Jika kita menyusuri hulu Sungai Mahakam, maka kita akan bertemu dengan sebuah pulau pasir batu atau karangan di tengah sungai. Hanya saja karangan ini muncul di saat musim kemarau, ketika air sungai surut. Menurut cerita masyarakat dayak yang tinggal di Kampung Long Daliq, di perut karangan pasir batu ini terkubur emas sebesar payau yang menurut cerita dulu ada seekor Payau jantan yang dikutuk oleh dewa karena telah melanggar janji untuk tidak memakan lombok emas tanaman kesayangan para dewa.
Dituturkan bahwa pada suatu hari ketika para dewa hendak naik ke kayangan, mereka menitipkan kebun kepada payau jantan. Payau ini boleh memakan buah-buahan yang ditanam para dewa, hanya saja tidak boleh memakan lombok emas. Karena lombok emas ini santapan para dewa yang tidak boleh disantap selain dewa.
Awalnya payau jantan dengan tanduk bercabang tiga ini mematuhi perintah para dewa. Ketika perutnya lapar ia memakan labu, kemudian belimbing, lalu tebu, bayam, dan timun muda. setelah merasa kenyang, payau jantan itu lalu baring di bawah pohon rindang. Tiupan angin semilir membuat kedua matanya mulai terpejam dan kantuknya mulai datang. Seekor lalat besar hinggap di bulu matanya. Payau jantan itu lalu mengerakkan kepala mengusir lalat yang terus hinggap di bulu mata. Payau Jantan membuka mata, seketika silau oleh pantulan sinar matahari yang jatuh menerpa lombok emas.
Kantuk pun hilang, kini timbul keinginan untuk menyantap lombok emas, ingin merasakan kelezatan lombok yang begitu menarik perhatiannya. Warna keemasan yang bersinar kuning menawan. Tapi segera diurungkan keinginannya. Ia ingat pesan dari para dewa. Amanat ini harus dilaksanakan. Dipalingkan wajah ke arah lain dan mencoba kembali tidur. Tetapi godaan untuk menikmati lombok emas itu semakin kuat.
“Ah, aku makan satu saja. toh buahnya ratusan. Mereka tidak akan tahu.” batin Payau jantan yang segera berdiri dan berjalan menuju lombok emas. Dengan penuh kehati-hatian lidahnya meraih tangkai lombok emas dan memasukkan ke dalam mulutnya. Perlahan dikunyah lombok emas dengan penuh perasaan. Matanya terpejam merasakan sensasi rasa yang begitu enak tiada tara. Belum pernah ia merasakan kelezatan seperti kali ini. Perpaduan antara rasa manis, asam, asin, sedikit kelat dan tentunya bau harum menyegarkan semakin menguatkan kelezatannya.
“Sungguh lezat sekali. Tambah satu lagi ah, buahnya sangat banyak dan tidak akan ketahuan jika aku mengambil satu lagi”. Maka dipetik lagi satu biji lombok emas, Kemudian satu lagi, lagi, lagi dan lagi sampai batang lombok berdiri kaku menyisakan lembaran daun hijau. Tak satupun tersisa lombok emas, semuanya lenyap masuk tersimpan di perut payau jantan yang kini tampak semakin tambun menggelantung.
Awalnya payau jantan tidak merasakan apa-apa selain rasa kenyang, tetapi lambat laun dirasakannya pedas mulai membakar mulutnya, lalu tenggorokannya terus menjalar sampai ke usus, perutnya terasa mulas dan sakit yang tak terhingga. Si Payau jantan panik, tubuhnya kini terasa terbakar. Ia lalu lari ke tepi sungai, moncongnya dicelupkannya kedalam air lalu meneguk air sebanyak-banyaknya. Pedas dan panas yang teramat sangat ini bukannya mereda, namun menjadi semakin pedas membakar mulutnya. Payau jantan kemudian menceburkan tubuhnya ke sungai, berharap panas yang terasa membakar tubuhnya akan berkurang. Namun apa hendak dikata, air sungai yang dingin ternyata tak juga mampu menurunkan panas yang membakar tubuhnya. Payau jantan menyelam dengan gelonjotan. Kakinya menjejag-jejag dasar sungai menyebabkan air menjadi keruh. Ia naik ke atas pulau lalu moncongnya diserudukkan ke pasir lalu lari berputar-putar tanpa arah dan tak lama kemudian, Payau jantan itu roboh lalu mati dengan mulut berbusa. Keajaiban pun terjadi pada bangkai Payau yang berubah menjadi emas dan seiring waktu berjalan Payau emas itu terkubur di tengah karangan.
