Jalung Merang berlari sekuat tenaga, lalu di ujung bukit, di atas lereng di antara padi gunung, ia melompat. Seketika menggunakan kekuatan mantra ibunya, tubuhnya menyusut, kulit dan pakaiannya ditutupi bulu-bulu hitam putih yang tumbuh demikian cepat. Serta merta ia berubah wujud menjadi seekor tebengang, menjadi seekor enggang besar. Menumpang angin, ia melesat terbang tinggi ke angkasa.
Jalung Merang merasakan kesakitan yang luar biasa dari perubahan itu. Ia merasa semua tulang-tulangnya remuk, tapi rasa sakit itu ditahannya. Secepatnya ia harus menyusul rombongan perahu Jalung Bilung. Ia harus bergegas, karena rombongan besar itu berangkat untuk melakukan prosesi lamaran. Lamaran kepada kekasih yang amat dicintainya, Urai Belawan.
Sebelumnya, Jalung Merang dan Jalung Bilung sebenarnya dua sahabat lama. Meski dari dua desa yang berbeda mereka tumbuh bersama. Keduanya sama-sama merupakan pemuda yang gagah dan terampil di desanya. Jalung Bilung juga sudah mengetahui Jalung Merang mempunyai seorang kekasih yaitu Urai Belawan. Gadis yang kabar kecantikan dan kehalusan tutur perilakunya telah menembus pekatnya belantara rimba, hingga terdengar jauh ke desa-desa terdalam di lekuk-lekuk aneka sungai. Maka tak heran, banyak pemuda penasaran akan kebenaran berita itu.
Orang-orang juga sudah mengetahui jika Urai Belawan dan Jalung Merang, telah ditunangkan sejak mereka kanak-kanak. Ayah dari kedua pasangan adalah sahabat karib, bahkan ayah Jalung Merang dikabarkan pernah menyelamatkan nyawa ayah Urai Belawan yang nyaris mati di tengah hutan, akibat keracunan tanaman hutan. Dikabarkan ayah Jalung Merang berhari-hari menggendong ayah Urai Belawan keluar dari belantara, naik turun gunung dan membawanya ke kampung untuk diobati.
Lalu ketika keduanya masing-masing memiliki anak, mereka bersepakat menjodohkan putra dan putri mereka. Dan sebenarnya baik Jalung Merang dan Urai Belawan memang saling menyukai, sejak kecil mereka sudah sering bermain bersama. Jika ada upacara adat atau pesta di kampung Urai Belawan, rombongan keluarga dari kampung Jalung Merang akan berkunjung. Begitu juga sebaliknya, jika ada acara di kampung Jalung Merang, warga dari kampung Urai Belawan juga berdatangan.
Rombongan besar Jalung Bilung singgah di desa Jalung Merang. Sebagai sahabat lama, Jalung Merang menyambutnya dengan gembira. Ia juga menyediakan tempat tinggal dan makanan. Suatu kali Jalung Bilung bersenda gurau, “Aku mendengar kekasihmu sangat terkenal, jujur aku jadi penasaran dengan rupa Urai Belawan,” tutur Jalung Bilung kepada Jalung Merang.
Belakangan di saat sedang pesta makan, salah satu anggota rombongan, seorang tetua dari rombongan Jalung Bilung sembunyi-sembunyi menemui Jalung Merang di belakang lamin.
“Ada apa ini amai. Apa yang hendak amai sampaikan, sepertinya penting sekali hingga harus seperti ini?” tanya Jalung Merang.
“Tentu saja, ini penting sekali. Tapi sebelumnya aku meminta maaf atas nama kami semua. Anak muda, aku tahu dari raut wajahmu, kau adalah orang yang bijaksana dan baik hati. Dengan melihat segala kebaikanmu menjamu rombongan kami, maka sepertinya tidak adil dan arif jika aku tidak menyampaikan maksud yang sebenarnya perjalanan kami kali ini,” ucap amai tua itu. Lalu ia melanjutkan maksud sebenarnya dari Jalung Bilung melakukan ekspedisi lengkap.
Dari situlah, Jalung Merang mengetahui rombongan besar Jalung Bilung tersebut berangkat untuk melamar Urai Belawan, kekasihnya. Jalung Merang sakit hati dan marah, tapi ditahan dan tidak ditampakkannya. Meski sahabatnya itu tidak jujur tentang tujuannya, keesokan harinya, ia sebagai sahabat tetap menyediakan keperluan untuk rombongan itu seperti sebelumnya. Juga menambahkan perbekalan buar rombongan sahabatnya itu.
