Sekarang, aku berdiri di antara dua patung naga. Patung tersebut berwarna emas, berukuran 15 meter, dengan posisi badan memanjang, lidah menjulur. Wajah patung tersebut terlihat menantang siapapun yang melihatnya. Lekuk tubuhnya memberi isyarat bahwa mereka berdualah yang menjaga gerbang sebelah Utara kampung ini. Kampung yang berada di ujung salah satu kabupaten yang berada di provinsi Kalimantan Timur. Aku melihat tidak ada hentinya, tongkang-tongkang besar itu membawa emas hitam seperti gunung-gunung berjalan. Beberapa kapal terlihat berjejer untuk istirahat. Pelabuhan kecil yang bertuliskan I Love Kula menjadi tempat masyarakat di kampung ini mencari rezeki.
Namaku Lintang, bulan Desember nanti usiaku memasuki 24 tahun. Aku adalah cucu dari juru kunci makam raja dan wali yang ada di kampung Kula ini. Menurut cerita kakekku ini, buyutku adalah orang pertama yang ada di kampung ini. Bukan hanya sebuah cerita, kakekku masih menyimpan surat keputusan dari salah satu raja kerajaan Kutai Kartanegara. Surat yang kertasnya berwarna cokelat tersebut masih menggunakan ejaan van ophuijsen. Surat keputusan tersebut berbunyi “Saya, Sultan Aji Muhammad Alimuddin sebagai raja Kutai Kartanegara, memberikan amanah kepada Saudara Japar untuk merawat tanah kita dan menanam padi serta tanamannya lainnya untuk anak cucu kita”. Surat itu ditulis pada tahun 1912 dan ditandatangani oleh Raja Kutai yang sedang memimpin. Walau surat tersebut sudah sudah dimakan usia, namun posisi kop surat tersebut jelas bertuliskan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Kakekku dijuluki petinggi Acong, beliau ditugaskan untuk merawat dan menjaga makam Sultan Aji Mahkota Islam, makam Sultan Aji Dilanggar, dan makam Habib Tunggang Parangan. Tiga makam tersebutlah yang menjadi daya tarik para pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Bangunan yang sudah dibentuk layaknya pendopo menjadi tempat para pengunjung memberi salam kepada para wali. Makam para wali tersebut tidak pernah sepi, sehingga dari pagi hingga sore hari kakekku mengabiskan waktunya di tempat tersebut.
Malam harinya, kakekku bercerita bahwa kampung Kula ini adalah kampung para wali dan orang-orang sakti dahulu. Konon katanya, dulu salah satu wali datang dari pulau yang jauh dengan menunggangi ikan hiu, dan mulut ikan hiu tersebut berbentuk parang. Beliau juga bercerita bahwa orang-orang sakti tersebut tidak semuanya meninggal dunia, ada juga yang hilang tidak tahu kemana arahnya. Kata kakek, orang-orang sakti yang meninggal tersebut, jasadnya dikuburkan di beberapa tempat yang tidak jauh terpisah, itulah makam-makam para wali. Sedangkan yang menghilang itu mereka menjelma menjadi ikan-ikan yang ada di Sungai Kula.
Kakekku juga mengatakan bahwa mereka (manusia gaib yang menjelma menjadi ikan di sungai Kampung Kula) akan muncul ketika ada kegiatan upacara adat masyarakat kampung Kula. Akan tetapi, kemunculan mereka tidak bisa disadari oleh masyarakat biasa, maksudnya adalah masyarakat yang bukan keturunan dari orang-orang sakti yang ada di kampung Kula ini. Kakekku dapat melihatnya, dia begitu tenang bercerita mengenai wujud mereka yang berasal dari sungai. Ciri-ciri yang dapat kakek deskripsikan adalah, wajah mereka seperti manusia pada umumnya, namun yang membedakan adalah tubuh mereka yang tinggi, dan tidak ada garis di bawah lubang hidung mereka, seperti manusia pada umumnya. Mereka sangat ramah, apabila kita bisa melihatnya, dia akan tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. Mereka lebih banyak daripada manusia biasa yang ada di kampung Kula ini. Jika ada masyarakat biasa yang dapat melihat wujud manusia gaib itu, hal tersebut merupakan pertanda baik. Konon kata kakek kita akan mendapatkan rezeki secara tiba-tiba.
Pelabuhan kecil yang bertuliskan I Love Kula memiliki tangga khusus untuk makhluk gaib yang ingin hadir di upacara adat masyarakat kampung Kula. Ketika upacara adat dimulai, pelabuhan naga dipenuhi lautan manusia, padahal penduduk kampung Kula tidak sebanyak itu. Ada hal yang paling membuat saya terkejut adalah, ketika prosesi upacara adat sudah selesai, ribuan kerumunan orang tanpa disadari pergi satu persatu. Mereka hilang begitu saja dan kembali ke sungai, kata kakek. Bulu kudukku merinding ketika kakek menceritakannya dengan penuh ekspresi.
