Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang
Sinopsis Kisah Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang menyajikan cerita rakyat Dayak Kenyah yang sarat emosi tentang ketabahan jiwa, bahaya dengki, dan keagungan maaf. Berawal dari pertengkaran sepele dua gadis cilik memperebutkan sebutir buah hutan, rasa iri yang meluap memicu Sinen Urai Luang hingga tega celaka dan menimbun Sinen Urai Lingot di bawah batu besar di belantara hutan. Di tengah keputusasaan, keajaiban dan doa menuntun Sinen Urai Lingot untuk selamat, bahkan kembali ke kampung halaman dengan membawa hasil buruan berharga demi sang putri tercinta. Lewat kepulangannya, cerita ini menyentuh hati pembaca melalui ketulusan Sinen Urai Lingot yang membalas kejahatan dengan kebaikan, hingga sanggup meluluhkan dendam dan memulihkan keharmonisan persahabatan yang sempat terputus.

Cerita Lengkap

Cahaya berwarna kuning keemasan menyinari langit desa yang menandakan waktu sore telah datang. Dengan hembusan angin yang tenang mengenai dedaunan yang hijau menambah suasana nyaman desa di kala sore hari itu, burung-burung berterbangan kembali pada sarang nya setelah seharian mencari makan, para penduduk setempat juga berjalan pulang dari ladang mereka, setelah seharian menggarap kebun untuk menyambung hidup mereka, dari arah hilir tampak dua wanita berserta dua anak putri yang berjalan menuju rumah mereka setelah seharian menggarap ladang. Mereka adalah Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang berserta anak-anak mereka yang bernama Urai Lingot dan Urai Luang.

Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang adalah seorang janda, suami mereka telah meninggal dunia, dan dari perkawinan mereka dikaruniai masing-masing seorang putri yang cantik jelita, kulit yang putih bersih, mata yang indah dengan kelopak mata disertai bulu mata yang lentik hanya rambut serta gigi mereka yang berbeda, anak dari Sinen Urai Lingot memilik rambut sedikit bergelombang sepinggang dan gingsul di giginya sedangkan anak dari Sinen Urai Luang memiliki rambut lurus sebahu dan giginya rapi.

Setiap hari mereka pergi ke ladang bersama-sama dan pulang bersama-sama juga, rumah mereka cukup berdekatan hanya berbatasan jarak sekiranya 20 meter, begitu juga dengan ladang mereka yang tidak berjauhan yang tepatnya Sinen Urai Lingot di hulu dan Sinen Urai Luang di hilir, terkadang ketika sedang berada di ladang mereka juga sambil menangguk ikan.

Suatu hari, Sinen Urai Luang memanggil putri nya yang bernama Urai Luang untuk mengajak nya pergi ke ladang sekaligus menangguk ikan.

“Nak, kemarilah katakan kepada Sinen Urai Lingot untuk bersiap-siap lah karena kita akan pergi ke ladang sekarang juga”. Ucap Sinen Urai Luang

Urai Luang pun segerah pergi ke rumah Sinen Urai lingot untuk menyampaikan pesan ibunya tersebut. Sesampainya di halaman rumah Sinen Urai Lingot, Urai Luang mendapati Sinen Urai Lingot yang sedang menyapu halaman rumahnya dari dedaunan kering yang berjatuhan di halaman rumahnya.

“Sinen Urai Lingot… ibu meminta ku untuk menyampaikan pesan nya kepada mu untuk bersiap-siap pergi, kita pergi ke ladang sekarang juga”. ucap Urai Luang kepada Sinen Urai Lingot

“Baiklah Urai Luang katakan, kepada ibumu kami akan bersiap-siap”.

Setelah Sinen Urai Lingot menjawab pesan ibunya Urai Luang pun pulang kerumahnya.

Sinen Urai Lingot pun segerah memanggil anaknya yang bernama Urai Lingot untuk menyiapkan alat-alat yang diperlukan di ladang.

“Nak…, Sinen Urai Luang menyuruh kita bersiap-siap untuk pergi ke ladang siapkan lah alat-alat kita untuk di ladang jangan lupa bawa tangguk untuk menangkap ikan”.

“Iya ibu”. jawab Urai Lingot yang berada di dalam rumah

Urai Lingot pun menyiapkan alat-alat yang di perlukan di ladang, tak lupa pula membawa tangguk yang di suruh ibunya untuk menangkap ikan. Setelah semua perlengkapan ladang telah disiapkan Sinen Urai Lingot dan anaknya pergi ke rumah Sinen Urai Luang yang rupanya Sinen Urai Luang dan anaknya telah menunggu mereka di depan rumah, dan kemudian mereka pun berangkat bersama-sama ke ladang. Dalam perjalan Sinen Urai Luang bertanya kepada sinen Urai Lingot.

