Sosok itu terbangun dari tidurnya. Ia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pelayan di balik pintu kamar langsung masuk dan menyiapkan pakaian dan perhiasan untuk dipakai oleh sang putri nanti. Tak lupa kebaya merah muda kesukaan si anak tunggal pun tersedia di kasurnya. Beberapa dayang lainnya sibuk membersihkan kamar, membuka jendela dan menunggu sang putri selesai mandi.
Setelah mandi, Bidara melihat sekeliling kamar memastikan bahwa mereka bekerja dengan baik hingga tidak ada kotoran dan debu yang menempel di lantai. Ia segera bersiap karena pagi ini ia harus menjenguk ayahanda yang sedang sakit. Si putri juga memerintahkan untuk segera menyiapkan sarapan untuknya kepada dayang istana.
“Segera siapkan sarapan. Aku mau ke kamar Ayah dulu.” Kata Bidara seraya melihat wajah cantiknya di kaca.
“Baik, putri.”
Putih Aji Bidara adalah seorang anak raja yang terlahir dari keluarga kerajaan ia merupakan pewaris tunggal dari kekayaan orang tuanya. Selain itu, putri berdarah bangsawan ini memiliki paras cantik dan putih hingga orang yang melihat tubuhnya juga akan melihat aliran darah yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Wanita-wanita yang melihat itu menjadi iri karena Bidara selalu menjadi bahan pembicaraan masyarakat terutama laki-laki. Postur tubuhnya pun menjadi dambaan para wanita.
Selesai bersolek, Bidara beranjak meninggalkan kamarnya menuju ruangan tempat ayahanda dirawat. Ia masih terbaring lemah di kasur empuk. Di pertengahan jalan ia terus mengamati kawasan sekitarnya, memastikan pelayan istana bekerja sesuai tugasnya.
Sesampainya di depan pintu kamar, sang putri tidak langsung masuk ke ruangan karena menunggu kondisi ayah stabil untuk bisa ditemui dan diajak berbicara.
“Maaf tuan, putri Bidara sudah ada di ambang pintu.” Kata seorang dayang.
“Persilakan dia masuk, saya ingin berbicara.” Ucap Ayah sambil terbatuk-batuk.
Dayang-dayang pun membukakan pintu seraya memberi penghormatan kepada sang putri yang berjalan menuju tempat Ayahnya terbaring lemah. Ayah membuka mata perlahan memastikan anaknya memang datang menjenguk. Ia segera bangkit dengan setengah badan berbaring ditopang oleh bantal. Sebelum duduk di samping Ayah, Bidara memberikan hormat dan menyapa lelaki tua itu.
“Duduklah Bidara!” perintah Ayah seraya menepuk kasur yang hendak diduduki putrinya itu.
“Ada apa Ayah?”
Raja menghela nafas panjang sejenak ia terdiam dan berpikir cara untuk menyampaikan sesuatu yang penting pada anak gadisnya yang memiliki sifat keras kepala. Lelaki itu mencoba meraih tangan Bidara dengan perlahan. Sontak, hal itu membuat putrinya kaget dan merasa bahwa ada hal penting yang ingin Ayahnya sampaikan.
“Bidara, kamu sekarang sudah dewasa bukan? Kamu pasti sudah tahu tentang tugas seorang wanita dewasa. Ayah yang semakin tua tidak akan dapat menjadi raja selamanya. Lambat laut, posisi Ayah akan tergantikan oleh putri Ayah. Tapi Bidara, seorang putri tidak bisa memerintah seorang diri, kamu harus punya pendamping atau raja yang akan membantu kamu mengelola pemerintahan ini.” Jelas Ayah sambil menatap lekat putrinya.
“Maksud Ayah, aku harus menikah gitu?” Ayah lalu mengangguk kepalanya.
“Ayah sudah memiliki rencana untuk mengadakan sayembara minggu depan. Jadi tugasmu hanya memilih laki-laki sesuai keinginan mu.”
“Baik Ayah.”
Bidara hanya pasrah, kali ini ia tidak banyak protes karena ia berpikir bisa jadi permintaan sang Raja ini mungkin permintaan terakhirnya. Walau ia tahu akan sangat berat menerimanya, apa lagi menikah dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Gadis itu, merasa bahwa prioritas utamanya sekarang adalah kesehatan sang Ayah. Ia khawatir jika menolak permintaan lelaki paruh baya itu malah akan memperkeruh keadaan.
