Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Gua Mundau
Sinopsis Kisah Gua Mundau menyajikan kisah ketahanan hidup yang luar biasa dan pembalasan atas pengkhianatan kejam di pedalaman Kutai Barat. Cerita ini berfokus pada perjuangan Mundau, seorang pemuda yang dijebak dan ditinggalkan di dalam gua sedalam 30 meter oleh sahabatnya sendiri. Tanpa bekal dan penerangan, Mundau berjuang bertahan hidup sendirian selama tujuh tahun menyusuri lorong-lorong bawah tanah yang membawanya menembus dasar Sungai Mahakam, hingga secara dramatis ia muncul kembali ke permukaan tanah dari lubang tanam padi warga. Berbekal tekad kuat untuk kembali pada sang istri, kepulangannya justru menyibak kenyataan pahit yang menguji batas kesabarannya demi menuntut keadilan atas pengkhianatan yang merenggut masa lalunya.

Cerita Lengkap

Thung! Thung! Thung!

Suara Asaq menghujam tanah. Bersahut-sahutan. Lubang-lubang terbentuk. Bibit-bibit padi dilemparnya ke dalam. Tepat sasaran.

Thung! Thung! Thung!

Kembali Asaq dihujamkan. Barisan orang kompak menanam padi gunung. Para lelaki mememegang Asaq. Membuat lubang. Sementara para perempuan mengikuti di belakangnya. Melempar benih. Mereka bergotong royong saling membantu.

Thung!

Asaq tertancap. Namun, keanehan terjadi. Lelaki yang berada di baris tengah itu tak mampu menarik kembali Asaqnya. Ia kuat tertancap. Ada apa? Bisiknya dalam hati.

Krekk! Ditariknya lagi. Asaq masih tak beranjak. Lelaki itu menambah kekuatan tarikan. Kembali melakukan percobaan. Namun, keadaan tidak berubah.

“Kenapa?” tanya perempuan di belakang yang tak lain adalah istrinya.

“Tak tahu aku,” jawab lelaki itu kebingungan. “Bantu aku menariknya!”

Sepasang suami istri itu susah payah menarik Asaq. Entah kekuatan apa yang menahannya. Asaq itu bergeming, tetap pada tempatnya.

Merasa kekurangan tenaga, ia memanggil lelaki di sebelahnya. Tanpa banyak piker, yang dipanggil bergegas membantu. Mereka menarik Asaq sama-sama. Namun, tetap saja batang kayu itu kuat menancap.

Dipanggilnya lagi lelaki lain. Satu, dua, dan beberapa orang akhirnya ramai-ramai menarik Asaq berbahan kayu ulin tersebut. Dengan kekuatan tarikan orang sebanyak itu, Asaq akhirnya berhasil diangkat. Akan tetapi, keanehan muncul. Mereka tidak hanya menarik Asaq keluar dari lubang, tetapi juga membawa seorang lelaki keluar dari dalam tanah tersebut.

Rupanya orang itulah yang menahan Asaq dari dalam.

Semua terbelalak. Semua kaget, tak menduga bakal mendapati itu. Yang lebih mengagetkan lagi, lelaki itu keluar tanpa busana.

Hari itu seperti biasa, Mundau pergi mencari madu di hutan. Bersama temannya ia menyusuri hutan, memilah satu pohon ke pohon lainnya. Setelah berjalan sekian kilometer usahanya tampak membuahkan hasil. Mereka berdua menemukan sebuah pohon besar. Sangat besar dan tinggi. Begitu besarnya sampai tak cukup dipeluk oleh dua pasang tangan orang dewasa. Itulah pohon meranti yang menjulang tinggi.

“Mundau, kau naikklah!” perintah temannya. Di atas sana tampak sebongkah sarang lebah yang sepertinya mengandung banyak madu.