“Sinen Urai Lingot setelah merumput nanti bagaimana, kita menangguk ikan”. ucap Sinen Urai Luang kepada Sinen Urai Lingot

“Boleh saja, rumput yang di cabut itu kita buang ke sungai kecil yang berada di tepi ladang kita agar air nya menjadi keruh sehingga ikan nya mudah untuk kita tangguk”.

“Baiklah”. jawab Sinen Urai Luang meyetujui usulan Sinen Urai lingot

Sampai di persimpangan jalan mereka pun berpisah menuju ladang mereka masing-masing. Sesampainya Sinen Urai Lingot dan anaknya di ladang mereka langsung merumput, rumput-rumput yang telah dicabut oleh mereka lalu dibuang ke sungai kecil di tepi ladang agar air sungai tersebut menjadi keruh yang memudah kan Sinen Urai Lingot dan anaknya menangguk ikan. Sinen Urai Lingot dan anaknya merumput sangat rajin sehingga sebelum tengah hari sebagian besar rumput di ladang mereka sudah habis, merasa rumput yang mereka cabut hampir habis Sinen Urai Lingot dan anaknya lalu melanjutkan pekerjaan mereka dengan menangguk ikan, setelah berapa lama mereka merasa ikan yang mereka tangguk cukup Sinen Urai Lingot dan anaknya beristrirahat di pondok dikarenakan juga lapar mereka pun memakan bekal yang memang sudah disiapkan dari rumah.

Nasib sebaliknya terjadi pada Sinen Urai Luang, di ladang Sinen Urai Luang rerumputan tumbuh begitu banyak, hingga datang nya tengah hari pekerjaan mereka belum pula selesai. Sementara itu, tampak dari hulu sungai air tampak keruh, menandakan bahwa Sinen Urai Lingot dan anak nya tengah menangguk ikan. Melihat hal tersebut, Sinen Urai Luang segera memanggil putri nya untuk membawa tangguk menuju ladang Sinen Urai Lingot. Sesampai nya di sana, tampak Sinen Urai Lingot dan putri nya tengah mencabuti rerumputan yang sudah separuh bersih dari ladang nya. Mereka melanjutkan mencabuti rerumputan seusai makan siang, dengan rasa bingung Sinen Urai Luang pun segera menghampiri Sinen Urai Lingot.

“Sinen Urai Lingot, aku mengira engkau tengah menangguk ikan. Tampak air telah keruh, dan aku segerah berlari menuju ladang mu untuk menyuruh Urai Luang segerah mengangguk ikan bersama”. ujar Sinen Urai Luang, dengan nada bingung

"Maafkan aku Sinen Urai Luang, aku tidak menepati janji kita. Tadi sebelum tengah hari ladang ku hampir sebagian besar telah selesai dari rerumputan sehingga aku dan Urai Lingot memutuskan untuk menangguk ikan terlebih dahulu, dan tampak nya ikan cukup untuk makan malam nanti sehingga kami kembali melanjutkan merumput kami”. ujar Sinen Urai Lingot berusaha menjelaskan kepada Sinen Urai Luang agar memaafkan nya.

"Ya sudah, tidak apa. Mari, menangguk ikan lagi lihat lah ini hasil tanggukan ku masih sedikit sekali tidak cukup untuk makan malam nanti”. ujar Sinen Urai luang menunjukkan hasil tanggukan nya, sebenarnya Sinen Urai Luang cukup iri dengan ladang Sinen Urai Lingot yang sudah sebagian tampak bersih dari rerumputan

"Baiklah, tunggu aku akan mengambil tanggukan terlebih dahulu”. balas Sinen Urai Lingot segera berjalan menuju pondok nya untuk mengambil tanggukan dan kembali menuju arah sungai

Di tengah jalan, Ia menghampiri putri nya

"Urai Lingot, pergi lah bermain bersama dengan Urai Luang. Ibu akan pergi menangguk terlebih dahulu bersama Sinen Urai Luang di sungai”. ucap Sinen Urai Lingot, dan di balas dengan anggukan pelan dari putri nya

"Baik Bu, aku akan bermain bersama Urai Luang”. Urai Lingot segera berlari menuju Urai Luang dan mengajak nya bermain bersama

Sinen Urai Lingot serta Sinen Urai Luang segera pergi ke sungai, tampak masih banyak ikan di sungai itu sehingga hanya dalam sekali tangguk Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang mendapat enam hingga tujuh ekor sekaligus.

