membawanya pulang kerumah. Bersyukur sekali masih mendapat ikan yang akan ia bawa ke Pesta Belian. Gunam tidak peduli apakah ikan itu nanti dapat nikmat dimakan atau tidak. Setidaknya Gunam yakin bahwa ikan tersebut dapat diambil manfaatnya, diantaranya hendak ia gunaka ekor Ikan Pari itu untuk menabuh gendang pada akhir acara.
Disisi lain, saat Gunam masih mencari ikan di sungai, Ben sedang berada dirumah sembari menunggu Gunam pulang. Terdengar hingar bingar dentuman music dan pekik para penduduk tidak henti-hentinya bernyanyi. Seluruh penduduk Separi tumpah ruah di dalam Rumah Lamin untuk berpesta. Ben ingin sekali mendatangi pesta tersebut, hingga akhirnya Ben memutuskan untuk keluar rumah. Tanpa menghiraukan pesan yang telah diucapkan oleh Gunam, Ben bergegas mendatangi pesta. Selangkah demi langkah Ben menyusuri pondok-pondok serta ladang-ladang untuk sampai ke pesta Belian tersebut. Tanpa ia sadari Ben telah melanggar janji dengan Gunam untuk tidak keluar rumah sampai Gunam pulang. Selama perjalanan ia tidak menyadari bahwa ia datang ke pesta tanpa menggunakan pakaian selembar pun.
Sesampainya Ben ke pesta Belian, ia tidak disambut hangat oleh penduduk kampung lainya. Namun cacian makian serta olokan yang ia dengar. Tak sedikit dari mereka juga menertawakan Ben akan hal yang sama. Tak kuasa menahan kesedihan dan air mata, sehingga Ben memutuskan untuk pulang kerumah dan meninggalkan acara tersebut. Selama perjalanan Ben tak mampu menahan tangis yang ia rasakan. Ben berlari agar segera sampai kerumahnya. Ternyata, sesampainya Ben dirumah, Gunam telah berada dalam kamar. Saat berada dirumah Ben melihat ada ekor Ikan Pari yang sedang dijemur oleh Gunam didepan rumah. Tak berpikir panjang, Ben langsung mengambil ekor Ikan Pari tersebut dan membawanya kembali mendatangi ke pesta. Berjalan dengan tergesa-gesa dan penuh amarah, Ben ingin meluapkan kekesalannya kepada seluruh penduduk kampung yang hadir pada pesta.
Sesampainya Ben ke pesta panen, ia langsung mengutarakan kekesalannya dengan memukul-mukul warga menggunakan ekor Ikan Pari yang dibawanya dari rumah. Tak lama setelah kejadian itu, terdengar kemuruh dari atas langit yang mendatangkan hujan debu, kerikil dan batu yang menghantam seluruh tamu dan warga desa. Penduduk berhamburan saling bertabrakan untuk menyelamatkan diri. Banyak dari mereka yang berlarian tunggang-langgang pergi menjauhi rumah Lamin tersebut. Para penduduk tampak kelimpungan menyaksikan fenomena alam yang luar biasa bikin ketakutan. Sekiranya benar kata pepatah bahwa mujur tidak dapat diraih dan malang tidak dapat ditolak karena hal itulah balasan yang pantas bagi penduduk kampung atas perbuatanya. Semua yang telah terjadi tidak bisa diulang kembali. Hanya penyesalan yang melekat pada benak mereka.
Gunam yang mendengar gelagar bunyi petir itu langsung bergegas mendatangi pesta. Gunam mengkhawatirkan kejadian tersebut ada hubungannya dengan istrinya, sehingga ia mempercepat laju langkahnya agar segera sampai di Rumah Lamin. Si Gunam menduga bahwa istrinya keluar rumah tanpa seizinnya. Namun, dalam perjalanan itu ia terkena badai dahsyat yang menghantamnya. Badai debu yang semakin tebal serta jatuhan bebatuan mengenai badan Gunam. Benda-benda yang berada didalam rumah Lamin berhamburan serta pecah belah. Banyak penduduk desa yang terkubur oleh debu dan batuan. Si Gunam pun ikut terkubur bersama warga desa yang lain. Sampai akhirnya, rumah lamin yang digunakan sebagai tempat mengadakan pesta berubah menjadi batu.
Penduduk Separi beserta Gunam dan Ben berubah menjadi batu akibat dari masyarakatnya melanggar. Pelanggaran tersebut berupa olokan, hinaan dan ejekan kepada Ben. Ben adalah sosok yang dipercaya bukanlah orang sembarangan. Desa yang dahulunya adalah desa yang subur dan makmur sekarang berubah menjadi batu. Penduduk desa yang sempat berlari dan menyelamatkan diri pergi hingga sungai mahakam, mereka selamat. Lantas, masyarakat yang selamat menamai desa tersebut menjadi Separi. Separi dari kata “Sei” yang berarti sungai dan “Pari” yang berarti ikan pari.
Semua memang terasa begitu melesat tidak terkejar dan tidak terkira. Semua seperti kegelapan tak terhindarkan. Kegelapan yang menyeruak tanpa permisi, seperti tak mengetuj pintu daun pintu perasaan terlebih dahulu. Sebuah perlakuan yang tidak mengindahkan fenomena alam telah berujung menjadi bencana. Upacara pengucapan syukur bernama Pesta Belian atau Pesta Panen berubah menjadi pesta yang jauh dari pengucapan syukur.