Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Lakun Budai
Sinopsis Kisah Lakun Budai (Kelakuan Budai) mengisahkan tingkah konyol dan kepolosan Budai, seorang anak laki-laki yang rajin namun sangat lugu dan ceroboh di dataran Linggang, Kutai Barat. Kepolosannya kerap memicu kekonyolan dan kehebohan, mulai dari menaburkan seluruh garam belanjaannya ke tanaman pakis liar di sepanjang jalan karena salah mengartikan perintah sang ibu, hingga menangis sesenggukan sambil memeluk seekor kancil hangus yang disangkanya sang ibu saat ladang dipenuhi asap tebal. Di balik kelakualannya yang menggelitik, cerita rakyat Suku Dayak Tunjung Rentenukng ini menyimpan pesan moral mendalam tentang pentingnya ketelitian dalam mencerna informasi serta kehati-hatian agar tidak bertindak gegabah saat menghadapi kendala.

Cerita Lengkap

Pada jaman dahulu kala di sebuah desa di dataran Linggang, hiduplah seorang anak bernama Budai. Budai adalah anak sulung yang hidup bersama ibunya. Mereka hidup bertani yang berpindah-pindah dari satu ladang ke ladang yang lain. Budai bertubuh kurus dan pendek serta berkulit gelap karena terbakar matahari, meskipun badan kecil dan kurus Ia sangat rajin dan giat bekerja membantu ibunya di ladang seperti mengangkat padi, menanam singkong dan membersihkan rumput pada tanaman padi, meskipun terkadang bukan rumput atau semak yang ditebas, tetapi malah tanaman padi yang ditebasnya atau ketika Dia menanam singkong bukan batang singkong yang ditanam melainkan batang kayu. Budai merupakan anak yang lugu dan polos serta ceroboh, terkadang juga bodoh sehingga membuat ibunya selalu marah-marah setiap hari dengan kelakuannya yang seperti itu.

Hari ini Ibu Budai memasak sayur piko. Ketika sedang memasak Ibu Budai baru sadar jika garam yang ada di dalam jiee telah habis, maka dipanggilah Budai ke dapur.

“Budai, oi Budai, metih aleq koq, elau ale cehaq non mem tih, akuq tih ewah nyehaq piko” (Budai oi Budai, ke sini dulu kamu, cari dulu garam untuk ibumu ini, aku ini mau menggarami pakis merah) teriak Ibunya dari dapur.

Mendengar teriakan Ibunya segera Budai bergegas ke desa untuk mencari garam. Jarak antara dangau3 mereka dan desa lumayan jauh. Jika berjalan kaki butuh waktu satu jam untuk sampai di sana, akhirnya sampailah Budai di tempat orang menjual garam, setelah selesai membeli sebungkus garam, Budai pun segera kembali lagi ke ladang.

Di tengah perjalanan kembali pulang dia melihat banyak sekali tanaman piko tumbuh di pinggir jalan. Ia pun teringat akan perkataan Ibunya bahwa garamnya untuk piko.

“Gahan Meeq no cehaq tih non nyehaq piko, pas was tih nyi akuq nyehaq eraq piko neq alui” (“Kata Ibu tadi garam ini untuk menggarami pakis merah, kebetulan sekali aku menggarami pakis merah ini duluan”) kata Budai. Menurut budai, Ibunya pasti senang karena Budai telah melaksanakan tugas dengan baik hari ini.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Budai pun mulai menghamburkan semua garam yang dibelinya tadi di tanaman piko yang tumbuh di sepanjang jalan. Garam pesanan Ibunya pun habis tak tersisa, dengan wajah gembira Budai pulang ke dangau.

Setiba di dangau, Budai memberikan bungkusan plastik garam ke Ibunya,

“Budai, dinya cehaq ke, nyama engkadi keresek palstik ke tih beneh?” (“Budai, di mana garamnya, kenapa hanya ada bungkusan plastiknya saja?” tanya Ibu Budai.

“Soq akuq nyi nyehaq piko ke nyi meeq”

(“Sudah aku garami pikonya bu”) kata Budai dengan bangga.