Sementara itu, Urai Luang dan Urai Lingot tengah asyik bermain di ladang. Hingga, Duk! Sebuah Ubai terjatuh dari atas pohon Ubai tak jauh dari mereka berdua. Ubai adalah sejenis buah rambutan namun tidak memiliki rambut-rambut kecil. Melihat hal tersebut, dengan cepat Urai Lingot berlari dan memungut buah Ubai tersebut dengan kesal Urai Luang yang tadi nya ingin mengambil buah tersebut namun terdahului oleh Urai Lingot segera menghampiri sahabat nya tersebut. Ia dengan cepat hendak merampas paksa buah Ubai dari tangan Urai Lingot dengan berteriak cukup kencang.

“Berikan buah itu kepadaku aku yang lebih dahulu melihatnya”. ucap Urai Luang sambil terus meraih buah yang berada di tangan Urai Lingot

“Buah ini milik ku aku yang terlebih dahulu mengambilnya”. balas Urai Lingot sambil mengindar dari Urai Luang

Sehingga terjadi perebutan di antara Urai Lingot dan Urai Luang sehingga memancing sebuah keributan yang sampai di telinga Sinen Urai Lingot, datanglah Sinen Urai Lingot untuk menasehati anaknya Urai Lingot untuk membagi buah ubai itu.

“Urai Lingot, jangan lah engkau makan buah Ubai itu sendiri tidak baik jika sesama kawan saling berebut, lebih baik bagi lah buah Ubai itu dengan Urai Luang, nanti jika sudah musimnya maka dapat lah kalian menikmatinya sampai puas karena dalam satu pohon saja jumlahnya tidak terhitung”.

Urai Lingot yang mendengar nasehat ibunya pun patuh. Ia pun membuka kulit buah Ubai dan mengisap buah Ubai itu sebentar lalu diserahkan pada Urai Luang begitu seterusnya mereka berganti-ganti mengisap buah Ubai itu. Rasa dari buah Ubai itu sangat manis namun mereka merasa tidak puas akan rasa manis itu, saat giliran Urai Lingot pun tidak sengaja menelan buah Ubai itu di karenakan mengisap sambil berbicara. Hal itu membuat Urai Luang marah dan berteriak memanggil ibunya untuk mengadukan perbuatan Urai Lingot.

“IBU! Lihat lah betapa rakus dan pelit nya Urai Lingot sehingga ia tidak ingin membagikan buah Ubai itu dengan ku!! Dan malah menelan nya”.

Urai Lingot yang mendengar amarah Urai Luang pun menjelaskan kepada Urai Luang bahwa, Ia tidak sengaja menelan buah Ubai itu.

"Tidak Urai Luang, aku tidak sengaja. Itu terjadi di karena kan aku berbicara sembari makan buah tersebut, sehingga Ia pun tertelan oleh ku”. jelas Urai Lingot

Urai Luang yang mendengar penjelasan dari Urai Lingot tidak percaya akan penjelasan tersebut, Ia malah mengatakan bahwa apa yang di katakan oleh Urai Lingot itu adalah bohong

"Apa yang di ucapkan Urai Lingot itu bohong! Engkau memang tidak senang dengan ku bukan? Ketika ibu mu meminta kita membagi buah Ubai itu, kau telah merencanakannya nya. Sungguh buruk sekali sifat mu Urai Lingot”.

Mendengar berbagai macam cacian tersebut, amarah Sinen Urai Luang memuncak. Ia segera memarahi Sinen Urai Lingot dan menyuruh nya untuk segera menegur putri nya.

"Sinen Urai Lingot, tegur putri mu itu agar Ia tidak berbuat jahat kepada orang lain, didik lah anak mu itu agar Ia memiliki sifat mau berbagi dengan orang lain!” Ujar Sinen Urai Luang dengan cetus.

“Sinen Urai Luang sungguh anak ku tidak sengaja menelan buah itu kita sama-sama mendengar penjelasan anakku,bahwa Ia tadi tidak sengaja karena dia tadi mengisap sambil berbicara kepada Urai Luang”. Sinen Urai Lingot berupaya menjelaskan perkara pertengkaran kedua anak mereka,

Namun ternyata Sinen Urai Luang tetap tidak percaya akan penjelasan Sinen Urai Lingot dan menduga bahwa jika ini merupakan kesengajaan supaya Urai Luang marah. Sinen Urai Lingot tidak ingin mempermasalahkan pertengkaran anak nya terus menerus hingga mereka pulang kembali dari ladang pun.

