Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Asal Usul Kampung Mencimai
Sinopsis Kisah Kisah asal-usul Kampung Mencimai menceritakan tentang dua orang pemburu dari suku yang berbeda, yaitu Mai dari Suku Tunjung dan Mai dari Suku Benuaq, yang tidak sengaja terpisah dari anjing peliharaan mereka saat berburu di dalam hutan. Ketika anjing mereka menggonggong di balik rimbunan rumput, mereka menemukan sebuah barang tua dan terlibat perdebatan panjang karena masing-masing menggunakan bahasa suku mereka untuk menyebut barang tersebut—Mai Tunjung menyebutnya itih barang mai (barang tua), sementara Mai Benuaq menyebutnya ohoq manciq atau manciq nahaq (tong tua). Setelah meminta penengah kepada ketua adat di desa, ketua kampung menjelaskan bahwa arti sebutan keduanya sama saja, sehingga tempat penemuan barang tersebut dinamakan manciq mai yang kini dikenal dan disingkat menjadi Kampung Mencimai di Kabupaten Kutai Barat.

Cerita Lengkap

Di saat matahari mulai tenggelam di dalam kegelapan yang suram, ada orang – orang tua dulu yang sedang berburu di dalam sebuah hutan, mereka berdua berasal dari suku yang berbeda tetapi karena perbedaan itu sendiri lah yang membuat mereka untuk berburu secara bersama – sama di dalam sebuah hutan, yang penuh dengan banyak binatang buas di dalamnya. Orang yang pertama berasal dari suku Tunjung, sering dipanggil dengan nama Mai dari Tunjung dan orang yang kedua berasal dari suku Benuaq, sering dipanggil dengan nama Mai dari Benuaq. Bergabung di dalam hutan membentuk sebuah kelompok untuk berburu bersama – sama di dalam hutan, kedua orang tua ini tidak mengerti satu sama lain, dikarenakan terkendalanya bahasa yang berasal dari suku yang berbeda. Mereka bertemu saat dalam perjalanan menuju hutan, masing – masing dari mereka membawa anjing peliharaan mereka yang biasanya dibawa untuk berburu hewan buruan di dalam hutan.

Di saat mereka bertemu satu sama lain, hari pun ternyata sudah mau gelap sebentar lagi, karena hari sudah mau mulai gelap mereka pun langsung bertanya antara satu sama lain. Untuk membentuk sebuah kelompok yang berisikan dua orang, apalagi harinya sudah mau mulai gelap, akan berbahaya berburu di dalam hutan seorang diri hanya dengan anjing peliharaannya. Orang yang berasal dari suku Tunjung pun bertanya,

“ bagaimana?, kalau kita bersama – sama untuk pergi masuk dan berburu ke dalam hutan, dikarenakan harinya juga sudah mulai mau gelap, akan berbahaya kalau masuk dan berburu di dalam hutan sendrian dan hanya di temani hewan peliharaan saja “. Tanya Mai Tunjung dengan bijak, serta dengan sikap yang berani.

“ Baiklah, menurut saya juga begitu, memang akan sangat berbahaya jika hanya sendirian berburu di dalam hutan dan hanya di temani anjing peliharaan”. Jawab Mai Benuaq dengan senang hati, serta sambil mengelus – elus dadanya seraya menghembuskan napas yang panjang.

Setelah itu, mereka pun langsung pergi bersama – sama masuk ke dalam hutan untuk pergi berburu hewan buruan. Saat mereka telah masuk ke dalam hutan, mereka pun langsung pergi menyisir hutan untuk mencari hewan yang dapat di buru. Hingga, kira – kira ada waktu sekitar 4 jam setelah mereka berada di dalam hutan, tetapi sampai sekarang mereka pun belum ada melihat satu pun hewan yang berlalu lalang di depan pengawasan mereka.

Lalu, yang lebih anehnya lagi, padahal tidak ada angin dan tidak ada hujan entah ada apa, sehingga tiba – tiba mereka terpisah dari anjing peliharaan mereka masing – masimg, mereka pun terlihat bingung satu sama lain. Lalu, mereka berbicara satu sama lain tentang bagaimana mereka bisa kehilangan anjing peliharaan mereka yang seharusnya ada di samping mereka untuk memandu jalan untuk menemukan hewan buruan yang sedang mereka cari.

“ Mai Benuaq!, kira – kira?, kenapa dari tadi ada hal – hal yang aneh, terus terjadi di sekitar kita?”. Tanya Mai Tunjung yang sedang kebingungan, dengan suasana yang makin mencekam.

“ Benar!, Mai Tunjung dari tadi, aku juga merasa ada yang aneh di dalam hutan ini, hari juga sudah gelap, setelah kita menemukan anjing peliharaan kita, mari kita langsung pergi pulang ke desa?. Jawab Mai Benuaq yang sedang merinding.

“ Baiklah, aku pun juga setuju dengan pendapatmu”. Jawab Mai Tunjung dengan suasana yang mulai mencair.

Setelah itu, mereka pun langsung cepat – cepat mencari anjing peliharaan mereka yang tiba – tiba menghilang di dalam hutan. Tetapi....., sesaat setelah mereka terus – terusan menyisir daerah dalam hutan, tiba – tiba..., mereka terkejut mendengar sesuatu yang sangat kencang dari arah kejauhan. Mai Benuaq pun, berinisiatif mengajak Mai Tunjung,untuk bersama – sama mencari asal suara yang sangat kencang itu, walaupun suara itu masih agak samar karena berasal dari arah yang sangat jauh.