Tanpa menaruh curiga, Mundau pun naik. Karena besarnya pohon itu, ia tidak bisa memanjat pohon setapak demi setapak seperti layaknya memanjat pohon kelapa. Ia membutuhkan satu alat khusus. Alat itu berupa tali panjang yang dikaitkan di salah satu dahannya.

Usai mengaitkan tali, Mundau kemudian naik. Ia tak memiliki perasaan apa pun bahwa sesuatu yang buruk bakal menimpa dirinya. Setahap demi setahap ia menaiki pohon menggunakan tali yang sudah dikaitkan ke dahan. Sesaat kemudian, usahanya membuahkan hasil. Ia mencapai titik yang sudah ditentukan. Beberapa langkah lagi ia berhasil mencapai sarang lebah yang berisi banyak madu.

Mundau tampak girang. Namun, di bawah sana, kawan Mundau punya rencana jahat. Mundau menoleh ke bawah, bermaksud memberi tahu kawannya bahwa ia siap meraih madu di sarang lebah tersebut. Dua pasang matanya tak mendapati siapa pun di bawah sana. Napasnya tercekat. Kawannya telah kabur. Yang lebih mengagetkan lagi, ia juga membawa lari tali yang Mundau gunakan untuk menaiki pohon. Celaka! Mundau tidak mungkin bisa turun dari pohon raksasa itu.

Mundau mengumpat. Marah betul pada kawannya itu. Ia tidak mengira bahwa kawan baik yang selama ini selalu bersama tega berbuat sejahat itu padanya. Namun, Mundau sadar, apa pun yang terjadi, ia tetap harus berusaha turun. Ada istri di rumah menunggu kepulangannya. Mundau tak ingin membuat istrinya cemas apa lagi kehilangan dirinya.

Di tengah kekalutan hatinya, Mundau masih bisa berpikir jernih. Ia mencari akal bagaimana caranya bisa turun dari pohon besar itu dengan selamat. Tanpa tali mustahil baginya bisa turun dari titik pohon setinggi itu. Jika nekat melompat, bisa hancur lebur tulang-tulangnya.

Mundau menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari jalan keluar. Nasib baik memihaknya. Tepat ketika ia menoleh ke kiri sepasang matanya menangkap sebatang kayu panjang yang tersangkut di salah satu dahan pohon tak jauh dari posisinya. Entah siapa yang menaruh batang tersebut, harapan hidup Mundau kini tertumpu padanya.

Berbekal kemampuan dan pengalamannya dalam menaklukkan puluhan bahkan ratusan pohon, ia langsung tahu harus berbuat apa. Diraihnya batang tersebut. Setelah menimang-nimang, ia merasa yakin bahwa batang tersebut cukup panjang untuk membantu turun dari pohon dengan selamat. Dengan kekuatan dan kecerdikan yang dimilikinya, ia turun menggunakan batang kayu kecil nan kuat itu. Diikatnya batang kayu itu ke tubuhnya. Mundau memperhitungkan panjang batang kayu itu cukup untuk membantunya turun. Swing! Tubuh Mundau mengayun, meluncur deras ke bawah. Ayunan itu membuat jarak tanah dan tubuh Mundau cukup dekat. Dengan sekali gerakan lincah Mundau melepas ikatan kayu kemudian lompat turun. Ia berhasil selamat. Lelaki muda itu lalu mengucap syukur dan bergegas pulang.

Kejadian itu rupanya membuat Mundau murka. Ia melaporkan kawannya ke dewan adat. Sebagai konsekuensi, kawannya itu harus membayar denda atas perbuatan jahatnya pada Mundau. Dengan ditunaikannya hukuman adat tersebut Mundau pun memaafkannya. Mereka kembali berkawan.

Di samping mencari sarang madu, Mundau dan kawannya juga punya keahlian lain. Mereka pandai mencari sarang burung walet di gua-gua yang sulit dijangkau manusia pada umumnya. Seperti yang terjadi pada hari itu, Mundau dan kawannya pergi bersama ke hutan. Kawannya bilang ada sarang burung walet di sebuah gua tak jauh dari hutan yang biasa mereka jelajahi. Mereka berdua lalu memutuskan pergi ke gua tersebut di hari yang sudah disepakati. Mundau kembali tak menaruh curiga.

