Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Serangan Kereme di Tanah Muara Kaman
Sinopsis Kisah Ketenangan Kerajaan Muara Kaman seketika hancur lebur saat ribuan cacing raksasa, atau yang dikenal sebagai kereme, tiba-tiba menyerang dan menginvasi rumah-rumah penduduk hingga ke istana. Serangan membabi buta yang mengancam nyawa ini ternyata bermula dari sebuah rahasia kelam di dapur istana, di mana sang Putri tanpa sadar telah menyantap daging raja kereme yang disajikan sebagai hidangan lezat. Di tengah kekacauan dan keputusasaan rakyat yang terpaksa mengungsi, mampukah Putri Agung Bedarah Putih menemukan cara untuk menghentikan murka pasukan cacing raksasa sebelum kerajaan mereka benar-benar musnah?

Cerita Lengkap

Kerajaan Muara Kaman dipimpin oleh seorang raja bernama Aji Agur dengan permaisurinya bernama Pagela. Kehidupan kerajaan cukup Makmur, rakyatnya hidup berkecukupan pangan dan sandang. Mereka memiliki kehidupan yang tentram dan aman.

Sampai suatu hari kedamaian kerajaan terganggu dengan riuh teriakan para rakyatnya. “Aaa…!”

Mereka terkejut melihat kedatangan ribuan kereme dari berbagai penjuru. Beberapa di antara mereka lari tunggang langgang memasuki rumah. Beberapa lagi berusaha menyelamatkan harta benda dan keluarga sebelum menutup pintu dengan rapat.

Para pasukan kereme mulai menaiki tiang-tiang rumah. Mereka juga berusaha memasuki istana kerajaan. Para rakyat merasa jijik dan geli, namun tetap berusaha melakukan segala cara agar pasukan kereme tidak memasuki rumah mereka.

Dengan tombak dan pedang, rakyat dan pasukan kerajaan menusuk dan menebas para kereme. Beberapa menggunakan sapu dan kayu, menyingkirkan kereme yang sudah berhasil masuk ke dalam rumah.

Serangan semakin brutal. Beberapa kereme memasuki alat vital. Hal tersebut menyebabkan kematian. Para rakyat pun mulai ketakutan.

Putri Agung Bedarah Putih yang merupakan keturunan raja segera memberikan titah kepada rakyatnya.

“Cepat, pindah ke atas rakit!”

Putri Agung berharap rakyatnya bisa menghindari kereme yang datang semakin banyak.

Serangan para kereme bukanlah tanpa alasan. Mereka murka. Kemurkaan tersebut didasari atas kematian raja mereka.

Penyebab ini semua dimulai ketika suatu hari Putri Agung menyantap makan siangnya. Salah satu menunya adalah sambal goreng.

“Apa campuran sambal goreng ini, Babu Ayu?” tanya Putri Agung.

“Sambal goreng ini dari perut manok, Putri,” jawab Babu Ayu.

“Hm. Sungguh nikmat sekali. Besok buatkan lagi sambal goreng semacam ini,” titah Putri Agung.

“Baik, Putri,” sahut Babu Ayu.

Ia memandang wajah Putri Agung dengan heran, tak menyangka sang Putri menyukai makanan tersebut.

Keesokan harinya Babu Ayu bekerja seperti biasa. Ia pergi ke tepi sungai untuk membersihkan perut manok.

Pung. Tiba-tiba perut manok tersebut jatuh ke dalam air, langsung disambar dan dimakan habis oleh jukut yang berkeliaran.

“Aduh, bagaimana ini?” Babu Ayu mulai kebingungan.

“Bagaimana ia bisa menghidangkan sambal goreng yang Putri Agung inginkan jika tidak ada perut manok yang bisa ia masak,” pikirnya.

Ia mulai menggigil ketakutan akan hukuman yang akan didapatkan jika ia tidak melaksanakan titah sang Putri.

“Apa yang harus aku lakukan?” Babu Ayu mulai berpikir untuk mencari pengganti perut manok tersebut.

“Ah!” Semenit kemudian, ia mendapatkan ide.

Dengan senyuman di wajahnya, ia pergi mencari kereme. Ia merasa bisa mengelabui Putri Agung karena perut manok dan kereme hampir sama bentuknya.

Tak butuh waktu lama bagi Babu Ayu menemukan kereme. Cukup dengan beberapa kali menggali tanah, ia menemukan dua ekor kereme yang besar dan panjang.

“Beruntung sekali aku hari ini,” katanya.

Ia pun memotong-motong kereme tersebut dengan hati-hati. Kemudian mencucinya dan membawanya pulang untuk segera dibuat sambal goreng.