Pada hari itu juga raja memerintahkan anak buahnya agar menyebar selembar sayembara ke penjuru kota bahkan sampai ke pelosok daerah. Semua orang sibuk menyiapkan tempat pertemuan lain halnya dengan Bidara. Kini, ia merasa sangat gundah dan ragu dengan keputusan sang Ayah yang terkesan terburu-buru. Perempuan yang menginjak usia 30 tahun itu tahu bahwa umurnya sudah tidak muda lagi. Tetapi mencari jodoh dengan cara sayembara bukanlah keinginan hati nuraninya. Bidara takut jika Ayahnya akan salah pilih dan tidak sesuai kriteria pasangan hidupnya. Sang putri masih bertahan di balkon kamarnya mengamati orang-orang yang sedari tadi ke sana-kemari menaruh peralatan yang diperlukan.
Hingga hari sayembara dimulai raja sudah terlihat membaik dan bisa berjalan sendiri meski dibantu dengan tongkat kecil. Orang-orang berkumpul di aula untuk mengikuti seleksi. Ayah dan putrinya sedang duduk manis pada tempat duduk singgasana. Bidara terlihat bosan karena tidak ada satu pun laki-laki yang mampu menarik perhatiannya.
Satu-satu dari mereka menunjukkan kebolehan yang dimiliki, ada yang pandai bersyair tetapi dilihat dari fisiknya tidak sesuai kriteria sang putri. Lelaki itu masuk ke aula dengan membawa seruling bambu untuk menunjukkan kemampuannya dalam bersyair. Namun, putri terlihat lesu dan bosan hingga akhirnya laki-laki itu dipersilakan keluar dengan cepat.
Lanjut lagi pada lelaki yang lain, dia tampan, punya pengalaman banyak tetapi ia hanya seorang nelayan. Ia memberanikan diri untuk menghadap Baginda raja dengan membawa sebakul ikan laut. Namun, belum sampai berjalan sampai hadapan Ayah, Bidara yang merasa gengsi dan jijik itu langsung menolak mentah-mentah pemuda nelayan itu dengan dalih bahwa ia tidak bisa makan ikat laut terus-menerus jika harus menikah dengan nelayan tersebut. Akhirnya, laki-laki itu pulang dengan tangan kosong.
Lama waktu berjalan, hingga puluhan orang sudah tereliminasi akibat sang putri yang terlalu pemilihan dalam hal memilih jodoh. Ayah yang ikut memperhatikan anaknya itu hanya bisa menggelengkan kepala tak tahu harus dengan cara apalagi untuk membujuk putrinya segera menetapkan calon pendamping hidup.
“Ayah rasa sudah berpuluh-puluh lelaki yang datang kepadamu tapi tidak ada satu pun yang kamu taksir anakku?” ucap Ayah seraya melirik sebentar pada Bidara yang duduk di sampingnya.
“Ya, mau gimana lagi Ayah. Tidak ada dari mereka yang sesuai dengan kriteriaku.” Kata sang putri dengan santai.
“Jika kamu terlalu memilih Ayah yakin tidak ada yang bertahan dengan kamu. Jadi, Ayah pinta ini yang terakhir kalinya. Kamu harus menerimanya sebagai calon suami!” Ancaman raja tidak main-main.
Di tengah perbincangan antara ayah dan anak, seorang pemuda memasuki istana dengan langkah tegas dan berwibawa. Ia memberanikan diri untuk mengikuti sayembara ini walau hati masih ragu. Pelayan istana segera membukakan gerbang. Terlihat dari bayangan postur tubuh yang berisi. Pemuda itu berpakaian rapi membawa busur dan panah di pundaknya. Ia berjalan menuju tempat duduk raja dan putrinya. Raja menyambut dengan senyuman.
