Pada zaman dahulu di daerah pedalaman Kalimantan Timur, tepatnya daerah suku Dayak Benuaq. Dibangunlah sebuah rumah lamin, kemudian diberi nama Lamin Tanjung Lahung. Lamin tersebut ditempatkan oleh beberapa kepala keluarga, kemudian setelah sekian tahun lamanya rumah lamin tersebut mulai ditinggalkan.
Jumlah anggota keluarga yang bertambah banyak serta meningkatnya kebutuhan hidup pada setiap anggota keluarga menjadi alasan Lamin Tanjung Lahung mulai di tinggalkan dan menyisikan beberapa kepala keluarga, hingga hanya tersisa satu kepala keluarga yaitu ayah dari Noso, Nonga, Ave , Rempiaq dan Buncuq.
Keluarga-keluarga yang berpindah membangun rumah yang tidak jauh dari Lamin Tanjung Lahung. Semakin lama semakin banyak jumlah kepala keluarga, sehingga terbentuk sebuah kampung, yang disebut Kampung Tanjung Lahung.
Lima gadis cantik yang bernama Noso, Nonga, Ave, Rempiaq dan Buncuq, mereka semua adalah saudara kandung. Mereka tingggal di Lamin Tanjung Lahung bersama dengan kedua orang tua mereka. Ketika kelima gadis ini sudah mulai beranjak dewasa, ibu mereka jatuh sakit kemudian meninggal dunia. Berselang beberapa tahun ayah dari kelima gadis cantik ini juga meninggal dunia dikarenakan umur yang memang cukup tua.
Ketika ayah dari kelima gadis itu meninggal dunia Rempiaq pergi meninggalkan keempat saudaranya karena hendak bersuami. Kemudian yang tersisa di lamin itu hanyalah Noso, Nonga, Ave dan Buncuq.
Selain rumah lamin, warisan mendiang ayahnya hanyalah empat lokasi tanah kosong yang bisa di kelola. Noso merupakan kakak tertua dan dia yang memiliki hak untuk membagikan warisan ayahnya. Noso membagikan warisan tanah itu kepada ketiga saudaranya, masing-masing mendapatkan bagiannya, namun Noso merasa bahwa bagiannya tidak cukup baginya, ia ingin memiliki lahan tanah yang lebih luas dari ketiga saudaranya. Kemudian Noso memberitahuakan kepada Buncuq saudara bungsunya, bahwa bagian yang ia dapat hanyalah sebidang tanah yang di tanami satu pohon beringin. Luas tanah yang hanya diukur oleh rimbunnya dedaunan pohon beringin.
“Ini sudah bagian kamu, terima aja” ucap Noso.
“Kak bukannya aku tidak bersyukur dengan pembagian tanah ini, tetapi kenapa diantara kita berempat aku diberikan bagian yang cukup kecil, aku juga ingin menanam padi yang banyak kak, bukankah ini cukup saja jika kita bagi rata” ujar Buncuq dengan wajah sedih.
“Kamu mau atau tidak, jika tidak, kamu tidak akan memperoleh apa-apa atas warisan ini” ucap Noso tegas.
Sementara Nonga dan Ave terlihat sangat tidak perduli dengan Buncuq yang sedang diperlakukan tidak baik oleh Noso. Ave yang sedang berbincang dengan seorang pria dari Kampung Lahung, yang bernama Kerongoq, kerongoq adalah salah satu pria yang begitu menyukai Ave, dan hampir setiap hari datang ke Lamin untuk sekedar menemui Ave, bahkan pria itu sering membawa makanan hasil buruannya untuk di masak oleh Ave dan ketiga saudaranya.
Ave merasa terganggu dengan percakapan Noso dan Buncuq.
“Ribut betul!” ucap Ave dengan wajah kesal.
“Kamu yang ribut, makanya kalo mau ketemu pria jangan di sini!” bentak Noso.