Jalung Bilung sempat gusar melihat kebaikan sahabat baiknya itu, keraguan menguat di batinnya, tapi lantas ia tetap menguatkan hati.
Dalam benak Jalung Bilung selama ikatan perkawinan belum ada. Sah saja seorang lelaki melamar gadis. Ia sengaja tak menyampaikan niat itu kepada Jalung Merang, sebab tak ingin menyakiti hatinya. Namun, menurutnya Jalung Merang terlampau lambat mengambil tindakan. Seorang laki-laki sejati dinilai dari ketangkasan dalam mengambil keputusan dan Langkah maju. Bukan janji berkepanjangan. Sudah selayaknya gadis semahsyur Urai Belawan, diperebutkan para pemberani. Dalam perang dan perebutan cinta, segala jalan boleh ditempuh. Termasuk jalan menikung sekali pun jika diperlukan.
Jika lamaran itu diterima ia akan bersyukur, sebuah pesta besar sudah ia bayangkan. Jika ditolak tak masalah, laki-laki harus tahu diri. Terpenting adalah mencoba. Apalagi ia membawa rombongan besar, pasti orang-orang kampung Urai Belawan sungkan menolak sebuah niat baik dan serius seperti itu. Ia sudah memperhitungkan kemungkinan, kawin dengan Urai Belawan baginya punya peluang besar.
Sementara di lain sisi, seperti diketahui Jalung Merang dan Urai Belawan sudah dijodohkan sejak kecil. Jalung Merang sudah lama berniat melamar Urai Belawan. Namun sejak kematian ayahnya, ibu Jalung Merang meminta bersabar, juga memintanya untuk lebih dulu membantunya membuka huma baru untuk desa mereka. Demi bakti kepada ibunya, Jalung Merang menunda rencana perkawinannya. Bahkan ia yang sebenarnya dipersiapkan sebagai pengganti kepala adat, lebih sering tidak muncul di kampung sebagaimana pemuda lain yang berlatih adu ketangkasan, Jalung Merang lebih sering di ladang bersama ibu dan adik perempuannya. Di sana ia membuka lahan, bercocok tanam, menjaga padi gunung mereka dari hama, berburu payau atau menuba ikan untuk makan mereka, sampai masa panen. Sebagian hasil panen telah diangkutnya ke kampung, bersamaan dengan perjumpaannya dengan Jalung Bilung.
Selepas rombongan Jalung Bilung berangkat menuruni sungai Muara Ritan menuju kampung Urai Belawan, Jalung Merang kembali ke humanya di gunung, untuk membantu ibunya menyelesaikan sisa panen, sekaligus agar tak bertemu orang-orang di kampungnya. Ia malu orang-orang bisa melihat kegundahannya.
Di sepanjang jalan kembali ke ladang itu, seluruh kesedihan dan kemarahan menyiksa dadanya. Sesampainya di huma, sang ibu yang melihat perubahan pada raut wajah anak yang dicintainya. Setelah selesai memasak, dan mereka berkumpul di dangau, sang ibu bertanya tentang mengapa putranya itu terlihat bersedih.
“Tidak ada apa-apa ibu. Aku hanya ingin istirahat sejenak, setelah perjalanan ke gunung ini, dan aku mohon maaf mungkin besok pagi baru aku menyelesaikan sisa panen kita.”
“Anakku, aku ini ibumu. Aku paling mengenal dirimu lebih dari siapa pun. Kau mewarisi kebaikan dan kelembutan hati dari ayahmu, maka mudah bagiku mengetahui jika ada sesuatu terjadi, sesuatu yang mengusik batinmu. Sesungguhnya bukan padi ini yang kurisaukan, tapi anak yang lebih berharga dari hidupku ini, tak mau jujur padaku?” ujar ibu Jalung Merang.
Maka demi mendengar pernyataan ibunya, Jalung Merang pun langsung bersimpuh dan meminta maaf. Lantas, ia menceritakan segala asal kegundahan dan kesedihannya.
Muncul iba dan rasa bersalah di hati ibu Jalung Merang. Ini tak boleh dibiarkan, pikir sang ibu dalam hati. Anak kebanggaannya itu yang lebih memilih berbakti kepadanya, tidak boleh kehilangan orang yang dicintai. Sebab itu ia segera menegaskan kepada Jalung Merang untuk berjuang mendapatkan kekasihnya. Ia membekalkan sebuah mandau pusaka, memberinya beberapa kesaktian, dan setelah itulah ia merapal mantra untuk mengubah Jalung Merang menjadi tebengan.