Ia berdiri menghadap sang raja. Aji Darmawan itulah namanya, pemuda berdarah biru. Ia keturunan raja dengan daerah kekuasaan yang luas. Ia jauh-jauh hadir dari kampung sebelah hanya ingin mengikuti sayembara ini. Bukan tanpa sebab, Darma melakukan ini atas perintah ayahnya karena ingin segera menimang cucu dan memperbaiki keturunan. Jika laki-laki itu berhasil ia akan segera menikahi seorang putri dan martabat mereka akan semakin meningkat atas garis keturunan yang baik. Sekali lagi, ia harus memperkenalkan diri kepada raja dan Bidara. Raja meminta dirinya agar menunjukkan kelebihannya dibandingkan yang lain. Tanpa ragu Darma langsung mengeluarkan busurnya memanah benda-benda yang di sekitarnya. Bidara terkejut sekaligus agak kagum.
“Bisakah kamu memanah hewan dengan tepat?” tanya raja. Ia masih ragu atas kebolehan pemuda tampan itu.
Akhirnya ia mengajak putrinya dan Darma ke halaman belakang. Di sana sudah disiapkan kancil muda yang sangat lincah dalam melarikan diri. Lelaki bersiap memanah kancil dan berhasil. Pangeran sangat pandai dalam hal memanah hingga membuat Bidara semakin terkagum-kagum olehnya. Bukan hanya kemampuannya tetapi karena ketampanannya yang bisa terlihat dari kejauhan bahkan kulit putihnya sampai menyilaukan mata yang memandang. Selesai kegiatan seleksi ayah mengajak Darma makan siang bersama keluarga kerajaan. Pemuda itu pun menurut.
Sampai di ruang makan, Bidara duduk samping Ayah sedangkan Darma berada tepat di hadapan sang putri. Makan yang sudah tersedia langsung ia lahap seperti orang kelaparan tanpa mendengarkan raja untuk mempersilahkan terlebih dahulu. Sang putri yang melihat adegan makan siang itu jadi tidak selera makan bukan hanya karena menyaksikan seorang pemuda yang kelaparan tetapi juga karena melihat kaki Darma yang naik ke atas kursi layaknya rumah sendiri. Ia pun menghentikan suapannya dan meletakkan sendok serta garpu kembali.
“Ayah! Bidara pamit ke kamar dulu ya.”
Ayah mengangguk kepala. Ia tahu bahwa anaknya sekarang sedang tidak nyaman berada di ruangan itu mengingat cara makan pangeran yang jauh dari kata sopan itu. Namun, raja masih bersikap profesional tetap menghormati tamunya yang datang jauh-jauh untuk sayembara. Jika dalam perjodohan memiliki adat-adat sendiri di dalamnya mungkin hal sekecil apa pun akan bernilai di mata calon pengantin. Penempatan kriteria sempurna memang tidak salah, namun ada beberapa yang harus menjadi catatan besar yaitu jangan pernah mengharapkan pasangan yang sempurna sebab jodoh itu adalah cerminan diri. Pangeran Darma mungkin memiliki sifat yang baik tetapi dalam sikap memang perlu perbaikan dan tidak menutup kemungkinan setelah menikah nanti akan berubah sikap yang dewasa.
Keesokan harinya, subuh menjelang pagi. Embun-embun telah membasahi daun-daun di pohon Bidara sudah terbangun dari tidurnya berdiri sendiri di balkon istana bibirnya menyeruput secangkir teh hangat. Ia masih berpikir keras tentang laki-laki yang baru saja ditemuinya kemarin. Keraguan menyelimuti sanubarinya. Raja mungkin terlihat sangat nyaman bersama Darma namun dilain sisi malah ia merasa gundah. Gundah akan masa depannya yang akan direnggut terlalu cepat, sikap pangeran yang tidak karuan, dan kekuasaan istana yang akan beralih tangan. Semua harusnya dipikirkan sangat matang bukan lelucon semata saja hanya karena ingin membahagiakan lelaki paruh baya yang hampir tak bernyawa.
“Ayah ingin mengajak pangeran Darma berlayar hari ini. Ya, hitung-hitung sebagai pemanasan tes pertama sebagai calonmu nanti.” Kata ayah yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Kalau memang itu keinginan Ayah silakan, Bidara tak melarang.” Penjelasan singkat namun bermakna Bidara selalu mengikuti keputusan sang raja.
