Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Templenet dan Asal Mula Nama Burung Gagak, Pipit dan Butbut
Sinopsis Kisah Pernahkah Anda bertanya-tanya dari mana asal usul nama burung Gagak, Pipit, dan Butbut yang sering kita jumpai? Cerita rakyat "Templenet dan Asal Mula Nama Burung Gagak, Pipit dan Butbut" menyajikan petualangan seru namun menegangkan tentang tujuh ekor anak katak (templenet) yang tidak mematuhi pesan ibunya untuk menjauhi dasar danau yang berbahaya. Akibat kelalaian tersebut, salah satu anak katak terluka parah terkena sude (benda tajam/udang) di dasar danau, memaksa sang ibu mencari tabib bersayap untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Temukan keajaiban mantra penyembuhan dari tiga burung berwarna gelap yang unik, di mana masing-masing burung justru mendapatkan nama mereka (Gagak, Pipit, dan Butbut) dari mantra dan efek penyembuhan yang mereka berikan pada luka sang anak katak!

Cerita Lengkap

Matahari begitu terik hari ini. Sama seperti tiga hari sebelumnya, cuaca di pinggir danau terasa gerah. Seekor katak betina yang berlindung di bawah pohon Perapat berulangkali mencelupkan ujung kakinya ke air. Air danau juga terasa hangat. Tenggorokannya juga haus sekali. Sudah beberapa malam ia bersyair kepada langit, meminta agar hujan segera. Bahkan semalam ia mengajak betina lainnya juga untuk berkumpul di tepi danau utara yang sudah begitu dangkal. Bersyair bersama hingga lewat tengah malam. Berharap hujan segera turun. Tapi rupanya awan hanya melintas di atas langit danau. Hujan urung jatuh di tengah danau. Para betina pulang ke kediamannya masing-masing, lelah dan putus asa.

Siang ini, matahari tepat di atas danau, katak betina itu tak pula beranjak, masih bernaung di bawah pohon Perapat yang daunnya pun sudah banyak berguguran. Katak itu memandang ke air, di antara daun yang memenuhi tepi danau bersembunyi tujuh ekor templenet atau berudu yang masih belia. Tujuh berudu itu adalah anak-anaknya yang selalu khawatirkan akhir-akhir ini. Kondisi air danau yang cenderung panas membahayakan keselamatan anak-anaknya. Kemarin, ketujuh anaknya itu serentak meminta izin untuk berenang ke tengah danau. Selain suhu pinggiran danau yang panas, persediaan makanan mereka juga semakin berkurang. Betina lainnya serta anak-anaknya sudah banyak yang pindah ke tempat yang lebih dalam. Katak betina itu juga memaklumi keputusan betina lainnya. Makanan yang berlimpah pasti akan membuat berudu menjadi lebih cepat dewasa. Tapi ia masih ingat pesan mendiang suaminya, bahwa kediaman mereka sekarang adalah tempat yang paling aman di danau tersebut. Pinggiran bahkan di tengah danau sangat berbahaya. Banyak ikan-ikan besar siap memangsa tubuh mereka jika tidak hati-hati. Betina itu masih mengingat pesan ayah anak-anaknya itu dengan baik. “Di danau begitu banyak bahaya. Dan khusus untuk anak-anak, jangan bermain di dasar danau, banyak sude.” Tiba-tiba ia menjadi sedih saat mengingat suaminya. Katak jantan yang telah menemaninya sekian lama di danau menjadi mangsa ular sanca yang sering menyerang habitat mereka. Karena melamun, katak betina itu tidak menyadari bahwa ketujuh berudu yang ada di dedaunan tak jauh darinya berenang menjauh. Suhu air yang semakin panas membuat mereka berenang menuju air yang sedikit dalam. Mereka semakin jauh dari sang induk. Mereka berpikir ibunya perlu istirahat, agar nanti malam kembali bersyair agar hujan segera turun.

“Wah airnya sangat sejuh di sini,” seru salah satu berudu itu. Ia menggerahkan dengan lincah dan bebas tubuhnya. Dikibas-kibaskannya ekornya yang kecil seraya tertawa senang.

“Makanan di sini juga lebih banyak. Kalau sudah kenyang, kita kembali ke pinggir danau.” Berudu yang lain asyik mengunyah makanan tak henti-henti.

“Kita tidak boleh terlalu jauh dari ibu.” Seru yang lain mengingatkan. Meskipun ia senang menikmati suasana danau yang begitu luas, ia ingat dengan pesan ibunya. Ia sedikit khawatir saat saudaranya mengajak untuk berenang agak jauh.

“Tidak apa-apa. Aku masih ingat jalan ke arah rumah. Kapan lagi kita bisa berenang sejauh ini?” teriak berudu yang terlihat lebih besar dengan senang.

