Hiduplah dua orang saudara yang bernama Nalau Krangkan Jadi dan Nalau Tabore. Sebenarnya mereka adalah tujuh bersaudara, namun lima saudara lainnya sudah berkeluarga hingga menyisakan mereka berdua. Setelah keduanya dewasa dan hidup dengan mapan, mereka kemudian mencari pasangan. Nalau Krangkan Jadi kemudian menikah dengan Lolang Lumading, atau yang bernama Pantahun. Lolang Lumading berasal dari kayangan. Sementara Nalau Tabore menikah dengan Urang Tambing Seberang yang bernama Deyang Ncaloke, ia merupakan ratu iblis.
Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading dikisahkan hidup bergelimang harta. Mereka memiliki ladang seluas tujuh datar dan tujuh gunung. Selain memiliki ladang yang sangat luas, mereka juga memiliki lappau (lumbung padi) sebanyak tujuh rumah dan tanaman palawija yang melimpah. Mereka juga dikaruniai seorang anak dalam pernikahannya. Akan tetapi, nasib nahas menimpa Nalau Krangkan Jadi dan keluarganya. Seluruh ladang, lappau, dan tanaman palawija yang ia miliki habis dimakan oleh anak-anak dari Nalau Tabore dan Deyang Ncaloke. Deyang Ncaloke yang seorang ratu iblis ternyata melahirkan anak berupa tikus, wareng, dan hama-hama tanaman. Musnahlah seluruh harta yang dimiliki Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading.
Nalau Krangkan Jadi jatuh miskin dan hidup dibelenggu kesulitan. Ia pun menyambung hidupnya dan keluarganya dengan nyanggul (berburu) ke hutan. Setiap hari ia akan pergi ke hutan membawa sangkoh dan bilah berumpan buah-buahan untuk menangkap hewan buruan. Lama menggantungkan hidup dengan berburu sang anak pun bertanya. “Pak kapan mencari arang, ini sudah masuk bulan pengharangan?” Setelah anaknya bertanya, barulah Nalau Krangkan Jadi mencari arang. Arang sudah didapat, sang anak berujar lagi “Pak ini sudah masuk bulan betampaan (menampa besi).” Akhirnya Nalau Krangkan Jadi menampa besi untuk membuat parang yang digunakan untuk merintis (mencari hutan untuk membuka ladang). Si Anak lantas bertanya lagi kepada Nalau Krangkan Jadi “Pak, kapan kita nabbes?”
Akhirnya Nalau Krangkan Jadi merintis dan nabbes (menebang pohon) untuk membuka ladang. Saat lahan sudah bersih dan menjadi rabbe (lahan untuk ladang) si anak pergi mehantiling (menangkap udang) di sungai. Ternyata sang anak mendapatkan udang emas, udang itu kemudian ia masukkan ke dalam mulut (kuhum). Akan tetapi, saat udang itu berada di dalam mulutnya, ia merasakan gatal yang tidak tertahankan. Sang anakpun bersin, saat bersin inilah keluar semburan api dari mulutnya dan membakar rabbe sang ayah. Api terus menjalar membakar lahan, padahal saat itu hujan badai sedang terjadi namun api justru semakin membesar. Seluruh pohon berjatuhan, tonggak-tonggak kayu patah dilahap api. Hal ini justru membuat lahan yang mereka buka siap untuk menjadi ladang.
Sang anak pulang ke rumah menemui ayah dan ibunya, yaitu Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading.
“Pak tadi rabbe sudah dimakan api,” ujar si anak.
“Mana ada api.” Nalau Krangkan Jadi menimpali.
“Tadi aku pergi menangkap udang ke sungai, lalu mendapat udang emas. Udangnya aku masukkan ke dalam mulutku, tetapi rasanya gatal jadi aku bersin. Saat aku bersin udang emas tadi berubah menjadi api yang keluar dari mulutku pak.” Si anak menceritakan kronologi lahan terbakar kepada kedua orang tuanya.
