Ayus dan Ongo tinggal bersama ibu mereka di sebuah rumah di pinggiran desa. Hari itu ibu mereka sedang sakit, Ayus harus bekerja keladang dan mengambil kayu bakar di hutan. Ketika hendak pergi , Ayus berpesan pada Ongo.
“Ongo…! Aku nda’ pergi ke ladang lalu ngala’ kayu di hutan,” kata Ayus
“Ya... Yus,” sahut Ongo, sembil menggigit kuku jari dan memiring-miringkan wajahnya.
“Jerang air untuk mendi mamak,trus awa mendikan sida yoh,“ perintah Ayus
“Ya... Yus, awa mulang segalanya, pasti beres,” sahut Ongo, masih tetap dengan gayanya yang sama, menggigit kuku jari dan memiring-miringkan wajahnya.
Setelah Ayus pergi, Ongo mulai melaksanakan pesan saudaranya, Ayus. Ongo memberi makan ibunya, selesai memberi makan Ongo teringat pesan Ayus agar memandikan ibunya dengan “air panas”.
“ Tega mana, mendikan mamak tu dengan aer panas?”, pikir Ongo.
Lalu dengan kekuatannya Ongo mengambil sebuah kawah terbuat dari baja yang hanya mampu diangkat oleh sepuluh orang. Kawah adalah tempat orang memasak nasi untuk jumlah banyak bentuknya seperti wajan jika ada selamatan atau kenduri. Maka mulailah Ongo membuat tungku api dan merebus air dalam kawah tersebut sampai mendidih. Setelah mendidih Ongo berteriak dan masuk ke kamar ibunya.
“Ayo Mak…, etam mendi, saya mendikan kita yoh !,” teriak Ongo sambil menggedong ibunya.
“Ayus bepesan Mak, nyuruhku mendikan kita ni dengan aer panas…,” kata Ongo
Ongo mengendong ibunya yang tak berdaya karena sakit ke belakang rumah dan menaruh ibunya ke dalam kawah yang berisi “air panas”. Sang ibu terkejut dan menggelepar kepanasan. Ongo tertawa senang, Ongo mengira ibu bertepuk-tepuk tangan dengan gembira dalam kawah itu.
“ketipa’ tipa’ tipung…tipa’ tipa’tipung … Mamak mendi…,” Ongo berdendang melompat-lompat memutari kawah.
Tidak lama setelah itu Ayus kembali dari ladang, dan berteriak kepada Ongo.
“Ongo…! Ongo…! Mana awa ngo…!,”
“ belakang rumah! Mendikan Mamak!” sahut Ongo
Ayus bingung mengapa Ongo harus memandikan ibu mereka di belakang rumah. Ongo berlari sambil tetawa mendatangi Ayus dan bercerita tetang apa yang dilakukannya kepada ibu sesuai perintah Ayus.
“ Tu Mamak dalam kawah sedang ketipak ketipung kesenang mandi air panas,” kata Ongo
Ayus terkejut menutup wajahnya dan berteriak dan terduduk dilantai rumah,
“Astaga…! Ongo…! mati hak Mamak etam tu..Ngo… !,” teriak Ayus
Kemudian Ayus tersadar dan langsung berlari menuju kawah dan mengangkat ibunya sambil menangis, sementara Ongo hanya melongo heran dan tidak mengerti, tentang apa yang salah, padahal dia sudah melaksanakan tugasnya sesuai perintah Ayus.
Dalam kesedihan yang mendalam Ayus membaringkan jasad ibunya di tengah rumah dan berkata kepada Ongo,
“ Etam harus nguburkan Mamak ni Ngo, pegi ke desa sebelah, di balik hutan, jika betemu simpang jalan pergi awa ke kanan, awa nemukan desa tu, carilah orang laki tuha bersongkok putih , orang tua tu, tukang nyembahyangi orang meninggal , bawa Sida ke rumah Etam ,”
Tanpa bertanya Ongo langsung pergi melaksanakan perintah Ayus. Sepanjang perjalanan ke desa sebelah hutan, Ongo berbicara sendiri.
“kanan... kanan... kanan... kanan... kanan…,” sambil melompatkan kaki kanannya,berjalan dengan kaki kanan di depan.