Pun begitu enggang jelmaan Jalung Merang itu melesat menyusul Jalung Bilung, ia dan anak bungsunya turun ke kampung, dan segera mengirimkan satu rombongan besar melalui alur sungai yang berbeda guna melamar Urai Belawan bagi putranya yang berbakti. Ibu Jalung Merang adalah perempuan yang dihormati di kampung itu. Orang-orang dengan sigap mempersiapkan segala keperluan melamar, menyiapkan perahu dan perbekalan.
Di atas langit Jalung Merang berkoak-koak, beberapa kali ia berusaha merintangi jalan rombongan Jalung Bilung. Rombongan itu sempat mendengar suara tebengan itu. Namun, mereka tetap melanjutkan perjalanan, sebab menurut mereka suara tersebut tidak alami.
Bagi orang-orang ini, yang telah lama akrab dengan hutan, alam semesta, baik makhluk hidup, tak hanya manusia, juga binatang sampai tumbuh-tumbuhan maupun benda mati, bebatuan sampai petir, memiliki roh. Sebab keakraban serta keterkaitan hidup yang begitu erat dengan alam, mereka mempercayai alam dapat melakukan komunikasi dengan manusia, melalui pertanda. Bahkan bagi mereka alam merupakan sumber petunjuk atau alamat dari Yang Maha Kuasa. Yang kemudian, perlindungan kepada alam menjadi bagian adat. Pengabaian terhadap petunjuk semesta menurut adat, dipercaya bisa berakibat fatal.
Kepercayaan ini disebut amen-amen, atau disebut adat puen. Di dalamnya terdapat pantangan amen, yaitu jika melihat atau mendengar suara dari mahluk tertentu, atau dari arah tertentu bisa dijadikan petunjuk, apakah maksud dari perjalanan bisa terlaksana dengan baik atau tidak. Bahkan terdapat tanda-tanda tertentu yang dianggap bisa mencelakakan.
Mengetahui rombongan itu tetap melanjutkan perjalanan, Jalung Merang lalu melemparkan tali mandaunya, sembari merapal mantra yang diajarkan ibunya. Lalu tali mandau itu berubah menjadi tudo' bala pipa bala yaitu ular berkepala dan berekor merah yang merupakan pantangan perjalanan. Melihat ular itu melintang di bebatuan sungai yang akan mereka lalui, rombongan Jalung Bilung berhenti mendayung. Lalu di tepi sungai, mereka bersepakat membatalkan perjalanan, dan memutar arah Kembali. Menunggu hari baik, serta petunjuk alam lainnya.
Jalung Merang yang masih berupa tebengan, dengan cepat ia sampai di kampung gadis pujaannya. Urai Belawan yang melamun di tepi jendela lamin, kemudian melihat ke langit. Ia heran ada seekor enggang besar yang berputar-putar di atas sana. Lalu enggang itu terbang rendah ke jendela Urai Belawan. Kemudian turun ke tanah. Urai Belawan yang terus memperhatikan terkejut, serta merta enggang itu berubah menjadi Jalung Merang. Gembira melihat orang yang dirindukan tiba-tiba muncul, Urai Belawan segera berlari ke luar lamin sembari berseru kepada ayah ibunya soal kedatangan Jalung Merang. Lalu kedua kekasih itu berjumpa dengan segenap perasaan rindu yang menggunung.
Ayah dan ibu Urai Belawan mempersilakan Jalung Merang untuk naik dan beristirahat ke atas lamin. Mereka memerintahkan beberapa orang untuk mempersiapkan makanan dan minuman buat Jalung Merang. Sebuah musyawarah kecil dibentuk, sebab Jalung Merang meminta waktu kepada para tetua lamin itu, untuk menyampaikan maksud kedatangannya. Ia juga menceritakan mengenai rombongan Jalung Bilung.
“Sebelumnya saya mohon maaf jika kedatangan saya terburu-buru dan tanpa persiapan. Maksud kedatangan saya adalah untuk melamar Urai Belawan,” ujar Jalung Merang, sembari dengan lembut, memberikan sebilah mandau yang telah kehilangan talinya, sebagai hantaran mas kawin.
“Hanya ini yang saya bawa. Jika para amai merestui, sungguh bahagialah hati saya. Namun, jika memang para amai sekalian lebih menghendaki Jalung Bilung, yang membawa perlengkapan adat yang lebih lengkap untuk menjadi menantu kampung ini, saya juga akan mundur dan menerimanya,” lanjut Jalung Merang.
