Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Aji Umbut
Sinopsis Kisah Mengisahkan kepemimpinan Sultan Aji Imbut (Sultan Aji Muhammad Muslihuddin), seorang raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang bijaksana, arif, dan sangat dekat dengan rakyatnya. Didorong oleh keinginan untuk membuka lembaran baru bagi kerajaannya serta petunjuk spiritual yang didapat melalui mimpi, Sultan Aji Imbut bersama para pengawal setianya melakukan perjalanan menyusuri Sungai Mahakam untuk mencari lokasi ibu kota kerajaan yang baru. Perjalanan tersebut akhirnya membawa sang Sultan ke sebuah wilayah subur yang dipenuhi pepohonan pandan serta tanaman tengaron, tempat yang kemudian ia tetapkan sebagai pusat kerajaan baru dan diberi nama Tenggarong.

Cerita Lengkap

Pada zaman dahulu kala ada seorang Raja yang baik, arif, dan bijaksana yang memimpin suatu wilayah dikawasan Pamerangan Kutai Kartanegara Sultan Aji Imbut namanya yang bergelar dengan sebutan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, Aji Imbut merupakan penerus tahta Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sepeninggal wafatnya sang ayah ( Aji Muhammad Idris), Aji Imbut sangat disenangi oleh rakyat nya sehingga membuat rakyat menaruh rasa hormat yang tinggi kepada nya, sampai suatu ketika Aji Imbut bermaksud ingin berbelanja langsung kepada rakyatnya sendiri agar tidak diketahui Aji Imbut menggunakan penutup wajah kain berwarna hijau tua dan menggunakan penutup kepala berbahan jerami, tanpa pengawalan seorang pun Aji Imbut menunggang kuda kesayangannya yang ia juluki pasir emas karena warna kuda tersebut kecokelatan mendekati warna ke emasan, sesampainya di pasar Aji Imbut bermaksud ingin membeli Buah - buahan segar dan langsung dapat berinteraksi terhadap pedagang “ nanam sorang kah kita buah ni” ( hasil tanaman sendiri kah buah ini ) ucap Aji Imbut di balik penutup wajahnya yang berwarna hijau tua, pedagang yang merupakan rakyatnya sendiri menjawab “ ya benar tuan” ini adalah tanaman hasil kebun saya sendiri.

Aji Imbut mengambil beberapa kepingan uang koin yang terdapat didalam kantong kain berwarna kuning miliknya lalu memberikan kepada pedagang tersebut, pedagang itu pun terheran dikarenakan kepingan uang koin tersebut cukup lebih untuk sekedar membeli buahnya, “alak aja” ( ambil saja ) ucap Aji Imbut, mungkin ini rejeki untuk bapak hari ini, sang pedagang pun menatap sesaat mata Aji Imbut sembari berpikir bahwa ini bukan orang biasa, Aji Imbut bergegas naik ke kudanya lalu melanjutkan perjalanannya untuk melihat aktivitas keseharian rakyatnya.

Setelah puas berkeliling Aji Imbut kembali kelingkungan Kerajaan, beberapa pengawal setia Aji Imbut pun ikut terheran melihat cara berpakaian Sultan mereka hari ini, Ranggabuana salah satu pengawal setia Aji Imbut memberanikan diri untuk bertanya, wahai yang mulia Sultan ada apakah gerangan hari ini sehingga yang mulia menunggang kuda dengan menggunakan kain penutup wajah, Aji Imbut tersenyum sambil menjawab agar hidungku tidak mencium bau kotoran kuda ku sendiri, Ranggabuana tak bisa banyak berucap karena menaruh rasa hormat yang begitu tinggi terhadap yang mulia Sultan Aji Imbut.

Saat berusia 12 tahun Aji Imbut sudah ditinggal ayah nya ( Sultan Aji Muhammad Idris ) Aji Imbut sebagai putera mahkota kala itu masih belum cukup usia untuk dijadikan seorang pemimpin sebuah kerajaan yang cukup tersohor maka seringkali terjadi perebutan kekuasaan sembari menunggu Aji Imbut cukup usia sebagai penerus tahta Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, setelah beberapa tahun berkuasa Aji Imbut seringkali berpikir untuk memindahkan pusat Kerajaan nya ketempat wilayah yang baru hal itu tak lepas dari kenangan yang cukup pahit sepeninggal mendiang ayahnya ( Sultan Aji Muhammad Idris ).