Di tengah perjalanan Ongo bertemu burung Bangau, dan dia berpikir inilah orang yang berpeci putih itu, karena kepala Bangau berwarna putih. Maka Ongo menangkap burung Bangau itu. Sebenarnya Ongo tidak mengerti tentang peci putih maka dia mengira kepala bangau putih itu adalah peci. Ongopun kembali pulang kerumah sambil menggendong burung Bangau. Sesampai di rumah Ayus terkejut, mengapa Ongo cepat sekali kembali
“Mana orang tua bersongkok putih tu Ongo?,” Tanya Ayus
“Ini…! (Sambil mengangkat burung Bangau di tangannya)
“Astaga…!!! Ongo… itu burung Bangau !!!?,” teriak Ayus
“ini jua besongkok putih !?,”
Ayus merasa kesal kemudian dia berteriak,
“Pergi…. ! Balik ke hutan tu…! Awa cari tukang masak, jangan ndi ingat , pegi kearah kanan, karena Etam nda’ nyelamati Mamak. Biar aku aja mencari tukang baca doa tu.”
Maka Ongo pun pergi. Dengan melakukan hal yang sama.
“kanan... kanan... kanan... kanan... kanan…,” sambil melompatkan kaki kanannya,berjalan dengan kaki kanan di depan.
Seperti itu sepanjang perjalanan, sampai mendekati persimpangan jalan, dan tiba-tiba tanpa sengaja kakinya tersadung batu dan Ongo terjerebab jatuh dengan keras, kemudian dia terdiam, tertegun dan bingung. Akibat terjatuh Ongo lupa akan pesan Ayus tentang arah tujuan perjalanannya. Ongo kemudian menimbang-nimbang dengan telunjuknya arah kiri atau kanan
“kiri... kanan… kiri... kanan… kiri… kanan… hmmm mungkin kiri....”
Maka Ongo mulailah berjalan ke arah kiri melewati hutan lebat, tanpa terasa sampailah Ongo di depan sebuah pondok yang dihuni sepasang raksasa dengan kedua orang anaknya . Orang kampong menyebutnya Nek Puan Pergasi.
Di depan pondok Nek Puan Pergasi sedang duduk –duduk bersama istrinya. Nek Puan Pergasi adalah Hantu Hutan yang menyerupai raksasa dengan wajah yang beringas dengan kuku-kuku tangan yang panjang-panjang serta rambut acak-acakan dan sangat menyeramkan. Nek Puan Pergasi ini memiliki dua orang anak. Anak pertama bertugas memasak, dan selalu berada di dapur. Anak kedua bertugas memelihara ayam, dan dia selalu berada di kandang ayam.
Ketika melewati Pondok itu Ongo berpikir mungkin inilah tukang masak itu, maka Ongo menghampiri kedua Nek Puan Pergasi itu. Setelah mengucapkan salam Ongo pun duduk bersama kedua Nek Puan Pergasi itu dan Ongo bercerita tentang apa yang di perintahkan Ayus.
“Nek, kami nda ngadakan selamatan untuk Mamak kami yang sudah meninggal, kami nda nyembeleh seekor kerbau yang besar untuk dipolahkan masakan untuk makan tamu. Kakak saya Ayus nyuruh saya ncari tukang masak,”
Mendengar cerita Ongo tentang Kerbau besar, Nek Puan Pergasi menjadi girang tidak terkira. Pucuk dicinta ulam pun tiba, rejeki besar datang tak terduga, pikir Nek Puan Pergasi dan bersorak dalam hati.
“Oooooo ha ha ha… ndi’ usah awa cari kemana-mana, kami bedua ni, senang hati mun disuruh masak ,” kata Nek Puan Pergasi
“ ya kah Nek…?? Kebujuran hak tu… ayo Nek , umpat aku mulang,”
“ ayo Ngo… etam pergi ke kampong awa, ndi sabar kami nda masak kerbau tu ,” sambil tersenyum licik Nek Puan Pergasi menuntun tangan Ongo
Ongo dan Nek Puan Pergasi pergi ke Desa Ongo dengan segera. Dengan kekuatan mereka, hanya sekejap saja Ongo dan Nek Puan Pergasi sudah tiba di depan rumah yang sudah penuh dengan para tetangga yang melayat.