Itulah dongeng Payau emas yang terkubur di karangan. Anehnya dongeng ini pemali untuk diceritakan. Cerita Payau emas ini seakan terkubur di pasir batu karangan. Walau anak-anak merengek pada kakek dan nenek untuk bercerita dongeng tentang ini, selalu saja berdalih dan mereka mengalihkan pada dongeng yang lain.
Hari berlalu. Tepi Sungai Mahakam yang dulunya tak berpenghuni kini dimukimi oleh orang-orang pendatang dan berdiam di sepanjang di tepi Sungai. Kampung itu dinamakan Long Daliq yang dihuni oleh suku dayak Bahau.
Pada suatu malam, usai pesta bepelas kampung. Diantara sadar dan mabuk akibat minum tuak terlalu banyak. Kakek Luwing yang malam itu sedang dikerubuti cucu-cucunya, memulai cerita pertarungan antara dia menghadapi seekor babi besar.
“Bosan Kek! cerita kakek berkelahi dengan babi hutan sudah belasan kali diceritakan.” ucap Bang protes pada Kakek Luwing.
“Cerita Payau emas saja Kek”, bujuk Kuleh sembari memijat bahu Kakek Luwing, “Nanti kami pijat tubuh kakek dari kaki sampai kepala”. lanjut Kuleh lagi yang memijit dengan keras bahu Kakek Luwing yang kemudian diikuti oleh anak-anak lainnya.
“Benar ya, kalian pijit tubuh Kakek”. Ucap Kakek Luwing memastikan tawaran cucu-cucunya sembari merasakan pijitan cucu-cucunya.
Maka malam itu meluncurlah cerita payau emas dari mulut Kakek Luwing yang disimak cucu-cucunya dengan sangat antusias. Cerita terlarang itu malam itu terkuak, keluar dari mulut Kakek Luwing yang bau tuak dan bagaikan ada bintang-bintang terbang berkeliling di atas kepalanya yang tengah mabuk tuak.
Entah karena telah melanggar tuhing, karena semalam telah menceritakan dongeng terlarang, malam itu usai badannya dipijat Kuleh, Kakek Lawing turun ke jamban karena perutnya mules. Mungkin karena kesadarannya belum begitu pulih, kakinya salah menginjak tangga behek dan dia terjatuh, akibatnya pergelangan kaki terkilir dan harus menggunakan tongkat penyangga.
Lain lagi dengan Kuleh, cerita semalam begitu membekas dan tersimpan erat di kepalanya. Dan seperti yang dikhawatirkan para tetua kampung jika dongeng payau emas ini pemali untuk diceritakan terutama pada anak-anak. Ditakutkan dongeng ini mereka percayai dan suatu saat mencoba untuk membuktikan kebenaran ceita ini. Apakah memang benar ada emas sebesar payau terkubur di tengah karangan?
Kampung Long Daliq dihuni oleh suku Dayak Bahau. Mereka tinggal di lamin panjang bertiang tinggi, berlantaikan papan tebal dengan dinding terbuat dari kulit kayu, beratap daun yang melindungi mereka dari serangan binatang buas juga hujan dan terik matahari. Di halaman sebelah kanan lamin, terdapat lumbung padi yang menjadi tempat penyimpanan padi hasil penen. Di tengah lapangan depan lamin, berdiri Tiang Blontang berukir-ukiran dimana puncaknya bertengger seekor burung enggang dengan kedua sayap membentang menghadap ke arah sungai Mahakam.