Tanpa mereka sadari, mereka semakin menjauh dari ibunya. Pemandangan di dasar danau juga sangat menarik perhatian mereka. Hingga salah satu berudu itu melihat sesuatu yang berkilauan, tersembunyi di antara ranting-ranting pohon yang tenggelam di dasar danau. Cahaya tersebut bergerak dengan pelan. Para templenet kecil itu begitu penasaran. Mereka bergerak mendekat. Semakin dekat dan akhirnya menemukan sumber cahaya berkilau itu. Namun mereka sama sekali tidak menyadari bahaya yang sedang mengintai mereka. Hingga salah satu dari mereka menjerit kesakitan. Ia memegang bagian perutnya yang terasa pedih. Perutnya terluka yang cukup besar dan dalam.

“Sude….sude….” Teriak berudu sulung. Ia lalu ingat dengan pesan ibunya. Bahwa di dasar danau banyak sekali benda tajam yang bisa melukai mereka. Dan ia melihat dengan jelas perut saudaranya tadi terkeda sude yang dimaksud ibunya itu. Ia melihat kilau cahaya tadi berasal dari mata udang.

Mereka pun membawa berudu yang terluka berenang kembali ke pinggir danau, kediaman mereka. Mereka sangat ketakutan. Sesampainya di bawah pohon Perapat, tampak ibunya juga panik. Ibunya baru menyadari kalau anak-anaknya pergi tanpa berpamitan kepadanya. Katak betina itu langsung menghampiri anaknya yang terluka. Ia sangat khawatir dengan keadaan anaknya. Ia kemudian melompat ke tepi danau, mencari pertolongan. Beberapa hewan yang ia temui tidak ada satupun yang bisa membantunya. Sampai kemudian ia bertemu dengan seekor kura-kura yang sangat besar. Setelah mendengar ceritanya, sang kura-kura kemudian menyuruh katak betina itu untuk mencari tabib, yaitu burung yang berwana gelap. Kata kura-kura burung itu memiliki obat yang sangat manjur untuk mengobati luka. Ia pun melompat ke sana kemari, hingga ia bertemu 3 ekor burung yang berwarna gelap. Satu ekor berwarna hitam legam, satu lagi burung kecil yang berwarna hitam dan sedikit kecoklatan, sementara yang satu bertubuh besar, ekornya Panjang berwarna coklat dan tubuhnya sebagian besar berwarna hitam. Ia bingung mau meminta tolong kepada burung yang mana. Hingga akhirnya ia meminta kepada ketiga burung tersebut untuk mengobati anaknya yang sedang terluka.

Ketiga burung itupun terbang ke pohon Perapat. Mereka melihat kondisi anak katak itu yang sedang terluka. Giliran pertama untuk mengobati adalah burung yang berwana hitam legam. Ia pun berteriak mengucapkan mantra pengobatan.

“Gak…gak…gak oang…..semakin hari semakin ngeroang.”

Saat mantra itu diucapkan, luka templenet tersebut justru semakin melebar dan dalam. Berudu kecil itu menangis kesakitan. Sang ibu akhirnya menyuruh burung tersebut berhenti mengobati anaknya. Dia pun memanggil burung itu Gagak dan memintanya untuk pulang.

Tiba giliran burung kedua yang bertubuh kecil. Burung tersebut dengan suaranya yang kecil berteriak.

“Pit pit tengkepit,,,semakin hari semakin supit”

Mantra itu ternyata manjur. Tiba-tiba luka berudu itu semakin mengecil. Tapi lukanya masih belum sembuh, darahnya masih saja keluar. Sang katak berterima kasih kepada burung tersebut dan memberinya upah, ia pun menyebut burung itu burung Pipit.

Kemudian giliran burung ketiga. Ia bertengger di ranting pohon yang lebih dekat dengan berudu yang terluka. Dengan khusyuk dia berkomat-kamit, beberapa ranting pohon kecil yang ia bawa dari sarangnya dikikisnya dan ditaburkan di luka sang berudu tersebut. Ia pun berteriak melapalkan mantra.

“But…but…but, tengkaput….semakin hari semakin tekaput.”

Ajaib sekali, pelan-pelan luka sang anak katak itu tertutup. Ia kemudian tersenyum. Ia juga tidak lagi merasakan sakit. Sang ibu juga tersenyum senang. Merekapun mengucapkan terima kasih kepada burung tersebut. Mereka memanggil burung itu Butbut. Ternyata apa yang dikatakan kura-kura itu benar. Hanya saja ia tidak tahu bahwa yang dimaksud kura-kura itu ternyata burung Pipit dan burung Butbut. Akhirnya templenet itu sembuh dari lukanya. mereka berjanji pada ibunya akan patuh terhadap nasihat orangtua serta akan berusaha tanpa menyerah jika menghadapi kesulitan. Mereka pun hidup dengan dewasa dan berubah menjadi katak yang baik.

Dan, sampai sekarang orang-orang juga menyebut burung-burung itu dengan panggilan Gagak, Pipit dan Butbut.