Daftar Alat Musik

Eksplorasi warisan Alat Musik dari Kalimantan Timur

Sape
Sape

Alat Musik Tradisional

Sape berasal dari wilayah pedalaman Kalimantan, khususnya dari masyarakat Dayak Kenyah dan Dayak Kayan di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Dalam bahasa Dayak, "sape" berarti "memetik". Dahulu, sape digunakan dalam upacara adat seperti penyembuhan penyakit atau ritual spiritual untuk berkomunikasi dengan roh leluhur. Menurut mitologi Dayak, alat musik ini diciptakan oleh seorang leluhur yang mendapat ilham dari para dewa setelah mendengar musik indah di sebuah pulau kecil bernama Karangan. Sejak saat itu, Sape menjadi simbol koneksi spiritual antara manusia dan dunia roh dalam budaya Dayak. Awalnya, sape hanya dimainkan oleh pria dalam komunitas tertentu dan memiliki fungsi spiritual. Namun seiring perkembangan zaman, fungsinya mulai bergeser ke arah seni pertunjukan, bahkan sering dibawakan dalam panggung musik dunia seperti festival budaya di Eropa dan Asia. Alat musik sape dibuat dari kayu utuh, biasanya dari pohon adau atau kayu ringan lain yang mudah dipahat namun kuat. Proses pembuatannya sangat tradisional dan membutuhkan ketelitian tinggi. Bentuknya menyerupai gitar panjang dengan badan memanjang dan leher sempit. Di bagian depan biasanya terdapat ukiran khas Dayak yang menjadi ciri estetik sekaligus identitas pemiliknya. Jumlah dawai (senar) sape bervariasi, mulai dari dua hingga lima senar pada versi tradisional, dan bahkan bisa lebih banyak pada versi modern yang sudah dimodifikasi dengan teknologi elektrik. Awalnya, Sape memiliki dua dawai yang terbuat dari serat karbon pohon enau atau rotan. Namun, seiring perkembangan zaman, senarnya diganti dengan kawat rem sepeda atau senar gitar. Sape dimainkan dengan cara dipetik seperti gitar. Teknik memetiknya unik karena biasanya hanya satu jari yang digunakan, kemudian menghasilkan alunan nada yang ritmis dan meditatif. Musik yang dihasilkan terdengar mengalun lembut, cocok untuk suasana adat yang sakral. Musik sape tradisional biasanya menggunakan tangga nada pentatonik, namun versi modernnya kini bisa memainkan tangga nada diatonik dan bisa dipadukan dengan alat musik lain seperti keyboard atau biola.

Lihat Detail
Gambus Kutai Kartanegara
Gambus Kutai Kartanegara

Alat Musik Tradisional

Alat musik gambus Kutai Kartanegara adalah instrumen petik tradisional khas masyarakat suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki peran sentral dalam kesenian daerah. Alat musik ini berbentuk menyerupai mandolin atau kecapi panjang dengan ukuran berkisar antara 85 hingga 95 sentimeter. Ciri khas utamanya terletak pada penggunaan tujuh senar nilon, yang dikonfigurasikan menjadi tiga pasang senar ganda dan satu senar tunggal berukuran lebih tebal untuk memperkuat karakteristik nadanya. Keunikan bentuk dan nilai historisnya membuat instrumen ini resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada Agustus 2024. Dalam praktiknya, gambus Kutai tidak dapat dipisahkan dari kesenian musik Tingkilan, sebuah pertunjukan musik tradisional Kutai yang memadukan petikan gambus, tabuhan ketipung (kendang), dan lantunan pantun bersahut-sahutan. Irama dinamis yang dihasilkan dari petikan gambus ini sering kali menjadi pengiring utama bagi Tari Jepen, tarian rakyat khas Kutai yang sarat akan pengaruh budaya Islam dan Melayu. Kehadiran musik Tingkilan dengan instrumen gambusnya senantiasa menjadi penghidup suasana dalam berbagai acara adat, ritual kesultanan, pernikahan, hingga festival budaya di wilayah Kutai Kartanegara. Proses pembuatan gambus Kutai memerlukan keahlian khusus dan pemilihan bahan baku yang cermat untuk menghasilkan resonansi suara yang indah. Perajin lokal, seperti yang ada di wilayah Tenggarong, umumnya menggunakan kayu nangka atau kayu pulai sebagai bahan utama tubuh gambus. Penggunaan kayu nangka membutuhkan waktu pembuatan sekitar satu minggu namun menghasilkan daya tahan yang sangat awet, sementara kayu pulai lebih mudah dipahat dan selesai dalam waktu tiga hingga lima hari. Di era modern ini, pelestarian pembuatan gambus tradisional terus diupayakan oleh para maestro dan perajin lokal agar warisan leluhur ini tidak punah tergerus zaman.

Lihat Detail
Genikng
Genikng

Alat Musik Tradisional

Kalimantan Timur atau biasa disebut sebagai Benua Etam memiliki beragam kebudayaan yang patut untuk dilestarikan, termasuk kebudayaan dari alat musik tradisionalnya. Salah satu alat musik tradisional yang masih dimainkan dan perlu untuk dilestarikan adalah Genikng. Genikng merupakan alat musik tradisional yang terbuat dari perunggu atau besi. Di daerah lain, bentuk dari Genikng ini mirip seperti gong di Jawa. Lantas dari suku manakah alat musik ini berasal? alat musik ini rupanya berasal dari Suku Dayak Rentenuukng yang sering disebut juga sebagai Dayak Tunjung atau Dayak Tonyooi di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Oleh masyarakat setempat, Genikng ini difungsikan tidak hanya sebagai alat musik saja, tetapi juga berfungsi sebagai keperluan komunikasi. Terlebih untuk komunikasi yang berhubungan dengan praktik kehidupan sehari-hari maupun praktik ritual. Misalnya di Desa Linggang Bigung, Kutai Barat, Kalimantan Timur, genikng ini digunakan di hampir seluruh aspek kehidupan. Dari mulai upacara kelahiran, kehidupan bermasyarakat, sampai upacara kematian, semua ritual ini membutuhkan bunyi dari genikng. Mereka percaya, bunyi atau paduan bunyi dari genikng dapat mempersatukan hubungan antar warga maupun hubungan warga dengan alam dan dunia supranatural. Fungsi genikng sebagai media komunikasi ini tidak terlepas dari aktivitasnya sebagai instrument pengiring dalam upacara ritual. Pada saat ritual atau gelaran upacara tradisional, genikng menjadi media penyampaian pesan dari diselenggarakannya sebuah upacara. Dikutip dari laman Kemendikbud, bunyi yang dihasilkan genikng dengan instrumen lainnya menjadi bentuk interaksi untuk kebutuhan pemanggil dalam suatu upacara ritual. Oleh karena itu, genikng dianggap sebagai instrumen yang mengendalikan seberapa lambat atau cepatnya tempo dari musik yang disajikan oleh penabuh genikng.

Lihat Detail