Musim kemarau di bulan Agustus terasa begitu menyengat. Rerumputan di depan lamin telah menguning. Kampung tampak lenggang, hanya sisakan induk ayam dan anak-anaknya, mengais tanah di bawah lamin. Kampung sepi ditinggal orang-orang yang sedang menunggal di ladang Kakek Abing.
Sementara itu di ladang Kakek Abing terdengar tetabuhan gong dan petikan sape mengiringi langkah penari Hudoq. Para penari Hudoq menggunakan topeng dengan ukiran binatang sebagi salah satu ritual mengusir roh jahat maupun hama sekaligus hasil panennya bisa melimpah. Panas matahari tak menyurutkan semangat dan kegembiraan orang-orang menari di atas tanah hitam. Abu berterbangan tersapu kaki-kaki hitam. Nyanyian keluar dari mulut-mulut gadis cantik yang menebar benih padi mengiringi langkah kaki pemuda yang berjalan didepannya sambil membuat lubang di tanah dengan tongkat panjang.
Esok hari orang-orang akan berpindah ke ladang Petinggi Lung dan selanjutnya akan berpindah ke ladang yang lainnya. Gotong royong ini pun nantinya berlanjut sampai saat mengetam padi, hanya saja tidak diikuti dengan acara tarian Hudoq.
Kemeriahan musim menugal sepertinya tak sampai menyentuh Kuleh. Kerjanya seharian hanya melamun dan berbaring malas-malasan di bawah pohon asam di depan lamin. Mulutnya menggigit ujung rumput muda. Kuleh bangun dan menguap dengan lebar. Pandangnya mengarah ke kersik di tengah sungai, lalu menelusuri pulau kerikil dari ujung hulu sampai ujung hilir. Seakan mencari sesuatu yang terpendam di perut karangan.
“Dimana kira-kira emas sebesar payau itu terpendam?” tanyanya dalam hati. “Di ujung atau di tengah? atau terkubur di hilir karangan?” Kuleh terus berpikir mengira-ngira dimana emas sebesar payau itu terkubur.
Cerita tentang adanya emas sebesar payau terpendam di tengah karangan adalah sebuah dongeng terlarang untuk diceritakan. Kisah tentang emas sebesar payau ini ada yang mempercayainya, ada pula yang tidak. Mereka menganggap ini hanya cerita pengantar tidur. Kebiasaan nenek-kakek yang mendongeng pada cucu-cucunya dikala malam menjelang tidur.
Namun Kuleh, salah satu yang mempercayai akan keberadaan cerita ini. Keinginannya untuk mencari sudah diutarakan pada teman-temannya tapi, tak seorang pun yang mengindahkan. Bahkan kini niat Kuleh mencari emas sebesar payau itu menjadi bahan olok-olokan. Kuleh tetap keukeuh dengan keyakinannya.
“Sekarang, katakanlah cerita itu benar. Dimana kamu menggalinya? Karangan pasir batu sepanjang 200meter itu mau kamu gali? itu tidaklah mudah dan berbahaya”, lanjut Bayau. “Pulau pasir itu sangat labil. sekalipun kamu menggalinya di musim kemarau, pasir batu karangan itu mudah runtuh”. lanjut Bayau mengemukakan pendapatnya.
“Benar kata Bayau, Leh. Berbahaya menggali di karangan itu.” Tambah Bang menguatkan pendapat Bayau. “Lebih baik kamu mendulang pasir emas di hulu. itu sudah pasti hasilnya”. lanjut Bang membujuk Kuleh. Mereka tahu mendulang pasir emas di hulu Long Daliq di Muara Sungai Kelian lebih nyata karena banyak diantara mereka yang mendulang emas di sana.
“Mendulang emas di Kelian hanya mendapat butiran pasir. Ini didepan mata... emas sebesar payau terkubur dengan damai dari dulu sampai sekarang tak seorangpun mau menggalinya. Aku yang akan menggali dan menemukannya”. tekad Kuleh dengan suara tegas.