Lelaki paruh baya itu, tidak lagi banyak bicara beliau mengetahui bahwa putrinya sekarang perlu waktu sendirian untuk memikirkan masa depannya kelak. Ia segera meninggalkan balkon dan bersiap segera berangkat ke pelabuhan pribadinya. Para dayang istana sebagian ikut andil menjaga paduka raja karena ini perjalanan yang cukup jauh dan lama. Bidara melihat ke lantai bawah, banyak orang-orang bersiap akan pergi berlayar, sebagai putri istana ia hanya bisa berdoa agar semua dapat pulang dengan selamat nantinya. Beberapa lama kemudian, mereka berangkat dengan menunggangi kerta kuda termasuk raja.
Sesampainya di pelabuhan, raja menghampiri pangeran Darma yang sudah menunggu dari terbit fajar tadi. Persiapan tampaknya sudah sangat matang hingga mereka tidak menunda keberangkatan dan segera berlayar. Kapal pesiar ini memiliki dua lantai sehingga pada lantai pertama terdapat dapur dan tempat tidur para pelayan istana. Sedangkan di lantai dua ada ruang makan dan kamar khusus untuk para petinggi istana. Pangeran beranjak menghampiri raja yang sedang asyik menikmati udara laut. Raja sudah lama tidak merasakan nikmatnya berlayar terakhir kali pun saat putri Bidara berumur 2 tahun yang belum mengerti tentang kapal.
“Dulu, ratu sangat suka berlayar. Wajahnya persis seperti Bidara, cantik.” Ucap raja membuka pembicaraan seraya menatap langit biru.
“Pasti beliau sekarang sangat bangga ya paman karena memiliki putri yang sangat cerdas.” Sahut Darma.
“Ya, tetapi entah mengapa aku jadi sangat khawatir dengan putriku. Jika aku sudah tidak ada lagi, pasti dia sangat kesepian. Itu sebabnya saya mengadakan sayembara. Setidaknya ada seseorang yang mampu membuat Bidara tetap tersenyum.” Raja menjelaskan dengan panjang lebar.
“Ahh... Jangan bicara seperti itu paman,...” Belum sempat pangeran melanjutkan pembicaraannya tiba-tiba ombak laut semakin naik dan cuaca pun semakin memburuk. Dayang-dayang panik hingga mereka segera masuk ke ruangan dan sebagian ikut berjaga di luar sebab keberadaan raja dan pangeran masih berada di lantai dua. Seorang nakhoda kapal langsung memperingatkan mereka agar segera masuk ke ruangan bersama lainnya. Namun, sang raja merasakan kejanggalan dalam laut seperti ada sosok yang mengintai mereka. Benar saja, ada banyak cacing kreme bermuncul ke dasar laut ingin menyerang kapal pangeran pun sigap untuk melindungi lelaki paruh baya itu.
Cacing-cacing itu semakin marah karena diserang berkali-kali hingga membuat kapal condong dan hampir karam. Suasana semakin mencekam mereka sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk mempertahankan diri. Raja memperingatkan mereka untuk tidak keluar ruangan dan tetap di sana kecuali prajurit yang sigap membantu dengan melayangkan bumerang. Lama pertarungan terjadi, tak disangka puluhan ikan baung berwarna putih muncul ingin memberikan bantuan kepada raja. Dia segera mencari celah untuk menerkam cacing itu lalu memakannya. Beberapa kali lolos dari terkaman baung tetapi kali ini si cacing tidak bisa lagi melawan sebab kini setengah tubuh mereka telah berada di mulut baung-baung tersebut. Akhirnya cacing mengalah baung putih pun menyantapnya dengan lahap.
Setelah menyelamatkan orang-orang yang berada di kapal tak lantas membuat baung putih pergi. Ia ingin bertemu dengan raja menyampaikan syarat tersirat karena telah menyelamatkan mereka dari maut.
“Hai! Raja, ingat pesanku baik-baik. Aku sudah menyelamatkan kalian dari maut hari ini. Maka, aku harap Anda dan rakyat Anda dapat berbalas budi dengan cara tidak makan ikan baung putih. Jika itu terjadi aku tidak bertanggung jawab mereka akan sakit bahkan sampai tak bernyawa.”
Syarat yang diajukan oleh baung putih memang tidak main-main namun nyatanya kebanyakan rakyat berprofesi sebagai nelayan dulunya pun mereka sering sekali rakus dalam mengonsumsi ikan baung putih sampai-sampai tidak memikirkan lagi jumlah ikan itu saat ini yang hampir punah.