Setiba di depan rumah Ongo langsung berteriak kepada Ayus
“Ayus… Ayus!... aku datang!... dengan tukang masak tega’ awa suruh tu….!”
“Mana sida… Ongo…?”Tanya Ayus
“ tu…yang dua laki bini bediri hadapan rumah etam ni…” jawab Ongo, sambil
menunjuk kepada Nek Puan Pergasi yang sedang berdiri memperhatikan sekitar rumah Ongo.
Ketika Ayus melihat siapa yang dibawa Ongo, Ayus langsung berteriak sambil memegang kepalanya.
“Waduhhh…!!! Ongo...! itu Nek Puan Pergasi... Matiiii hak etam segalanya ni Ngo...!!! Sida bedua tu Raksasa Ngo…! Habis kerbau etam tu makan sida.”
Mendengar teriakkan Ayus, para tetangga langsung melihat ke halaman, ketika mereka melihat sepasang Nek Puan Pergasi, mereka langsung berteriak histeris sambil berlari kocar kacir ketakutan meninggalkan rumah Ayus dan Ongo. Sementara Ongo hanya melongo.
“ Apa lagi salahku ni…?,”pikir Ongo.
Adapun kedua Nek Puan Pergasi langsung menuju kerbau yang terikat di belakang rumah Ongo. Nek Puan Pergasi mencabik cabik kerbau dengan kuku cakarnya yang panjang-panjang dan runcing-runcing, mereka patah dengan mudah bagian keempat paha dan kaki kerbau, melahap isi perut kerbau itu dengan nikmatnya karena bagian ini adalah bagian yang ternikmat bagi para Raksasa. Sementara Ayus dan Ongo hanya diam melihat sambil bersembunyi di dalam rumah. Sedang asik makan, tiba-tiba Nek Puan Pergasi teringat dengan kedua anaknya di rumah, kemudian Nek Puan Pergasi mengambil 2 potong paha kerbau dan memanggil Ongo.
“Ongo... dimana awa Ngo…?!”
“ya... Nek Puan Pergasi… ada apa …?” jawab Ongo, sambil berjalan mendekati Nek Puan Pergasi.
“Pergi ke rumahku, bawa dua potok paha kerbau ni dan berikan ke anak-anakku, satu potok untuk anak pertamaku yang sedang memasak di dapur dan satu potok untuk anak keduaku yang sedang berada di kandang ayam,” perintah Nek Puan Pergasi.
“ya… Nek ,” kata Ongo, sambil mengambil 2 potong paha kerbau itu, kemudian
Ongopun pergi masuk hutan menuju rumah Nek Puan Pergasi dengan tangan kanan membawa sepotong paha kerbau dan sepotong paha lagi ditangan kirinya.
Sepanjang pejalanan menuju rumah Nek Puan Pergasi, Ongo berpikir keras dan merasa marah jika mengingat kerbau yang di cabik-cabik dan dimakan mentah-mentah oleh Nek Puan Pergasi. Ongo sangat marah, karena dia sudah membayang masakan kerbau yang lezat, ketika disuruh Ayus mencari tukang masak. Ongo sangat marah dan merasa dendam dengan Nek Puan Pergasi.
Sesampai di rumah Nek Puan Pergasi, rasa marah Ongo semakin menjadi-jadi ketika melihat kedua anak Nek Puan Pergasi. Ongo pergi ke dapur dilihatnya anak Nek Puan Pergasi sedang memasak maka diambil paha kerbau yang dibawanya kemudian dipukulkannya ke kepala anak Nek Puan Pergasi dan matilah anak Nek Puan Pergasi itu. Kemudian mayat anak Nek Puan Pergasi dibuatnya berdiri diikatnya di tiang tungku dapur sehingga seolah-olah anak Nek Puan Pergasi terlihat sedang memasak. Kemudian Ongo pergi ke kandang ayam. Maka Ongo melakukan hal yang sama pada anak kedua Nek Puan Pergasi seperti yang dilakukannya pada anak yang pertama. Dipukulnya kepala anak Nek Puan Pergasi dengan paha kerbau sampai mati, kemudian diikatnya anak Nek Puan Pergasi itu di kandang ayam dengan posisi jongkok, seolah terlihat sedang memberi makan ayam.