“Ah, kamu berbohong.” Kedua orangtuanya, tidak mempercayai ucapan sang anak. Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lomading tidak percaya karena saat itu hujan badai sedang terjadi dan tidak mungkin dapat membakar lahan di tengah hujan badai. Akibat merasa telah dibohongi oleh sang anak, mereka berdua akhirnya memukuli anaknya. Mereka tidak percaya bahkan tanpa melihat langsung ke lahan, namun terus menyiksa si anak. Anak itu tidak tahan menahan siksaan kedua orang tuanya, akhirnya ia pun pergi dari rumah. Ia kemasi pakaian seadanya dan pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Lama waktu berjalan setelah sang anak pergi, barulah mereka berdua pergi melihat ke lahan. Apakah benar kata sang anak bahwa ladang telah terbakar dan siap untuk dijadikan ladang. Setelah sampai ke lahan, mereka menyesal pasalnya ucapan sang anak benar adanya. Lahan memang telah terbakar. Duka menyelimuti keduanya. Mereka kemudian berusaha mencari sang anak kemana-mana. Ternyata sang anak berada di rumah neneknya, yaitu orang tua dari Lolang Lumading. Setelah meninggalkan rumah si anak memutuskan untuk tinggal di kayangan bersama sang nenek.
Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading meminta sang anak untuk pulang. Mereka pun menyesal karena tidak percaya pada anaknya sendiri bahkan sampai menyiksa sang anak. Akan tetapi, sang anak sudah tidak lagi dapat ditangkap gerakannya sangat lincah. Ternyata sang anak telah memiliki kesaktian hingga tidak lagi dapat ditangkap.
“Bapak dengan Mamak jangan cari saya lagi. Saya sudah kerasan tinggal di sini. Bapak sama Mamak pulang saja,” ungkap sang anak. Setelah mendengar ucapan sang anak, Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading merasa lega dan hilang penyesalannya. Mereka pun pulang, dan sang anak tinggal di kayangan bersama neneknya. Saat perjalanan pulang mereka berdua mendengar ada suara tangisan anak kecil. Suara itu kian santer terdengar, mereka pun mencari sumber suara. Hingga menemukan seorang anak perempuan terbaring di antara rumpun bunga yang ditanam oleh Lolang Lumading.
Saat anak perempuan itu diambil seluruh hewan berbunyi. Ayam berkokok, anjing menggonggong, kucing mengeong, tupai berbunyi, burung-burung berkicau. Riuh suara hewan saat anak itu dibawa oleh Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading. Suara hewan-hewan tidak berhenti berbunyi. Keduanya kebingungan, hingga datanglah seekor burung Emporokkan memberitahu cara membawa anak perempuan itu.
“Ambil tikolok (kerudung/tutup kepala), kemudian balut anak ini. Sodok menggunakan kayu dan tempatkan di dalam tikolok barulah kalian bisa mengangkat anak ini.” Ujar si Burung. Mendengar hal itu, mereka pun mengikuti anjuran yang diberikan oleh Burung Emporokkan. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah, namun suara bunyi-bunyian hewan tetap saja riuh. Mereka letakkan anak perempuan itu di muara pintu masih saja hewan berbunyi, di letakkan di tengah rumah masih sama saja. Kemudian dibuatkan kelambu berwarna putih dan diletakkan di dalamnya barulah suara bunyi riuh hewan berhenti.
Anak perempuan itu pun mereka rawat dengan senang hati layaknya anak kandung sendiri. Terlebih setelah anak kandungnya memilih tinggal di kayangan bersama sang nenek, tiba-tiba anak perempuan ini hadir di dalam kehidupan mereka. Berselang lama pada suatu malam, mereka berdua bermimpi. Dalam mimpi tersebut mereka harus mengorbankan anak yang baru didapat. Si anak perempuan harus dibunuh, dicencang, dan ditaburkan ke ladang.