Begitu sampai, Babu Ayu mengupas bawang, memotong cabai, dan menghaluskan bumbu. Ia kemudian menyiapkan rempah-rempah yang akan digunakannya untuk menambah rasa dalam masakannya. Selanjutnya, ia mulai menggoreng potongan kereme hingga kering.

Setelah semua bahan siap, Babu Ayu mulai memasak sambal goreng dengan menumis bumbu halus terlebih dahulu. Ia kemudian menambahkan rempah-rempah dan terakhir mencampurkan gorengan kereme.

Setelah beberapa lama maka jadilah menu makan siang yang diinginkan sang Putri. Babu Ayu kemudian menyajikannya di ruang makan dan bermaksud memanggil Putri Agung.

Aroma masakan menyebar ke seluruh ruang kerajaan, menelisik masuk ke dalam indra penciuman. Para pekerja mulai menghentikan segala aktifitasnya, mengikuti keinginan perut mereka yang mulai berisik menagih sesuatu untuk disantap.

Begitu pula sang Putri yang tanpa sengaja melewati ruang makan, berhenti karena mencium aroma wangi yang membuat perutnya bernyanyi. Wajahnya semakin berseri begitu mendapati sambal goreng yang sudah disiapkan Babu Ayu. Ia menyantap makanannya kali ini dengan sangat lahap.

“Wah, enak sekali masakanmu hari ini, Babu Ayu,” pujinya.

“Terima kasih, Tuanku Putri Agung,” kata Babu Ayu sembari tersenyum senang.

“Apa campuran sambal gorengmu hari ini, Babu Ayu?” tanya Putri Agung penasaran.

Ia begitu menyukai sepiring sambal goreng yang habis ia makan sendiri itu.

“Tidak ada yang baru, Putri. Campuran seperti biasa saja,” jawabnya.

“Kalau begitu, besok buatkan lagi sambal goreng seperti ini,” ujar Putri Agung.

“Baik, Putri.”

Babu Ayu mulai gelisah.

Beberapa kali Babu Ayu menghidangkan sambal goreng sebagai santapan makan siang Putri Agung, dan setiap kali itu pula bahan yang ia gunakan adalah daging kereme.

Namun sekarang ia mulai merasa kesulitan menemukan kereme yang besar. Selain itu, tanpa ia sadari bahwa kereme yang ia temukan bukanlah cacing sembarangan.

Rupanya salah satunya adalah raja kereme. Seluruh kereme marah karena raja mereka telah dibunuh oleh bangsa manusia. Segera setelahnya mereka berencana untuk melakukan pembalasan, tidak hanya kepada Babu Ayu dan Putri Agung Bedarah Putih, tetapi juga kepada seluruh rakyat.

Setelah rencana balas dendam mereka buat dengan matang, pasukan kereme mulai mengelilingi wilayah kerajaan dari segala penjuru. Serangan yang mereka lakukan membuat para rakyat berdiam di atas rakit atas perintah sang Putri. Namun para pasukan kereme tidak menyerah. Mereka terus menyerang dengan mulai meniti tali-tali rakit.

Melihat hal tersebut, para rakyat mulai kembali gusar. Mereka berusaha menjatuhkan pasukan kereme dengan menggoyang-goyangkan tali rakit. Hal itu membuat rakit mereka juga ikut bergoyang, sehingga menyebabkan beberapa teriakan rakyat kembali menggaung di udara.

Putri Agung Bedarah Putih kebingungan melihat betapa hebatnya serangan tersebut.

“Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan rakyatku?” pikirnya.

Hingga akhirnya Putri Agung meminta pertolongan kepada Sangyang.

“Wahai Sangyang, jika memang benar aku ini titisan para raja, maka berilah rakyat kami pertolongan. Sesungguhnya setiap pertolongan pasti ada balasannya.”

Tanpa kenal lelah, dikelilingi prajuritnya yang menjaganya dari serangan kereme, Putri Agung duduk bersemedi dan terus mengucapkan permohonan kepada Sangyang. Hanya Ia harapan seluruh rakyat Muara Kaman saat ini.

Seketika, langit menjadi gelap, gumpalan awan pekat berkumpul di langit Muara Kaman. Seperti hujan yang turun, datanglah para jukut baung putih. Ribuan jukut berukuran besar tersebut memangsa semua kereme hanya dalam hitungan beberapa jam.

Kereme menghilang dari kerajaan Muara Kaman. Setelah itu, para baung putih pun ikut menghilang di kedalaman sungai. Putri Agung dan seluruh rakyat akhirnya terbebas dari serangan.

Sejak saat itu, rakyat Muara Kaman bersumpah tidak akan memakan jukut baung putih yang telah menjadi penyelamat mereka. Apabila di kemudian hari sumpah ini dilanggar, maka kereme akan kembali menyerang rakyat Muara Kaman dan tak akan ada lagi pertolongan yang diberikan oleh jukut baung putih.