“Kita rasakan Nek Puan Pergasi…! Akibat berus dan tamak kita…. hmmmm… ni yang terjadi dengan kedua anak kita…,” kata Ongo dengan bersungut-sungut sambil memandang rumah Nek Puan Pergasi.
Ongo berjalan dengan cepat, kembali pulang ke kampungnya dengan menenteng 2 paha kerbau yang diambilnya kembali. Sesampai di rumahnya, Ongo langsung menemui Ayus dan bercerita tentang apa yang dilakukannya pada kedua anak Nek Puan Pergasi.
“Aduhhhhhh…!!! Ongoooo. Mati hak Etam ni, mun Nek Puan Pergasi tahu bahwa kedua anaknya sudah awa bunuh,” teriak Ayus sambil menutup wajah
dengan kedua tangannya.
“ Ayo… Ngo, cepat etam bepukung…!,” kata Ayus sambil menarik tangan Ongo untuk bersembunyi dibalik pintu kamar rumahnya.
Dari halaman belakang rumah Nek Puan Pergasi berteriak-teriak memanggil Ongo, dan Ongo hanya dapat menjawab dari tempat persembunyian mereka.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ongo…! “
“ya… Nek Puan Pergasi... saya dah mulang ni...!”
“Dah awa’ beri makan kedua anakku …?,”
“ya... ya… ya… sudah Nek Puan Pergasi… sudah...!,”
Ayus dan Ongo, mengintip dari balik jendela dan mereka melihat kerbau satu ekor tadi hanya tersisa dagingnya sebesar telapak tangan, semua habis dilahap kedua Nek Puan Pergasi. Ongo mulai lagi merasa marah ketika dia melihat daging kerbau yang tinggal sedikit. Tangannya mengepal dan gigi-giginya bergretek, wajahnya memerah. Ayus merasakan tentang kondisi adiknya, diapun memegang tangan Ongo dan mengusap-ngusap bahu adiknya dengan yangan yang lain. Tak lama kemudian terdengan suara teriakan Nek Puan Pergasi.
“Baiklah Ongo, kami akan pulan, ini kami sisakan daging untuk kalian berdua “ kata Nek Puan Pergasi tersenyum puas sambil berlalu pergi dengan mengusap-usap perutnya karena kekenyangan.
“Ayo Ongo, etam lari dan pegi bepukung, sebelum Nek Puan Pergasi sadar bahwa awa telah membunuh anak-anaknya, “ bisik Ayus
“ya… ya... ya…” kata Ongo, masih tetap dengan gayanya yang sama, menggigit kuku jari dan memiring-miringkan wajahnya.
Ongo dan Ayus pun berlari tanpa berhenti ke dalam hutan sampai mereka kelelahan, setelah merasa lelah berlari mereka bertemu dengan semak rumpun seperti bambu, berhentilah mereka dan bersembunyi di dalam semak rumpun itu.
Ayus : “Ayo Ongo, kita bersembunyi di sini, dan jika kamu mendengar Nek Puan Pergasi memanggilmu, janganlah kamu menyahut”.
Ongo : “ya…ya…ya… baiklah “
Sementara itu kedua Nek Puan Pergasi, sudah sampai di rumahnya, dan mereka berteriak-teriak kepada kedua anak mereka, tetapi mereka heran kenapa panggilan mereka tidak ditanggapi oleh kedua anaknya. Kedua Nek Puan Pergasi pergi ke dapur dan melihat anak seperti sedang memasak, tetapi ketika mereka mengguncang tubuhnya, anak itu tidak bernyawa, kedua Nek Puan Pergasi berteriak.
“Ongooooo!!!!, “ Teriak Nek Puan Pergasi dengan suara yang menggelegar keseluruh hutan.
Kemudian Kedua Nek Puan Pergasi berlari pergi ke kandang ayam dan melihat anak seperti sedang memberi makan ayam, tetapi ketika mereka mengguncang tubuhnya, anak itu tidak bernyawa juga, kedua Nek Puan Pergasi berteriak keras memanggil Ongo dengan teriakan yang lebih keras.