“Hei, bukan kamu yang punya rumah ini, jadi jangan seenaknya usir orang”. Ucap Ave yang merasa tersinggung dengan ucapan Noso
“lihat kamu tu, masih mau sama Kerongoq, semua orang tau dia pria bodoh yang ceroboh, dia kekanak-kanakan!”. Ucap Noso sambil tersenyum mengejek Ave.
Ave Bungen Tana, memiliki wajah yang sangat cantik di antara ketiga saudaranya, oleh sebab itu Lamin Tanjung Lahung akan selalu di datangi oleh tamu-tamu pria yang tertarik dengan Ave.
Sementara Nonga ia tengah sibuk menari gantar di depan Lamin Tanjung Lahung, bersama dengan penari-penari lainnya. Nonga bertubuh tinggi dan memiliki badan yang cukup lentur sehingga akan begitu sempurna ketika ia menari. Nonga dan Ave mengetahui rencana jahat Noso, namun keduanya merasa tidak perduli dengan adik mereka Buncuq. Buncuq Sadar bahwa kakaknya telah mengambil hak miliknya, namun dia bisa apa, selain hanya tetap bersyukur karena masih diberikan tanah untuk ia kelola.
Suatu ketika sebelum musim menaman padi tiba, Noso, Nonga, Ave dan Buncuq pergi ke sungai untuk mencuci pakaian. Ketika sampai di tepi sungai, keempat gadis ini terpana melihat seorang pemuda tampan, pria ini bernama Ayus. Ayus tidak sendiri, pria itu bersama Kerongoq, keduanya terlihat sedang menimba perahu.
Kerongoq yang terlebih dahulu menyadari keberadaan keempat gadis ini segera menyapa mereka.
“Oyy, ada bidadari lewat” ucap Kerongoq.
“Coba diam!”. ujar Noso ketus. Lalu keempat gadis itu pergi agak sedikit jauh dari keberadaan Ayus dan Kerongoq.
“Maaf ya, dia memang begitu sifatnya, kami mau pergi cuci pakaian”. Ucap Buncuq yang berjalan paling belakang dari ketiga saudaranya
“Oh iya, tidak masalah cantik, aku bantu nimba perahu orang ini, dia baru pertama kali berada di kampung kita” ucap Krongoq.
“Ayus, ini si Buncuq” ujar Kerongoq, Buncuq dan Ayus berkenalan, kemudian gadis itu pamit pergi untuk menyusul ketiga saudaranya. Setelah hari itu, Buncuq sering bertemu dengan Ayus.
Mereka menjalin keakraban selayaknya seorang teman, dan Buncuq tahu bahwa Ayus tidak akan lama berada di Kampung Tanjung Lahung, Ayus menceritakan tujuannya berada di kampung Lahung karena pria itu hanya berkeliling dari hulu ke hilir untuk mencari saudara kandungnya yang bernama Siluq. Saudaranya pergi meninggalkannya. Kedekatan antara Buncuq dan Ayus menimulkan kecemburuan bagi ketiga saudara Buncuq.
Suatu ketika Noso mengumpulkan ketiga saudaranya, kemudian ia berkata
“Sebentar lagi kita akan masuk kedalam musim menanam padi, mari kita berlomba, siapa yang memiliki hasil panenan terbanyak akan memperoleh hak utama atas Lamin Tanjung Lahung dan boleh mendekati Ayus, bagaimana apakah kalian setuju?” ujar Noso.
“Kalo kalah?” tanya Ave.
“Jika kalah, kalian boleh tetap tinggal di Lamin Tanjung Lahung, tetapi status kalian bukanlah sebagai orang yang berkuasa di rumah, dan siapapun yang kalah tidak berhak untuk mendekati Ayus!” jawab Noso lagi.
“Aku setuju” ucap Nonga, ia menyetujuinya karena ia pikir walaupun dirinya kalah ia tetap bisa tinggal di rumah, dan terlebih Nonga tidak tertarik dengan Ayus.
“Bagaimana dengan kalian?” tanya Noso sambil menatap Ave dan Buncuq.