Selain gerbang Utara yang dijaga oleh dua naga, ada gerbang di bagian Selatan yang dijaga oleh dua pedang sakti. Gerbang sebelah Selatan itulah yang bisa menjaga kampung Kula ini. Apabila ada yang memasuki kampung ini dan berniat jahat, pedang itu akan memangkas leher orang tersebut, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Cerita itu menyebar diseluruh telinga masyarakat kampung ini, sehingga membuat mereka hidup tenang dan damai.
Puncak cerita yang kudengar dari kakek adalah, ada kerajaan besar di kampung ini. Kerajaan tersebut memiliki luas tiga hektar. Bangunannya terbuat dari emas dan berlian. Desain bangunannya hampir sama dengan suasana kerajaan Mahabharata seperti di film yang sering ibuku tonton. Kerajaan itu masih ada hingga saat ini, namun orang-orang sakti terdahulu menyembunyikannya dari pandangan manusia biasa. Tidak berlaku untuk kakek ya, kakekku bisa melihat semuanya dengan jelas. Kelak aku akan diajarkan mantra untuk melihat wujud asli dari kampung sakti Kula ini, tunggu umurku 31 tahun katanya.
Tidak terasa, rutinitas kakek menjaga makam para wali masih tetap berjalan. Sudah tujuh tahun lalu kakek bercerita mengenai keadaan asli kampung Kula ini. Kurasa sudah saatnya beliau mengajarkanku mantra untuk melihat segala isi asli kampung ini dengan nyata. Kamis sore, hari aku mendatangi kakek ke tempat dirinya selalu ada. Sesampainya di makam aku berbisik padanya “kakek hari ini umurku genap 31 tahun, aku menagih janji kakek untuk mengajarkan mantra-mantra yang kakek punya”. Kakek pun menjawab dengan bahasa Kutai “kendia kakek beritahu, mulang awak siapkan sarung dengan baju putih, siapkan jua pisang sesisir, daun sirih tujuh buting” yang artinya “nanti saya ajarkan, kamu pulang dulu siapkan sarung dan baju putih, serta siapkan juga pisang satu sisir, daun sirih tujuh biji”.
Setelah tiba di rumah aku mempersiapkan segala yang kakek perintahkan. Sambil menunggu kakek, aku membersihkan diri terlebih dahulu. Menjelang beberapa saat, kakek telah tiba di rumah, beliau juga membersihkan diri. Setalah itu aku diajak masuk ke kamarnya dan membawa barang yang telah kakek perintahkan. Barang tersebut ditaruh oleh kakek di tempat piring antik yang bergambarkan naga dan ular berwarna biru tersebut. Tujuh helai daun sirih kakek lipat hingga membentuk segi empat. Aku diperintahkan kakek memakai sarung dan baju putih tersebut.
Pukul 00.07 Wita, kakek mengajariku berbagai mantra yang beliau miliki. Beberapa gerakan serta bacaan sudah mulai kuterima, aku merasakan ada hal yang berbeda dari tubuhku. Terasa jelas aku melayang hampir menyentuh plafon rumah kakek yang tingginya empat meter tersebut. Jantungku berdetak tidak karuan, prosesi transfer mantra ini selama setengah jam lebih, aku sudah menguasai mantra beserta gerakannya. Kata kakek, aku tidak akan kesulitan menerima dan menghafal berbagai mantra tersebut, karena orang gaib terdahulu mengizinkannya.
Tepat puku 01.07 kakek mengajakku ke luar rumah, kakek membawaku dengan mengendarai sepeda tuanya. Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kakek. Selama perjalanan kakek menutup mataku dengan kain putih. Hingga akhirnya kami berhenti dan kakek membuka penutup mataku. Kami berada digerbang yang bergambar dua pedang. Aku tidak mengeluarkan kata sedikitpun, tiba-tiba kakek menepuk pundakku dan berkata dengan lembut “cobalah”. Kemudian aku melafalkan mantra yang kakek ajarkan, dan betapa terkejutnya aku, aku dan kakek berdiri tepat di depan pintu kerajaan.
Bentuk kerajaan yang kakek ceritakan sudah ada di depan mataku. Aktivitas di sebuah kerajaan yang begitu ramai, ada raja yang bermahkota emas dan berlian, ada dayang yang begitu cantik, ada prajurit yang dilengkapi tameng untuk berperang, persis di film the chronicles of Narnia. Ada lampu-lampu seperti cahaya di Kota Makkah dan benar! bentuk bangunannya menyerupai kerajaan di film Mahabharata yang biasa kulihat di televisi bersama ibu.
Setelah itu aku tertegun, luar biasa pemandangan yang barusan aku lihat. Kemudian kakek mengajakku ke pelabuhan dan betapa terkejutnya aku, sungai yang setiap hari kulihat, penuh dengan kapal, kini air itu tidak ada. Hanya bangunan-bangunan megah seperti di ibu kota, yang kulihat di televisi juga. Masyarakatnya sibuk dengan kegiataannya masing-masing. Kusadari salah satu gadis penghuni sungai tersebut tersenyum padaku, cantiknya luar biasa, putih, tinggi, hidung mancung, dan ada tahi lalat di sebelah kiri bibirnya. Seketika aku menyenggol kakek “kenapa kakek tidak becerita padaku tentang yang satu ini?”.