Hari demi hari terus berlalu pada suatu malam Aji Imbut tak bisa tidur ia merasa ada yang mengganjal dipikirannya, Aji Imbut keluar dari kamarnya dan duduk sambil memandangi indahnya rembulan malam sembari merenung, Ranggabuana yang melihat sang sultan duduk termenung pelan pelan datang menghampiri, dan berucap ampun beribu ampun yang mulia Sultan adakah yang bisa saya bantu malam ini?, dengan suara yang halus Aji Imbut berkata wahai pengawal setiaku Ranggabuana jikalau aku memindahkan Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini kelak akankah kita mendapat berkah Ilahi?, mendegar hal tersebut Ranggabuana terdiam sejenak sambil Pelan - pelan sesekali ia tampak menghembus nafasnya dan berkata jikalau yang mulia Sultan Aji Imbut berkeyakinan tentang hal itu maka saya meyakini itu adalah kebenaran yang harus dilakukan.

Suara ayam jantan mulai berkokok saling bersahutan cahaya mentari pagi mulai naik sedikit demi sedikit, Aji Imbut yang sudah tampak rapi dan gagah dengan menggunakan baju berwarna hitam dengan kombinasi corak warna kuning emas dilapisi jubah berbulu putih bersih lengkap dengan mahkotanya keluar menuju ruang pertemuan dan memberi perintah kepada Ranggabuana agar memanggil seluruh Menteri - menteri Kerajaan untuk berkumpul, sembari menunggu para menteri berkumpul Aji Imbut mendegar alunan suara petikan gambus Pemuda – pemuda di lingkungan Kerajaan yang memang mengisi seni hiburan tingkilan kutai apabila ada pertemuan besar.

Seluruh menteri sudah berkumpul Aji Imbut berdiri dari kursi Kehormatannya dan berkata wahai para menteri Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dengarkan dan simaklah apa yang akan aku sampaikan ucap Aji Imbut bahwasanya aku akan melakukan perjalanan ke beberapa wilayah untuk mencari tempat sebagai pusat Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang baru, seluruh Menteri yang hadir saling menengok kekiri kekanan dengan ekspresi wajah kebingungan dan bertanya tanya, karena mereka merasa situasi Kerajaan dalam ke adaan yang Baik – baik saja, salah satu menteri dengan nada cukup tinggi memberikan pandangan yang berbeda pendapat dari Aji Imbut, dengan penuh wibawa Aji Imbut berkata kalau kau tidak ingin ikut kelak ke Kerajaan ku yang baru silahkan tinggal di sini saja, sang menteri pun terdiam membisu seribu bahasa.

Pada malam hari sebelum melakukan perjalanan Aji Imbut bermimpi mendengar suara yang cukup tajam berbunyi memberikan petunjuk atau arah “ wahai Sultan Aji Imbut carilah tempat untuk berdirinya Kerajaan baru dengan menyusuri alur sungai mahakam dan jangan menggunakan perjalanan darat ”. Aji Imbut sontak terbangun dengan penuh keringat dan meyakini mimpi itu adalah sebuah petunjuk kebenaran, ke esokan harinya Aji Imbut meminta tujuh pengawal untuk menemani nya dalam melakukan perjalanan menyusuri sungai Mahakam, Ranggabuana salah satu pengawal yang ikut menemani perjalanan Aji Imbut, dengan perbekalan yang cukup Aji Imbut dengan sampan yang cukup besar mulai melakukan perjalanan.

Hari demi hari menyusuri sungai Mahakam maka sampailah Aji Imbut kesebuah tepi daratan yang penuh semak berduri dan setelah sampai hujan turun dengan derasnya Aji Imbut meyakini ini bukanlah tempat yang cocok, piringan matahari senja hampir lenyap di tepi langit pertanda malam akan segera tiba, Aji Imbut meminta pengawalnya untuk segera memasak sesuatu untuk dimakan, sambil menyantap makan malam bersama Ranggabuana dan pengawal lainnya salah satu pengawal yang berjaga diluar sampan milik Aji Imbut dengan pandangan yang terbatas dan hanya obor sebagai alat bantu pencahayaan dimalam hari, pengawal tersebut melihat tepi daratan yang cukup banyak ditumbuhi pohon kelapa, wahai yang mulia Sultan diluar saya melihat daratan yang penuh dengan pohon kelapa, Aji Imbut pun bergegas keluar dan meminta seluruh pengawalnya untuk merapatkan sampan ketepi daratan tersebut dengan maksud untuk beristirahat “ etam ngondok disini malam ni ” ( kita berdiam disini untuk malam ini ) ucap Aji Imbut.