“Setuju” ucap Ave, gadis itu percaya bahwa ia akan memenagkan perlombaan ini, karena Kerongoq berjanji akan membantunya menanam padi, dan walaupun ia kalah, ia yakin Ayus akan mendekatinya, karena Ave merasa bahwa kecantikannya akan menyelamatkannya. Sementara disisi lain Buncuq hanya diam saja, ia tidak menyetujui perlombaan yang diadakan oleh kakaknya, sementara ia hanya memiliki lahan yang kecil untuk menanam padi, pasti saja ia akan kalah, dan lagi Buncuq merasa sedih jika ia harus menjauh dari Ayus.
”Baiklah karena sudah lebih banyak yang setuju, maka kita akan bersama-sama bersaing untuk menang” ujar Noso.
Ketika musim menanam padi, keempat wanita ini sama-sama berkerja keras untuk mengelola ladang milik mereka masing-masing. Noso, Nonga, Ave sangat jarang kembali ke lamin, karena mereka lebih sering bermalam di rumah ladang mereka masing-masing. Kecuali Buncuq, karena ia memiliki lahan yang sempit, untuk membangun rumah ladang saja akan memakan banyak tempat, oleh sebab itu ia memutuskan untuk tinggal di Lamin saja, dan akan sering mengunjungi ladangnya dan untung saja jarak dari Lamin sampai ke ladang milik nya tidak terlalu jauh, Buncuq hanya perlu melewati jalan setapak kecil, lalu melewati jembatan dari sebatang pohon meranti yang dibawahnya terdapat rawa-rawa.
Padi sudah menguning dan sudah mulai di tuai, hari itu adalah hari yang panas, terik matahari begitu menyengat dan terasa sangat membakar kulit. Noso sudah menyimpan beberapa karung beras hasil panenannya di dalam lumbung. Gadis itu berdiri di depan pintu Lamin Tanjung Lahung sambil memandang ke depan, tiba-tiba saja muncul seekor anak anjing yang bertubuh kurus, anjing itu terlihat begitu kelaparan.
“Gauu ge’emph, sake gare gerai gasoq, sake gulut gerai gasoq” lolong seekor anak anjing yang terlihat sangat kurus dan kelaparan. Anak anjing itu terus melolong untuk meminta makanan kepada Noso, namun Noso dengan raut wajah yang kesal mengambil sebatang kayu bakar dari bawah kolong rumah lamin, kemudian memukul anjing kecil itu dengan keras hingga membuat anjing kecil itu lari terbirit-birit. Besoknya anak anjing itu kembali melewati Lamin Tanjung Lahung, didapatinya Nonga sedang menganyam anjat yang akan digunakan untuk membawa padi.
“Gauu ge’emph, sake gare gerai gasoq, sake gulut gerai gasoq” lolong anak anjing itu kepada Nonga, merasa begitu terganggu, Nonga melempar parang yang berada di sampingnya dan hampir saja mengenai anak anjing itu, kemudian anak anjing itu berlari meninggalkan Nonga. Lalu hari berikutnya anak anjing itu mendatangi Ave yang tengah membakar api di bawah rumah lamin.
“Gauu ge’emph, sake gare gerai gasoq, sake gulut gerai gasoq” lolong anak anjing itu lagi, Ave merasa jijik ketika melihatnya, begitu kurus dan penuh dengan luka, kemudian gadis itu mengambil batu kecil dan melemparnya, membuat anak anjing itu berlari terbirit-birit.
Beberapa hari telah berlalu, Buncuq baru saja pulang dari ladang, gadis itu membawa hasil panenannya yang memang tidak seberapa. Baru saja ingin menaiki tangga, Buncuq begitu berbelas kasihan ketika melihat seekor anak anjing yang terbaring lesu di bawah kolong lamin. Anak anjing itu kembali melolong
“Gauu ge’emph, sake gare gerai gasoq, sake gulut gerai gasoq” melihat itu Buncuq segera berlari mengambil anak anjing itu dan membawanya keatas lamin. Kemudian Buncuq memasak beras hasil panenannya dan memberi makan anak anjing itu, Buncuq begitu senang ketika melihat anak anjing itu makan dengan lahap.