Keesokan harinya, si anak perempuan melihat kedua orangtuanya sedang bersedih. Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading melamun, memikirkan mimpi yang semalam terjadi.
“Pak, Bu, apa yang sedang kalian lamunkan”? si anak bertanya kepada orang tuanya.
“Tidak ada yang kami lamunkan nak.”
“Bapak dan Ibu bohong. Saya sudah tau. Bapak dengan ibu ini sedih karena saya harus dikorbankan,” ungkap si anak.
Mendengar ucapan anak perempuannya, mereka heran ternyata si anak sudah mengetahui mimpi yang mereka alami semalam. “Iya, memang benar seperti itu mimpinya. Tapi, rasanya kami tidak tega.”
“Kalau bapak dan ibu tidak tega. Gendong saja saya di belakang bapak, setelah itu baru ditusuk menggunakan parang dari depan. Jangan dilihat ke belakang ya pak. Sampai di ladang baru saya dicencang, dipotong-potong. Setelah di potong baru ditaburkan ke ladang, dan ditaburkan juga di dalam embokkan. Di dalam mimpi ternyata si anak perempuan telah memberi tahu kedua orang tuanya untuk turut membuat embokkan di samping lahan untuk berladang.
Akhirnya dengan berat hati Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading mengorbankan sang anak. Pilu rasa hati mereka, pasalnya setelah kehilangan anak kandung kini mereka juga harus kehilangan anak yang mereka temukan. Anak itupun digendong dan ditusuk dari depan. Setelahnya dibawalah anak itu ke ladang dan dicencang, lalu ditaburkan ke ladang. Dan ditaburkan juga ke dalam embokkan.
Tiga hari kemudian mereka diberikan mimpi oleh si anak perempuan. Anak itu berkata kenapa orang tuanya tidak pernah menengok ladang. Keesokan harinya merekapun menengok ladang, mereka terperanjat saat melihat ladang ternyata padi sudah tumbuh tinggi dan subur. Tidak hanya padi yang tumbuh di ladang mereka, melainkan ada mentimun, timun suri, dan tanaman palawija juga tumbuh subur. Akan tetapi, Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading justru mencabut tanaman itu karena rupanya yang seperti rumput. Pada malam hari, mereka bermimpi dan si anak perempuan berkata “Jangan dicabut tanaman itu, itu adalah dayang saya.”
Beberapa waktu berlalu hingga menjelang panen, saat padi menjadi beham (padi ketan) mereka berdua kembali mendapatkan mimpi. Si anak perempuan berujar “Kenapa padi belum diambil?” Saat padi sudah bunting terdapat satu padi di dalam embokkan yang besar buntingnya sebesar guci. Padi lainnya tumbuh menjadi buah padi, tetapi satu padi di dalam embokkan tidak, hanya bunting saja.
Hingga waktu panen tiba, padi yang di dalam embokkan tadi itulah yang dipotong. Si anak perempuan memberi petunjuk cara memotong padi itu di dalam mimpi, bahwa saat padi itu dipotong harus digendong layaknya menggendong anak. Padi itupun dipotong, dan digendong. Suara hewan-hewan kembali riuh seperti saat pertama kali menemukan si anak perempuan. Setiap jalan yang dilintasi hewan berbunyi riuh, hingga sampai di dalam rumah. Buah padi yang sebesar guci tadi diletakkan di dalam kelambu. Berselang tiga malam kemudian, bibit padi itu pecah dan ternyata ada anak perempuan itu di dalamnya. Betapa bahagianya hati Nalau Krangkan Jadi dan Lolang Lumading mengetahui anak itu kembali. Merekapun membuat pesta menyambut kembalinya si anak perempuan. Kembalinya si anak perempuan itulah yang kemudian menjadi cikal-bakal tradisi Nutuk Beham dilaksanakan.