“Piko? Piko yaq inya? Piko yaq tenumis kayoq neq nyi teloh lubas sion may was nungguq koq muliq”

(Piko? Piko yang mana? piko yang Ibu tumis ini sudah berubah warna karena lama sekali menunggu kamu pulang” kata Ibunya kesal.

“Piko ke soq tenyehaq kayoq meeq”

“(Pikonya sudah aku garami bu” kata Budai lagi

“Aman soq tenyehaq nyama bi uge tawa Budai?”

(“Kalau sudah digarami kenapa masih hambar Budai?” tanya ibu lagi

“Aloome selatn lah akuq neq nyi, bi nyehaq piko di calaq” (“Aloome salahlah aku ini tadi malah menggarami piko yang di jalan”) Budai pun terperanjat, Ia baru sadar ternyata dia salah mengartikan maksud Ibunya. Maksud Ibunya adalah menggarami masakan mereka yang ada di dapur, bukan piko yang tumbuh di jalan.

Mendengar Budai telah menggarami piko di jalan, betapa marah Ibunya atas kebodohan anaknya. Akhirnya Budai pun kembali lagi ke desa untuk membeli garam.

Lain cerita di hari berikutnya, Budai dan Ibunya akan pergi membakar ladang, seperti para petani lainnya sebelum menanam padi, mereka selalu membakar ladang yang bertujuan agar tanaman seperti padi yang akan mereka tanam dapat tumbuh dengan subur, begitu juga dengan ladang Budai.

Karena kecapean mehongkakng Budai pun tertidur pulas di bawah pohon rindang tempat mereka berteduh. Karena tidak ingin membangunkan Budai yang sedang tertidur pulas akhirnya Ibu Budai pun bergegas sendirian menuju ladang untuk membuat puhutn lagi.

Tiba-tiba Budai terbangun dari tidurnya, dilihatnya wenau sudah mulai terbenam. Ia pun segera bergegas mencari Ibunya sambil terus memanggil nama ibunya tetapi tetap tidak didapatinya, dengan wajah gelisah ia pun berteriak memanggil-manggil Ibunya.

Dilihatnya ladang mereka telah penuh dengan kabut asap yang sangat tebal. Budai begitu panik dan bergegas menuju ke tengah ladangnya. Sesampainya di tengah ladangnya, dari kejauhan tampak sesuatu yang meloncat-loncat dan terjatuh. Pikir Budai itu adalah Ibunya. Budai panik sekali dan berlari ke arah makhluk itu. Tanpa berpikir panjang dan memperdulikan panasnya api, sehingga membuat tangannya melepuh, Budai tetap memeluk makhluk itu dan menangis sejadi-jadinya.

Tiba-tiba seseorang mendekati Budai dan berkata “Aloyoh, Budai nyama yaq tengepakng kepm neq?” (“Aloyoh, Budai apa yang kamu peluk ini?”)

“Akuq lagi ngepakng men kayoq tutukng ngan apui” (“Aku sedang memeluk Ibuku yang hangus terbakar api”) kata Budai tanpa menoleh

“Meem tih di ditih buday, ginaq mateq!” (“Ibumu di sini Budai, belum meninggal!”) ujar Ibu Budai sangat kesal

“Yaq koq ngepakng joq pelokaq7 yaq tutukng kenaq apui” (“Yang kamu peluk itu pelokaq yang hangus terbakar api”) lanjut ibunya lagi.

Budai pun menoleh ke arah Ibunya dan dilihatnya dengan seksama, ternyata benar Ibunya masih hidup. Dihapusnya air matanya itu dan bangkit berdiri, Ibunya pun menyuruh Budai membawa pelokaq itu pulang ke rumah untuk dijadikan lauk mereka.

Dari cerita rakyat tentang kelakuan Budai yang menggarami tanaman piko memberikan pesan moral agar kita tidak terburu-buru dan ceroboh dalam menyimpulkan sebuah informasi, sedangkan cerita ke dua tentang Budai yang mengira ibunya mati terbakar api memberikan pesan moral bahwa kita jangan panik dan bertindak gegabah ketika mendapati masalah harus berpikir jernih agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.