“ Mai Tunjung, ayo kita periksa asal dari suara yang sangat kencang itu, aku sangat penasaran, mungkin itu suara anjing peliharaan kita yang menggonggong karena menemukan hewan buruan yang sedang kita cari “. Ajakan Mai Benuaq sambil berjalan secara perlahan mengikuti asal dari suara itu.

“ apakah kamu yakin Mai Benuaq?, bisa saja itu suara air sungai yang sangat deras di sekitar pinggiran hutan ini..”. Tanya Mai Tunjung kepada Mai Benuaq, dengan ragu – ragu.

“ Mai Tunjung, apakah kamu takut dengan suara itu?, sesuatu yang berasal dari dalam pohon besar yang kita temui di tengah hutan tadi?, yang berada di dalam hutan ini ?”. Tanya Mai Benuaq yang khawatir.

“ Hahhhh...!, tidak mungkin aku takut akan sesuatu itu!, kalau memang kamu ingin pergi memeriksa asal suara itu, aku juga akan ikut bersamamu, karena sekarang hari sudah gelap akan berbahaya jika berjalan di dalam hutan sendirian “. Jawab Mai Tunjung dengan tegas.

“ baik!, kalau begitu.., ayo kita mencari asal dari suara yang sangat kencang itu “. Jawab Mai Benuaq dengan semangat.

” Baiklah, mari kita jalan “. Jawab Mai Tunjung dengan tersenyum

Tiba – tiba , pada suatu tempat di dalam hutan, anjing berburu mereka menggonggong dengan suara yang sangat kencang, sehingga mereka berdua pergi untuk menghampiri anjing mereka yang sedang menggonggong untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.Sesaat, setelah mereka menemui anjing mereka yang sedang menggonggong dengan sangat kencang, mereka terheran – heran, dan mereka terlihat bingung entah apa yang terjadi tetapi mereka tidak ada melihat hewan buruan di depan anjing mereka. Yang mereka lihat di depan anjing mereka hanyalah lebatnya rimbunan rerumputan dan tidak terlihat sama sekali hewan buruan, sehingga mereka menjadi penasaran ada apa di dalam rerumputan yang sangat rimbun itu, yang sampai membuat anjing mereka bergonggong dengan sangat kencang dari arah yang sangat jauh dari mereka.

Sesaat setelah mereka membuka rimbunan rerumputan itu, ternyata di dalam nya terdapat sebuah barang. Mai Tunjung yang berasal dari suku Tunjung, menyebut barang itu dengan sebutan “ itih barang mai “ yang berarti ini barang tua. Lalu, Mai Benuaq yang berasal dari suku Benuaq menyebut barang itu dengan sebutan” ohoq manciq “ yang berarti tong tua yaitu “ manciq nahaq “.

Karena mereka berdua yang terus berdebat, tentang nama asli dari barang yang mereka temukan, mereka pun setuju untuk pulang pergi ke kampung untuk bertanya kepada ketua di desa, tentang siapa yang benar.

“ daripada kita berdua terus berdebat seperti ini, bagaimana kita pergi pulang ke desa untuk menanyakan kepada ketua desa?, tentang siapa yang benar dan yang salah diantara kita berdua?”. Tanya Mai Tunjung dengan serius.

“ Baiklah kalau begitu, daripada kita tidak menemukan akhir dari perdebatan ini, mari kita berdua menemui ketua desa! “. Jawab Mai Benuaq dengan tegas.

Setelah itu, mereka pun pergi ke kampung untuk bertanya kepada ketua desa yang berada di kampung, dikarenakan mereka berdebat tentang nama penyebutan yang asli dari sebuah barang yang mereka temukan di hutan, dalam sebuah rimbunan rerumputan. Mai Benuaq yang berasal dari suku benuaq, ia bingung karena Mai Tunjung yang berasal dari suku tunjung mengucapkan nama barang yang mereka temukan dengan sebutan “ barang mai “, tetapi Mai Benuaq, yang berasal dari suku benuaq menyebut barang itu dengan sebutan “ Manciq nahaq’.

Begitu juga dengan Mai Tunjung yang berasal dari suku Tunjung pun, ikut juga terheran – heran dengan ucapan dari Mai Benuaq yang berasal dari suku benuaq tentang sebutan nama asli dari barang yang mereka temukan. Sehingga ketua kampung yang melihat mereka yang terus berdebat tanpa akhir memberikan sebuah petuah.

“ kalian semua ini, benar semua, tidak ada yang salah dari barang mai itu ya manciq tua, tidak ada yang berbeda dari cara penyebutan kalian semua, artinya sama saja “. Jawab ketua kampung dengan tegas serta serius.

Setelah itu, daerah tempat mereka menemukan barang itu, dinamakan dengan “ manciq mai “, yang berarti tong tua. Sehingga sekarang disingkat menjadi Mencimai padahal nama aslinya adalah “ manciq mai “. Generasi sekarang lebih mengenal “ Manciq mai “, sebagai Mencimai yang berasal dari daerah Kabupaten Kutai Barat.