Sekian kilometer jarak yang mereka tempuh. Tibalah keduanya di gua yang dituju.

“Di sana! Di bawah sana sarang walet itu berada,” tunjuk kawan Mundau ke sebuah lubang gua sedalam 30 meter.

Mundau lalu menyiapkan peralatan yang dibutuhkan. Dalam hitungan menit, tali panjang dan sebuah keranjang yang dikaitkan pada tali sudah siap digunakan. Mereka memang selalu membawa lengkap peralatan yang dibutuhkan setiap memburu sarang walet. Peralatan seperti tali dan keranjang tersebut digunakan untuk turun ke dalam gua. Mengandalkan kedua benda itulah salah satu dari mereka turun. Sementara yang lainnya menjaga tali di atas untuk menarik kembali yang turun jika telah berhasil mendapatkan sarang walet yang diinginkan.

“Kau turunlah, Mundau!” perintah kawannya yang sudah memiliki rencana lain.

Mundau tak sadar bahwa sebuah kejahatan sedang direncanakan kembali untuknya. Untuk mencelakai dirinya.

Mundau pun turun menggunakan tali dan keranjang itu. Tali itu diulurkan perlahan, sehasta demi sehasta. Tak butuh lama, lelaki yang belum dikaruniai seorang anak itu sudah mencapai dasar lubang gua sedalam 30 meter. Mundau melihat ke sekeliling. Dasar gua itu rupanya cukup luas. Saat itulah, saat ia lengah kawan Mundau diam-diam menarik tali dan keranjang. Tepat ketika keranjang itu sudah berada di pucuk lubang gua, Mundau baru menyadari akan kelakuan jahat kawannya. Cepat-cepat ia berteriak.

“Hei! Hei!”

Yang diteriaki tak menyahut. Ia justru berlari dan pergi seakan tak peduli dengan keselamatan Mundau.

“Hei! Kembali kau!” teriaknya lagi. Namun, percuma teriakan itu sudah tak lagi terdengar oleh kawannya. Ia sudah jauh meninggalkan Mundau seorang diri.

“Gila! Tak jera ia menipuku!” umpat Mundau kesal.

Mundau lalu berpikir keras, mencari cara keluar dari dalam gua. Percuma jika terus-terusan mengumpat dan marah pada kawannya. Yang terpenting baginya adalah mencari cara bagaimana ia bisa pulang ke rumah dengan selamat.

Lubang gua sedalam 30 meter itu sangat sulit untuk ditaklukan dengan tangan kosong. Ukurannya kecil, licin, dan tegak lurus. Mustahil bagi siapa pun untuk keluar dari lubang gua itu tanpa peralatan yang memadai. Tanpa tali dan keranjang itu, sulit bagi Mundau untuk bisa naik ke atas sana.

Mundau memutuskan berjalan ke sembarang arah. Ia telusuri jalan setapak di gua itu. Tak ada matahari sebagai penunjuk arah mata angin. Tak ada penunjuk jalan untuk keluar. Namun, untuk bisa selamat, ia tak boleh diam. Ia harus bergerak dan terus bergerak. Diam tak menjamin keselamatan. Bergerak memberinya kesempatan untuk hidup. Ia pun melangkah mengikuti kata hatinya.

Musibah kali ini tak semudah sebelumnya ketika ia berada di atas pohon Meranti raksasa. Tak lama baginya menemukan cara untuk bisa turun dari pohon itu dengan selamat. Sementara di dalam gua itu, ia sudah melangkah jauh berpuluh kilometer dan masih belum menemukan jalan keluar. Meskipun begitu, Mundau tak putus asa. Harapan hidupnya sangat besar. Ada seseorang yang harus ia temui. Ada seseorang yang harus ia jaga. Ada seseorang yang menanti kembalinya dengan selamat. Orang itu adalah istri cantiknya.