Ayus dan Ongo, mendengar suara tersebut, artinya mereka sudah mengetahui bahwa kedua Nek Puan Pergasi sudah menemukan anak-anaknya yang sudah mati. Dengan rasa sedih dan marah yang amat sangat kedua Nek Puan Pergasi berteriak dan berlari,
kearah kampung menuju rumah Ayus dan Ongo. Sesampainya mereka di rumah itu, mereka tidak mendapatkan Ayus dan Ongo di rumahnya. Nek Puan Pergasi akhirnya mengetahui bahwa Ayus dan Ongo sudah melarikan diri masuk hutan, karena kedua Nek Puan Pergasi melihat bekas telapak kaki mereka dan samar-samar mencium bau badan Ongo, mereka mengingat bau badan Ongo, karena Ongo pernah duduk bersama Nek Puan Pergasi di rumah mereka. Dengan ketajamanan penciumannya Nek Puan Pergasi ini mereka mengetahui ada binatang atau manusia yang mendekat sekitar rumah mereka dan jika lapar mereka akan memangsa binatang atau manusia itu. Dengan rasa murka Nek Puan Pergasi masuk hutan, mencari-cari kesana kemari, sambil beriak-teriak.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ngo...!!!,” teriak Nek Puan Pergasi berulang-ulang.
Nek Puan Pergasi Terus berjalan sambil menarik semak-semak yang menghalangi jalan mereka. Tidak terasa sampailah kedua Nek Puan Pergasi di semak rumpun dekat persembunyian Ayus dan Ongo, dan Nek Puan Pergasi berteriak lagi.
“Ongo…Ongo… dimana kamu Ngo….!!!”
Seperti yang kita ketahui bersama Ongo adalah orang yang bodoh dan gampang sekali lupa dan sangat polos. Ketika Nek Puan Pergasi memanggil dan langsung menjawab walaupun Ayus sudah menutup mulutnya dengan keras, tetapi Ongo tetap berteriak menjawab panggilan Nek Puan Pergasi.
“Ongo…Ongo… dimana kamu Ngo….!!!”
“Di sini … Nek Puan Pergasi …di dalam semak rumpun...! “ jawab Ongo.
Dengan segenap tenaga Nek Puan Pergasi menyibak-nyibak semak rumpun tempat Ayus dan Ongo bersembunyi dengan cakar tajam mereka. Ayus dan Ongo mendengar suara gemuruh mendekat, mereka berlari lagi dengan segenap tenaga mereka masuk lebih dalam lagi kedalam hutan. Ayus dan Ongo terus berlari, tanpa berhenti, terus saja berlari, sampai akhirnya mereka tiba di hutan lebat dengan pohon asam yang tinggi-tinggi dan berbuah lebat. Ayus dan Ongo berhenti di bawah pohon yang paling tinggi, paling besar dan berbuah paling lebat. Ayus mengajak Ongo untuk menaiki pohon asam tersebut dan bersembunyi dalam rimbun daun pohon asam itu.
“Ongo… berhenti… ayo kita naik dan bersembunyi di atas pohon asam yang rimbun ini!” ajak Ayus dengan terengah-engah.
“Ya… ya… ya… ayolah… ayolah,” jawab Ongo sambil naik dengan sigapnya. Sebenarnya kekuatan Ongo lebih besar dari kekuatan Ayus, jika terdesak Ongo dengan sepontan dapat memanfaatkan kekuatan dan pikirannya dengan baik.
Sesampai diatas pohon dan mereka masuk ke dalam rimbun daun dan buah yang lebat, Ayus dan Ongo bersembunyi. Sambil menunduk Ayus berkata pada Ongo.
“Ongo, Etam bepukung disini, jika awa’ mendengar Nek Puan Pergasi memanggil, jangan awa’ sahuti yo,“.
“ya…ya…ya hak leh, “ jawab Ongo sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Tidak terasa sampailah kedua Nek Puan Pergasi dekat pohon asam persembunyian Ayus dan Ongo.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ngo...!!!” teriak Nerk Puan Pergasi.
Lagi-lagi Ongo yang bodoh dan gampang sekali lupa langsung menjawab panggilan Nek Puan Pergasi walauupun Ayus sudah menutup mulutnya dengan keras.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ngo...!!!”
“Di sini… Nek Puan Pergasi… di atas pohon asam...!” jawab Ongo.