“Baik baung. Jika itu memang syarat yang harus kami penuhi. Kami akan lakukan.” Kata raja dengan keyakinan penuh.
Akhirnya semua sudah seperti semula, baung putih pun telah kembali ke laut. Raja terus mengingat-ingat pesan tadi hingga beliau lupa dengan orang-orang sekitar yang khawatir akan keadaannya. Pangeran merapikan pedangnya dan senjata lainnya. Sedangkan paduka raja masih melamun dengan tatapan kosong. Mereka yang melihat kejadian itu semakin cemas. Takut kejadian tadi akan mempengaruhi kondisi kesehatannya. Darma menyuruh mereka bubar dan meyakinkan bahwa pemimpin mereka sedang dalam keadaan baik-baik saja. Raja memutuskan untuk kembali ke istana secepatnya memastikan ia menepati janji.
Dua hari di perjalanan perairan, raja tidak sabar ingin bertemu putrinya. Sampai di istana ayah langsung beranjak pergi ke kamar Bidara. Namun, di ruangannya tak ia temukan putrinya, dayang istana bilang bahwa anaknya sedang terbaring lemah di tempat peristirahatan keluarga. Ruangan itu memang dikhususkan untuk keluarga kerajaan yang sedang sakit. Ayah merasa sangat panik, ia segera menemui Bidara.
Di ambang pintu, raja melihat sang putri masih tertidur ia tidak tega bila harus membangunkan Bidara. Ia merasakan ada yang janggal dengan kondisi kesehatan putrinya yang tiba-tiba saja sakit. Padahal beberapa hari yang lalu gadis itu masih terlihat sehat dan ceria. Seorang dayang lewat di hadapan sang raja ingin masuk ke ruangan. Ayah mencegatnya.
“Nona, boleh aku tahu mengapa putriku sakit?”
“Maaf, tuan. Putri Bidara kelihatannya mengalami keracunan makanan.”
“Memangnya, makanan apa yang dia konsumsi?” selidik raja.
“Putri terakhir kali mengonsumsi ikan baung putih dan sayur asam.”
Benar saja dugaan raja. Kini ia dalam keadaan rasa bersalah karena terlambat memberitahukan perjanjian dan baung putih kepada putrinya yang alhasil menjadi korban pertama dalam ikrarnya. Sampai saat ini, Bidara belum juga sadarkan diri hingga membuat rasa bersalahnya semakin besar. Pangeran datang dengan niat ingin menjenguk sang putri tetapi raja melarangnya untuk bertemu khawatir semua akan semakin buruk.
Sekejap mata, raja memerintahkan kepada sekretaris istana untuk mengumumkan larangan memakan ikan baung putih pada rakyatnya agar korban tidak bertambah banyak. Beliau berjalan menuju ruang kerjanya di sana ia akan merenungi kesalahan yang telah diperbuat. Jika saja ia tidak memaksakan kehendak untuk berlayar mungkin perjanjian itu tak akan terjadi dan putri Bidara tidak akan menjadi korban seperti ini. Raja memukul meja terus menyalahkan diri sendiri. Raja menyesal atas perbuatannya.
Beberapa lama kemudian, perawat istana berlari menuju ruang perawatan sang putri karena mendapat informasi bahwa Putih Aji Bidara telah siuman dari komanya. Raja pun sangat senang mendengarnya hingga berlari menuju tempat peristirahatan anak kesayangannya tersebut.
“Ayah sudah pulang?” Bidara mendapat raja berdiri di depan pintu.
“Sudah anakku. Maafkan Ayah, Bi karena ayah tidak bersamamu saat kamu sakit. ”
“Nggak papa. Aku senang Ayah kembali dengan selamat.” Bidara tersenyum ke arah raja. Ia sangat bahagia sebab bangun dari koma sang Ayah sudah pulang ke istana.
Raja bukan tidak ingin mengatakan yang sebenarnya tetapi ia hanya ingin memastikan putri sembuh dahulu lalu menceritakan semua yang ia alami selama berlayar kemarin. Mungkin hal ini raja lakukan agar Bidara tak merasa cemas dan panik sampai pada mentalnya. Kejadian kemarin sungguh menyisakan banyak cerita bermakna bahkan Ayah merasa setelah kejadian itu ia harus semakin memperhatikan perasaan sang putri dan tidak mendahulukan kepentingan sendiri.