Malam semakin larut Aji Imbut terlelap tidur lebih cepat dari biasanya tak lama kemudian terdengar suara angin yang mendesir Aji Imbut pun terbangun dan segera membersihkan dirinya dengan berwudhu untuk melaksanakan shalat malam dengan harapan diberi petunjuk oleh sang maha kuasa, lalu Aji Imbut meminta seluruh pengawalnya untuk beristirahat Bersama - sama dan tak perlu melakukan penjagaan, ke esokan harinya Aji Imbut terbangun dengan suasana yang sejuk dipenuhi embun pagi yang tampak menyelimuti wilayah tersebut, air sungai mahakam yang begitu tenang diambil Aji Imbut untuk membasuh bagian muka, dengan mata yang sedikit tajam Aji Imbut mengamati wilayah disebrang daratan dari tempat sampannya berlabuh, embun pagi mulai memudar tampak Pohon – pohon pandan menghiasi arah sebrang daratan tersebut, perasaan Aji Imbut terdorong kuat untuk menyebrang ke arah daratan itu, sang Sultan Kutai Kartanegara itu pun meminta seluruh pengawalnya untuk menyebrangkan sampan, ditengah perjalanan menyebrangi sungai mahakam tidak ada hujan serta tidak ada badai seketika berbunyi keras suara petir dari langit, Aji Imbut menatap kearah langit dengan penuh keyakinan dan rasa optimis hatinya terhadap daratan yang dipenuhi pohon pandan tersebut.

Sampailah ditepi daratan, Aji Imbut melihat ada anak tangga dari kayu yang tersusun cukup rapi serta banyak ditumbuhi tanaman tengaron “ oh ada urangnya ni ” ( oh ada penghuni disini ) ucap Aji Imbut, perlahan semuanya naik kedaratan tersebut, Aji Imbut mulai bersuara dengan harapan ada penghuni yang menanggapi suaranya tak lama kemudian datang seorang lelaki yang cukup tua menghampiri rombongan Aji Imbut dan berkata Maaf siapakah gerangan kisana ini?, sambil terpana melihat sosok Aji Imbut yang penuh kharisma dibalut dengan pakaian khas Kerajaan, Aji Imbut menceritakan seluruh maksudnya datang ketepian yang penuh dengan pohon pandan serta tanaman tengaron ini, lelaki tua itu memberikan jawaban bahwa ia tinggal disini dengan berkebun menanam berbagai tumbuhan karena wilayah ini memiliki tanah yang sangat subur, saya menyebutnya muara sungai tengaron yang mulia Sultan ucap lelaki tua tadi, setelah puas berkeliling wilayah tersebut Aji Imbut beserta tujuh pengawalnya memutuskan untuk bermalam satu hari maka mantaplah hati sang Sultan ingin memindahkan pusat kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke wilayah ini serta mendapat dukungan penuh dari lelaki tua tadi.

Ke esokan harinya dengan penuh rasa syukur dan bahagia Aji Imbut berpamitan dengan sosok lelaki tua yang baik hati untuk kembali ke wilayah Pamerangan dengan maksud akan kembali lagi dengan jumlah orang yang lebih banyak untuk membangun sebuah Kerajaan baru dengan harapan yang baru, didalam perjalanan pulang ditengah indahnya sungai mahakam Ranggabuana berucap wahai yang mulia Sultan, kelak kalau istana Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berdiri apa nama wilayah yang cocok untuk daerah tersebut, yang mulia Sultan Aji Imbut bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin dengan lantang dan tanpa ragu mengucapkan wilayah itu kunamakan TENGGARONG.

Akhirnya pusat Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berpindah dari Pamerangan yang dianggap Aji Imbut sudah kehilangan tuahnya ke tempat baru dengan sebutan nama Tenggarong, istana nan megah berbahan kayu ulin berdiri kokoh menghadap sungai mahakam.