Lalu kedua Nek Puan Pergasi, melihat ke atas, kemudian keduanya mencoba berulang-ulang menaiki pohon asam tersebut, tetapi tidak berhasil karena badan Nek Puan Pergasi tersebut sangat besar dan gemuk. Baru sampai seperempat batang pohon tubuh mereka merosot, seperti itu berulang kali sampai akhirnya kedua Nek Puan Pergasi berteriak kepada Ongo.
“Ongo... O … Ongo, ga’mana caranya awa’ naik sampai ke atas pohon ni… Ngo...?!”
Mendengar itu, Ayus berbisik pada Ongo.
“ Padahi ngan Nek Puan Pergasi Ngo, sida bisa naik pohon ini dengan dulu burit. Kepala kita kebawah, burit kita ke atas. Mun dah etam teba’I burit sida dengan buah asam ni.”
Mendengar penjelasan Ayus itu, Ongo mengangguk tanda mengerti. Kemudian terdengar Nek Puan Pergasi berteriak lagi.
“Ongo... O … Ongo… ga’mana caranya awa’ naik sampai ke atas pohon ni… Ngo...?!”
“naik pohon ini dengan dulu burit. Kepala kita kebawah, burit kita ke atas, Nek Puan Pergasi… yo’ cobia hak…!!!” teriak Ayus dan Ongo dengan menahan tawa melihat tingkah polah kedua Nek Puan Pergasi di bawah pohon.
Kedua Nek Puan Pergasi, mengikuti perintah Ongo, ketika keduanya menungging dengan pantat kearah atas, dan mereka mencoba naik. Dengan susah payah Nek Puan Pergasi sudah berhasil menaiki setengah batang pohon. Melihat kondisi itu Ayus segera melempar buah-buah asam tersebut ke arah lubang pantat Kedua Nek Puan Pergasi. Ongo melihat apa yang dilakukan Ayus dan menirunya dengan senang, mereka tertawa gembira. Ongo membayangkan seperti main perang-perangan.
Kedua Nek Puan Pergasi, kewalahan dan tak dapat menahan berat buah asam yang banyak didalam pantat mereka, dan kemudian kerena berat mereka merosot kembali ke tanah. Melihat hal itu Ayus dan Ongo segera turun dan berlari kembali dengan sekuat tenaga kearah sungai. Sementara Nek Puan Pergasi sibuk mengeluarkan buah-buah asam dari pantatnya.
Sesampai di pinggir sungai Ayus dan Ongo merasa kehausan, dan mereka minum sepuasnya. Kemudian mereka melihat ada pohon tinggi besar yang batang menjorok ke sungai, maka Ayus mengajak Ongo untuk menaiki pohon itu dan duduk bersembunyi di batang yang menjorok keatas sungai. Ayus dan Ongo mengatur posisi tubuh mereka dengan arahan Ayus. Ayus dan Ongo tiarap diatas pohon dengan kepala menyebul keluar sehingga bayangan wajah mereka memantul diatas sungai. Seolah-olah Ayus dan Ongo berada di dasar sungai. Ayus berkata pada Ongo.
“Ongo… ndia mun Nek Puan Pergasi datang dan bertanya, tega’ biasa…, awa bisa ada didasar sungai, suruh sida ngala’ gentong yang sudah beisi batu dan ikatkan keleher sida.”
“ya... ya… ya... Ayus…baik…baik…aku mengerti” kata Ongo sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
Sementara Kedua Nek Puan Pergasi kembali mengejar Ayus dan Ongo setelah membuang buah asam yang menggandul penuh dalam pantat mereka, sambil berteriak-teriak memanggil-manggil dan mengendus-endus bau tubuh Ongo. Tidak terasa sampailah kedua Nek Puan Pergasi di sekitar sungai dekat tempat persembunyian Ayus dan Ongo.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ngo...!!!”
Kali ini Ongo yang bodoh secara ajaib tidak lupa pada apa yang diajarkan Ayus beberapa waktu yang lalu sebelum Nek Puan Pergasi tiba di tepi sungai. Ketika Nek Puan Pergasi memanggil dan langsung berteriak dengan keras menjawab panggilan Nek Puan Pergasi.
“Di sini Nek Puan Pergasi… kami disini Nek… Kami di dasar sungai...!”