“Trimakasih banyak kau sudah memberi aku makanan” ucap anak anjing itu. Buncuq terkejut karena ia menyadari bahwa anak anjing tersebut adalah sakti. Kemudian Buncuq mengambil beras yang masih tersisa banyak, lalu menghamburkannya di atas tikar.
“Bawalah ini, untuk persediaan makanan mu nanti” ucap Buncuq.
“Sungguh baik lakumu, sebentar aku akan membasahi buluku ke sungai” ucap anak anjing itu, kemudian berlari ke sungai dan datang kembali dengan bulu yang basah, lalu anak anjing itu mengguling-gulingkan tubuhnya di atas beras yang Buncuq taburkan di atas tikar, sehingga beras itu menempel pada selah-selah bulu si anak anjing.
“Trimakasih banyak Buncuq, aku sudah kau beri makan hingga kenyang dan kini kau memberi aku persediaan, sesunggunya padi yang kau tanam akan terus menghasilkan bulirnya, hingga berhenti musim menuai barulah akan berhenti menghasilkan bulirnya” ujar anak anjing itu, yang kemudian berlari dan menghilang, meninggalkan Buncuq sendiri.
Pagi-pagi benar Buncuq pergi ke ladangnya, ketika sampai gadis itu terkejut karena melihat padi yang sudah ia panen kembali menghasilkan bulir yang menguning, demikianlah Buncuq membuat lumbung yang cukup besar untuk hasil panenannya dan pada akhirnya Buncuq lah yang memenagkan perlombaan diantara ketiga saudaranya. Noso, Nonga dan Ave begitu penasaran, mengapa Buncuq memiliki hasil panenan yang begitu melimpah, sedangkan ia hanya memiliki lahan yang teramat kecil.
“Apakah rahasia mu, sehingga hasil panenan mu begitu melimpah?” tanya Noso.
“Aku hanya memberi makan anak anjing kecil” jawab Buncuq.
“Anjing kecil, bukannya anak anjing itu juga datang kepadaku waktu itu?” ujar Ave.
“Aku juga” sahut Nonga dan Noso secara bersamaan. Meneysallah ketiga saudara Buncuq karena tidak memberi makan anak anjing itu.
Beberapa hari kemudian datanglah Ayus menemui Buncuq dan ketiga saudaranya, pria itu menyampaikan bahwa ia akan kembali pulang ke kampung halamannya, dan ia akan berhenti untuk mencari saudaranya, lalu Ayus menyampaikan maksud lain dari kedatangannya, ia ingin mengammbil Buncuq menjadi istrinya dengan maksud membawa Buncuq pergi.
Buncuq juga telah jatuh cinta terhadap Ayus, gadis itu menyetujui ajakan Ayus. Bertambah menyesallah ketiga saudara Buncuq karena mereka merasa kehilangan sosok Buncuq yang begitu baik. kemudian Buncuq berkata kepada ketiga saudaranya
“Rumah Lamin ini adalah peninggalan orang tua kita, ini milik kita bersama, walaupun aku yang memenangkan perlombaan ini, tetapi aku berharap di antara kita tidak perlu ada pertengkaran untuk memperebutkan rumah ini, rawatlah dengan baik, aku pamit pergi untuk memulai hidup baru, maafkan aku jika selama ini tidak bisa menjadi saudara yang baik” Noso memeluk Buncuq kemudian ia meminta maaf untuk segala perbuatannya yang jahat, demikian juga Nonga dan Ave.
“Mengapa di saat Buncuq akan pergi, aku baru menyadari betapa berharganya jika kita berempat hidup dengan rukun” ujar Noso, yang membuat tangis kembali pecah diantara keempat gadis itu. Demikianlah Noso, Nonga dan Ave melepaskan Buncuq pergi bersama Ayus, dan pada akhirnya mereka masing-masing menjalani kehidupan dengan baik.