Puluhan kilometer telah ia lalui. Mundau bertahan hidup dengan memakan apa pun yang ia temukan. Ada belalang, ia makan belakang. Ada tanaman, ia makan tanaman. Apa pun itu selama bisa memberinya harapan hidup akan ia makan.

Hari berganti. Bulan berlalu. Tahun demi tahun tak terasa sudah Mundau lewati berada di dalam gua seorang diri. Namun, semangatnya untuk kembali tak pernah pudar. Ia terus melangkah ke mana kata hati memberi petunjuk.

Tujuh. Ya, tujuh tahun sudah Mundau menelusuri jalan seorang diri. Tujuh tahun sudah ia tak juga kembali. Entah bagaimana nasib istrinya. Mundau tak tahu. Kepada siapa ia harus bertanya? Sementara setiap tapak jalan yang ia lalui, tak seorang pun ia temui.

Begitu jauh jarak yang Mundau lalui. Entah ke mana gua itu bermuara.

Tes!

Sebutir air menetes, jatuh dari langit-langit gua. Mundau mendongak. Air dari mana?

Tes!

Jatuh lagi butiran air yang kedua. Kali ini mengenai kepala. Sepertinya aku sedang berada di dasar Mahakam.

Tak salah dugaan Mundau. Ia memang sedang berada di dasar sungai Mahakam. Sejauh itu Mundau telah melewati perjalanan seorang diri.

Jatuhnya titik-titik air dari langit-langit gua, Mundau manfaatkan dengan baik. Meskipun sedikit air itu cukup bisa membasahi tenggorokannya yang kering. Pertolongan Tuhan tak hentinya datang pada orang yang mau berusaha.

Tujuh tahun telah banyak mengubah dirinya. Rambutnya tumbuh memanjang. Begitu pun kumis dan jenggotnya. Pakaian yang ia kenakan malah sudah tak berwujud lagi. Rusak dan sobek di mana-mana. Boleh dibilang, ia telanjang. Tetapi siapa juga yang akan melihatnya? Bukankah ia seorang diri di dalam gua? Peduli apa.

Saat kelelahan. Saat harapan hampir hilang. Saat putus asa datang, tiba-tiba terdengar suara.

Thung! Thung! Thung!

Suara itu sangat akrab di telinganya. Mundau mengenal betul suara itu.

Thung! Thung! Thung!

Itu suara orang mendugal . Suara batang kayu yang menghantam tanah. Kayu yang melubangi tanah.

Mendengar suara itu semangat hidup Mundau bangkit. Langkah kakinya ia percepat. Menuju sumber suara.

Thung! Thung! Thung!

Semakin ia melangkah, semakin keras suara itu terdengar.

“Hei! Hei!” Mundau berteriak. Mencoba peruntungan siapa tahu orang yang berada di atas tanah itu mendengar teriakannya.

Usahanya sia-sia.

Thung!

Suara itu semakin keras terdengar. Mundau menghampiri titik di mana suara itu datang. Tepat ketika ia melangkah serpihan tanah mengenai kepalanya.

Thung!

Benar dugaanku! Kata Mundau dalam hati. Ada orang sedang mendugal di atas sana.

Thung!

Kali ini serpihan tanah yang jatuh lebih banyak.

Thung!

Lagi, serpihan tanah berjatuhan. Bahkan ada sebagian yang mengenai kepala dan menyangkut di sela-sela rambutnya.

Thung!

Tepat ketika Asaq itu menancap, saat itu juga Mundau meraih Asaq itu. Kedua tangannya mencengkeram Asaq sekuat tenaga.

Krekk!

Seseorang di atas sana mencoba menarik kembali Asaqnya. Usahanya gagal.

Krekk!

Tangan Mundau masih mencengkeram erat Asaq itu.

Tak berselang lama terdengar langkah kaki. Jumlahnya cukup banyak. Mundau menduga beberapa orang di atas sana sedang berusaha menarik kembali Asaq yang ia tahan.