Bang dan Bayau hanya bisa tertawa melihat tekad kawannya ini. Kuleh yang dikenal dikampung sebagai seorang pemuda pemalas, Jika yang lainnya ramai menugal atau mengetam di ladang, dia seharian hanya baring bermalas-malasan di bawah pohon Ramania yang rindang. Walau ada kelebihan yang dimiliki Kuleh yang pandai memetik sape. Dia menjadi seorang bintang saat acara adat di kampung. Baik saat pesta pelas kampung maupun acara kesenian usai panen.
Dari kepandaiannya memainkan dawai sape inilah yang membuat Buring, si gadis jelita jatuh cinta padanya. Sudah tak terhitung berapa banyak purnama, keduanya menjalin hubungan yang nantinya akan berlanjut ke jenjang pernikahan usai panen tahun ini.
Dan inilah yang membuat risau Kuleh karena desakan Buring yang harus dia siapkan untuk biaya acara perkawinan mereka kelak.
“Kalau emas sebesar payau itu kutemukan, maka biaya untuk perkawinan bisa diselesaikan”. batin Kuleh yakin untuk mencari emas yang terkubur dikarangan sekaligus untuk membuktikan pada orang-orang kampung yang selama ini mencemooh dirinya.
Keesokan harinya. ketika kabut masih menyelimuti sungai Mahakam yang kini jauh menjorok ke dasar sungai. Di tengah karangan, tampak berdiri seorang lelaki sembari membawa sepotong bambu panjang yang lalu kemudian ditancapkannya di atas pasir berbatu.
“Bruk…brukkk…brukk…”
Terdengar suara benda keras menghantam pasir berbatu. Sinar matahari pagi dengan sempurna menyinari bumi. Detik demi detik berlalu, matahari telah sampai di puncak hari. Keringat berbulir-bulir meleleh membasahi tubuh Kuleh. Kulitnya yang kuning kepucat-pucatan kini berubah merah bak kepiting rebus. Teriknya matahari dimusim kemarau seakan tak dirasakan. Hanya ada satu tekad yakni, emas sebesar payau itu harus ditemukan.
Hari-hari berlalu. Kuleh masih asik membuat lubang di atas pulau pasir berbatu. Belasan lubang berserakan. Orang-orang kampung sudah datang dari ladang. Keesokkannya, mereka akan pergi lagi meninggalkan kampung menuju ladang-ladang di tengah hutan untuk membersihkan gulma dan rerumputan yang mengganggu tanaman padi mereka.
Olok-olok serta cemoohan orang-orang kampung tak dihiraukan Kuleh. Bahkan anak-anak kecil ikut-ikutan menggali lubang. Kuleh asik dengan mimpinya. Mimpi untuk mendapatkan emas sebesar payau.
Awan di langit telah berubah warna menjadi abu-abu kehitaman dan tak lama lagi akan menumpahkan isinya. Sesekali terdengar suara guntur menggelegar. Musim penghujan mulai tiba, satu dua titik rintik hujan mulai turun. Kuleh terus menggali di dalam lubang, tak menghiraukan hujan yang sewaktu-waktu turun. Pikirannya hanya tertuju pada emas sebesar payau yang harus didapatkannya.
“Kuleh… ayo lekas naik! di hulu, hujan sudah mulai turun.” Dari atas jamban, Nek Buring meneriaki Kuleh yang berada di dalam lubang. Wajah wanita tua itu tampak cemas memandang ke arah hulu sungai yang tampak gelap tertutup awan hitam. Nek Buring berkali-kali meneriaki Kuleh untuk keluar dari dalam lubang. Wanita tua itu tahu bahaya yang akan datang. Hujan deras di hulu tentunya akan segera menenggelamkan karangan.
Di dalam lubang, Kuleh terus menggali. Memasukan pasir dan batu kerikil ke dalam lanjung. tak dihiraukannya teriakan sang nenek. Dia tahu ini kesempatan terakhirnya. Jika kali ini tidak ditemukan apa yang dicari, maka pupuslah sudah harapannya.