“Apa !!!, ga’mana cara awa bisa di dasar sungai…?? “ tanya Nek Puan Pergasi sambil matanya mencari dan melihat kearah permukaan sungai.
Ongo pun mengeluarkan kepalanya dari pohon dan bayangannya memantul di permukaan sungai. Kedua Nek Puan Pergasi, tiba-tiba melihat bayangan kepala Ongo di permukaan sungai tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“ini aku, Nek Puan Pergasi…!” teriak Ongo sambil melambaikan tangannya.
Melihat itu, Nek Puan Pergasi Melongo dan menggumam, kemudian bertanya pada Ongo.
“Hmmm Ongo… Ongo…. Padahi ga’mana caranya awa bisa berada di dasar sungai ni ??”
“gampang… gampang… Nek Puan Pergasi… ha ha ha…” Ongo tertawa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan berkata pada Nek Puan Pergasi.
“ Padahi ku cepa Ongo… cepat… cepat…!” teriak Nek Puan Pergasi dengan rasa Gusar dan tidak Sabar.
“Kita alak gentong air yang besar, isi penoh dengan batu, beri tali, gantungkan ke leher kita bedua, terus tu, terjun hak kita ke sungai ni!!” teriak Ongo.
“Nahhhh… pasti...cepat sampai kita kedasar sungai ini” kata Ongo lagi, kemudian Ongo menutup mulutnya menahan tawa.
“Baiklah kami nda’ mulang ke rumah, ngala gentong dan mengisinya dengan batu terus kami memberi tali dan mengikatnya ke leher, terus tu kami akan terjun pegi ke awa,” kata Nek Puan Pergasi.
“Baik hak tu nek, kami ndi’ sabar nunggu kita disini, ” kata Ayus dan Ongo bersamaan.
Maka dengan kekuatannya kedua Nek Puan Pergasi dengan sekejap pergi pulang ke pondok mereka di tengah hutan dan melakukan apa yang dianjurkan Ongo. Setelah selesai semua dengan tergopoh-gopoh karena beban berat dileher, akhirnya Kedua Nek Puan Pergasi tiba di tepi sungai dan berteriak mencari Ongo.
“Ongo… Ongo… dimana awa’ Ngo….?!!!”
“Di sini …!!! Nek Puan Pergasi. Kami disini Nek... Kami di dasar sungai...!” Teriak Ongo, sambil menjulurkan kepalanya dari batang pohon diatas sungai, sambil melabai-lambaikan tangannya.
Kedua Nek Puan Pergasi melihat Ongo seperti itu, tambah geram dan tidak sabar, mereka teringat anak mereka yang dibunuh Ongo.
“Ongo...!!! hari ni Awa’ ndi’ bisa lari lagi, akan kami makan Awa’ berdua dengan kakak Awa’ tu, untuk makan malam kami yang paling nyaman,” gerutu Nek Ouan Pergasi dalam hati, sambil tertawa menggelegar kedua Nek Puan Pergasi terjun kesungai.
“Ongo…!!!” teriak mereka.
“Nek Puan Pergasi…!!! ha ha ha…!!!” seru Ongo dan Ayus sambil tertawa dan melambaikan tangan.
Di dasar sungai Kedau Nek Puan Pergasi, meronta-ronta, dan megap-megap karena tersedak air yang masuk ke kerongkongan mereka. Keduanya tidak dapat melepaskan ikatan gentong pada leher mereka sehingga akhirnya kedua Nek Puan Pergasi lemas kehabisan napas dan mati di dasar sungai.
Ayus dan Ongo menunggu beberapa waktu, setelah mereka yakin Kedua Nek Puan Pergasi itu sudah mati lemas di dasar sungai. Maka turunlah mereka dari pohon besar itu. Dengan rasa lega berjalan pulang ke pondok mereka di pinggir hutan. Setiba di pondoknya mereka berjumpa kepala kampung yang mengabarkan bahwa orang kampung sudah menguburkan jasad ibu Ayus dan Ongo dengan tenang, ketika Ayus dan Ongo berjuang melawan kemarahan kedua Nek Puan Pergasi. Dan sekarang kampung mereka aman dari rasa takut pada Nek Puan Pergasi yang Jahat dan Ganas. Kebodohan dan keserakahan hanya akan membawa petaka bagi mahluk Tuhan yang bernyawa.