Inilah saatnya!

Benar dugaan Mundau. Sekian detik berikutnya Asaq itu ditarik ramai-ramai dari atas. Dengan kekuatan orang sebanyak itu, mereka berhasil mengangkat Asaq. Di waktu bersamaan muncul pula Mundau yang tanpa busana.

Untuk beberapa hari Mundau tinggal di kampung itu guna memulihkan diri. Lotoq nama kampung itu. Kampung yang terletak tak jauh dari gunung Rampah.

Kepada warga setempat ia bercerita bagaimana semua bermula. Mundau juga menceritakan dengan lengkap kawan yang tega mencelakai dirinya itu.

“Istrimu masih hidup,” kata salah seorang warga ketika Mundau menyebut nama istrinya.

“Benarkah?” rauh wajah Mundau tampak sumringah.

“Ya, tapi kau jangan berbangga dulu,” jawab orang itu.

“Kenapa?”

“Istrimu …,”

“Ya, istriku kenapa?” tanya Mundau tak sabar.

“Istrimu sudah diperistri orang.”

Deg!

Hancur hati Mundau. Ia tak mengira istrinya akan setega itu meninggalkan dirinya dan menikah dengan orang lain.

Mundau terduduk lemas. Matanya tak jelas menatap apa.

“Sabar, Mundau. Ia mungkin mengira kau sudah mati.”

Benar juga. Dalam hati Mundau membenarkan. Sudah tujuh tahun lebih aku meninggalkannya. Tentu ia mengira aku sudah mati.

“Kau tahu dengan siapa istriku menikah?”

Orang itu menyebut nama. Alangkah terkejutnya Mundau ketika mendengar nama itu disebutkan. Pantas saja orang itu tega mencelakainya.

“Kurang ajar!” teriak Mundau kesal.

Bergegas Mundau berkemas. Ia pamit kepada warga sekitar untuk pulang dan menemui istrinya. Ia sudah memiliki rencana. Hanya dia yang tahu apa yang akan ia lakukan.

Setelah menempuh sekian kilometer, tibalah Mundau di kampung halamannya: kampung Perigiq. Ia masih ingat di mana rumahnya berada. Di sanalah istrinya tinggal dengan suami barunya. Sayang sekali, rumah itu kosong. Penghuninya sedang tidak berada di tempat. Keadaan itu malah menguntungkan Mundau. Ia lalu masuk dan bersembunyi di atas rumah. Sembari menunggu kepulangan istri dan suami barunya, Mundau memainkan seruling. Permainan yang menjadi ciri khas keahliannya. Tak ada penduduk kampung Perigiq yang memainkan seruling sehebat Mundau.

Suara seruling itu terdengar hingga kejauhan. Istri Mundau yang sedang berada di ladang juga mendengar suara itu. Ia bahkan mengenal baik permainan seruling itu.

“Tak ada seorang pun lelaki di kampung ini yang memainkan seruling sehebat itu kecuali Mundau,” lirih suara istri Mundau. Meski begitu, suami barunya itu yang duduk di sebelahnya mendengar dengan jelas. Mereka berdua sedang istirahat setelah sekian waktu bekerja.

“Ah, tidak mungkin,” kata suaminya. “Sudah tujuh tahun lamanya. Mundau pasti sudah mati. Paling tinggal tulang belulangnya saja yang masih ada.”

Sore hari mereka berdua memutuskan pulang. Suara seruling itu sudah tak lagi terdengar. Akan tetapi mereka tidak mengira ada seseorang yang sudah menunggu kedatangan mereka cukup lama. Begitu keduanya masuk, Mundau langsung mengenali lelaki yang mengawini istrinya. Tanpa banyak pikir, Mundau langsung loncat turun dari atas rumah. Dengan parang yang tajam, Mundau menebas tubuh lelaki yang tak lain adalah kawannya sendiri. Kawan yang dua kali mencelakainya.