“Kali ini harus berhasil. Sekarang berlomba dengan waktu. Berlomba dengan air dari hulu sungai yang akan menenggelamkan pulau ini”, batin Kuleh menguatkan tekadnya.
Nenek Buring yang semakin cemas kemudian berjalan dengan cepat menuju ke rumah Petinggi Lung.
“Lung…! Lung!” teriak Nek Buring dengan nafas terengah-engah.
Petinggi Lung muncul dan memandang Nek Buring yang berdiri di bawah rumah.
“Ada apa Mak? Mengapa wajahmu tampak panik?” tanya Petinggi Lung di depan pintu rumah yang kemudian turun meniti tangga behek.
“Lihat! hujan yang mulai turun di hulu sungai. Kuteriaki Kuleh untuk naik dari lubang di karangan, tapi tak dihiraukannya. Dia masih saja mencari emas di dalam lubang”. Kata Nek Buring dengan wajah cemas.
Petinggi Lung segera menuju ke tepi sungai dan turun ke batang.
“Kuleh… ayo naik!” Teriak Petinggi Lung nyaring dengan kedua telapak tangan membentuk corong menempel di mulutnya.
Berulang-ulang Petinggi Lung berteriak memanggil Kuleh, namun Kuleh yang diserunya tidak juga muncul dari dalam lubang. Petinggi Lung melangkah menuju ke gubang yang ditambat di belakang jamban. Perahu kecil yang terbuat dari tunas pohon dikayuhnya ketengah menuju karangan. Wajah lelaki tua itu tampak kesal, dengan cepat kakinya melangkah di atas pasir berbatu kerikil menuju lubang yang teronggok pasir basah ditepinya.
Langit semakin gelap. Suara guntur yang menggelegar dan kilat di arah hulu semakin kerap. Petinggi Lung melongok ke dalam lubang. Dilihatnya Kuleh meraup pasir dan batu dengan batok kelapa dan memasukkannya kedalam lanjung.
“Kuleh! Cepat kamu naik! Lihat ..., hujan sebentar lagi turun. Karangan ini akan tenggelam.” Teriak Petinggi Lung tak dihiraukannya, terus saja asik mengais pasir dan memasukkannya ke dalam lanjung.
Akhirnya dengan bantuan beberapa orang kampung, Kuleh dipaksa naik walau ia meronta-ronta dan memberontak. Karena Kuleh terus saja mengamuk, maka Petinggi Lung langsung mengikat tubuh Kuleh menggunakan tali kulit kayu hingga ia tak bisa bergerak. Hanya matanya saja yang liar penuh kemarahan.
Mereka tiba dirumah dan setelah itu hujan mulai turun dengan derasnya. Nenek Buring menepuk-nepuk dada sambil menghembuskan nafas lega. Terbayang dimatanya andai Kuleh tak segera dikeluarkan dari lubang di tengah karangan. Sementara dari arah hulu sungai terdengar gemuruh air yang akan menenggelamkan pulau pasir itu.
Malam harinya para sesepuh kampung dipimpin oleh Petinggi Lung membuat aturan larangan mencari atau mendulang emas di karangan. Jika ada masyarakat kampung yang melanggar larangan ini dikenakan hukuman denda adat.
Kini, kondisi Kuleh hilang ingatan. Gagal lah sudah mempersunting Buring, gadis jelita.
Cerita tentang Payau emas yang terkubur di karangan tengah sungai Mahakam di Kampung Long Daliq, lambat laun dilupakan orang. Kebenaran cerita ada emas sebesar payau itu sampai saat ini tidak terbukti. Namun, jika dicermati ternyata dongeng payau emas ini benar adanya.
Walau bukan emas payau emas sebenarnya seperti cerita, melainkan batu kerikil yang terhampar di karangan itu mempunyai nilai jual cukup tinggi, bahkan nilainya jika dirupiahkan melebihi nilai seekor payau emas. Mudah-mudahan saja sumber daya alam berupa batu kerikil ini dapat menyejahterakan kehidup masyarakat Long Daliq.