Mendengar Jalung Merang datang untuk melamarnya, Urai Belawan tersipu-sipu, pipinya kemerahan, dan tersenyum-senyum sendiri penuh kegembiraan di belakang pintu kamarnya. Sementara ayah Urai Belawan, dan para tetua lamin itu tertegun sejenak mendengar maksud kedatangan Jalung Merang yang datang melamar hanya dengan sebilah mandau.
“Coba kau buka bilah mandau itu,” ujar ayah Urai Belawan.
Perlahan dicabutkanlah bilah mandau itu, telihat sebilah mandau yang berkilauan dengan nuansa kebiruan, itulah yang disebut sebagai mandau maliken. Melihat bilah mandau itu, para tetua tercengang, mereka sadar betul itu adalah mandau pusaka Dayak yang sangat berharga dari benda apapun yang mereka miliki. Sebenarnya di hati para tetua dan ayah Urai Belawan, tidak mempunyai keberatan sama sekali menerima lamaran itu, tetapi mereka kebingungan sebab syarat lamaran dan nikah adat tentu memerlukan syarat-syarat lain. Jika Lamaran diterima begitu saja, hal ini di luar kebiasaan mereka.
Lalu setelah diskusi singkat, ayah Urai Belawan akhirnya mengambil keputusan.
“Kau tahu, kau sejak dulu sudah kuanggap seperti menantuku sendiri. Meskipun mandau itu sangat bernilai, tapi pernikahan membutuhkan syarat-syarat lain. Sebab aku memiliki hutang budi pada ayahmu sewaktu muda, untuk itu akan kuberikang guci dan gong milik keluarga kami kepadamu, agar kau bisa gunakan sebagai mas kawin. Dan lamaranmu kami terima.”
Orang-orang bersorak-sorai mendengar keputusan yang diambil ayah Urai Belawan. Untuk mengejar waktu, pernikahan akan dilaksanakan esok pagi. Sebuah pengumuman adat diteruskan kepada semua penduduk malam itu juga, pernyataan bahwa Urai Belawan, kembang desa kampung itu sudah resmi dalam lamaran kekasihnya. Maka tidak boleh ada pihak lain lagi yang melakukan pinangan. Orang-orang diperintahkan segera mempersiapkan segala sesuatunya. Hati Jalung Merang sumringah, bahagia berkali-kali.
Esok pagi, datanglah rombongan yang dikirim ibu Jalung Merang yang memang telah dipersiapkan membawa bekal adat, keperluan untuk melamar. Ayah Urai Belawan dan Jalung Merang menyambut rombongan itu, lalu semua barang lamaran dari pihak Jalung Merang diserahkan. Lengkaplah kebahagiaan Jalung Merang dan Urai Belawan. Pernikahan, sebagai bentuk niat baik, memang harus dilakukan segera. Pesta meriah dipersiapkan dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Para pemetik sape’ memainkan musik gembira, gong dan gendang panjang dibunyikan. Orang bernyanyi dan menari dengan hati gembira.
Rombongan Jalung Bilung yang menunggu waktu baik di kampung Jalung Merang, terheran-heran ketika rombongan besar Jalung Merang yang membawa pasangan pengantin baru itu, tiba di sana.
“Bagaimana bisa Jalung Merang mendahuluiku, sebab saat aku berangkat ia masih di humanya. Perahuku pun punya pendayung paling cepat,” pikir Jalung Bilung.
Mengetahui Jalung Merang berhasil mendapatkan Urai Belawan, Jalung Bilung merasa kecewa dan marah. Ia merasa dicurangi. Namun atas nama persahabatan, itu tidak ia tunjukkan kepada Jalung Merang dan keluarganya. Lagi pula ia sadar telah tidak jujur mengenai maksud perjalanannya sebelumnya.
Ia dan rombongannya lantas maju memberi selamat kepada pasangan pengantin baru itu. Merupakan laku ksatria adalah memberi selamat pada pemenang.
Akhir kisah, ibu dan adik perempuan Jalung Merang kemudian menyambut anak dan menantunya. Sebuah pesta adat yang bersamaan dengan musim panen dilakukan dengan meriah. Rupanya Jalung Bilung terpesona degan kecantikan adik Jalung Merang. Jalung Bilung kemudian menikahi adik perempuan Jalung Merang. Lalu ikatan persahabatan berubah menjadi ikatan kekeluargaan. Dengan berbagai liku perasaan manusiawi dan takdir kehidupan di antara semuanya.