Dalam perjalanan pulang, timbul lah niat jahat Sinen Urai Luang kepada Sinen Urai Lingot. Di sela perjalanan pulang, masih terdengar pertengkaran antara dua putri mereka serta omelan-omelan dari Sinen Urai Luang kepada Sinen Urai Lingot, namun Sinen Urai Lingot tidak memperdulikan nya dan hanya terdiam. Ia tidak ingin lagi memperpanjang masalah ini, di karenakan pula matahari yang telah mulai menghilang di balik bukit dari ufuk barat. Di tengah-tengah perjalanan, Sinen Urai Luang mendapati sebuah batu besar di pinggir jalan setapak tersebut. Sinen Urai Luang mulai menjalankan niat jahat nya, dengan pelan Ia mengambil sebuah kayu cukup besar dan menarik lengan Sinen Urai Lingot yang berada di depan nya. Bruk! Hantaman keras mengenai kepala Sinen Urai Lingot sehingga Ia terjatuh tak sadar kan diri, melihat hal tersebut Urai Lingot segera berlari menghampiri Ibunya. Tangisan nya tak terbendung dan segera menangis kenjang hingga tergeletak tak berdaya di tanah.

“IBU!! Ibu bangun ibu…jangan tinggalkan Urai Lingot sendirian… IBU!!!”

Melihat tubuh Sinen Urai Lingot yang terbaring tak bergerak sedikit pun, Sinen Urai Luang segera menyeret nya menuju rerimbunan pohon dan segera menindih tubuh Sinen Urai Lingot dengan bebatuan besar. Tanpa memperdulikan tangisan Urai Lingot, Sinen Urai Luang segera menarik paksa diri nya untuk segera pulang ke rumah sementara Urai Lingot hanya dapat pasrah dan terus menangis mengira Ibunya telah tiada.

Sinen Urai Luang mengantarkan Urai Lingot yang masih menangis ke rumahnya, Sesampai di rumah Urai Lingot, dengan kasar Sinen Urai Luang mendorong nya dan meninggalkan sendirian sementara Urai Lingot tak henti-henti nya menangis, di tambah dengan ejekan-ejekan dari Urai Luang.

“Ibu mu sudah tidak ada, ibu mu sudah meninggal tertindis batu, kau sudah tidak memiliki ibu”. dengan tersenyum mengejek setelah itu Sinen Urai Luang dan anaknya pulang kerumah mereka meninggalkan Urai Lingot yang masih menangis

Keesokan paginya Sinen Urai Lingot siuman, dan merasa bahwa ada sesuatu yang besar dan berat yang tak lain adalah batu besar menindih tubuhnya, Ia menggeliat mencoba menggerakan kaki dan tangan nya berusaha untuk mendorong batu besar itu dari tubuh nya, namun batu besar itu sama sekali tidak bergerak hanya ada rasa sakit yang bertambah di tubuhnya, merasa usahanya sia-sia Sinen Urai Lingot pun terdiam sejenak, Sinen Urai Ligot pun berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk membantunya terlepas dari penderita ini.

“Ya Tuhan, tolong lah aku agar terlepas dari penderitaan ini, aku teringat pada anak ku jika aku mati hari ini, kasihan dia hidup sebatang kara dan siapa yang akan menolongnya”. Sinen Urai Lingot menggerakan tangan nya untuk mengusap wajah nya yang penuh dengan tanah

Tak berselang lama, terdengar bunyi merdu dari seekor burung yang di anggap sakti oleh masyarakat Dayak Kenyah, yaitu burung Murai.

“Wit..wit..seu seu seu..!” Burung Murai itu terbang dan bertengger tenang di atas dahan pohon tak jauh dari Sinen Urai Lingot yang tengah terbaring tak berdaya.

“Syukurlah, Tuhan telah mengabulkan doa ku”. batin Sinen Urai lingot Ketika melihat burung Murai

Sinen Uria Lingot pun meminta tolong kepada burung murai yang bertengger di pohon, agar mau menggolekan batu yang menindis badannya.

“Wahai Burung Murai, kasihanilah diri ku ini, tolong lah diri ku ini agar terlepas dari penderitaan ku ini bantu lah aku wahai Burung Murai untuk menyingkirkan batu besar ini dari tubuh ku. Aku ingin bertemu dengan putri ku Urai lingot”. pinta Sinen Urai Lingot dengan terisak memohon.

Mendengar rintihan itu, Burung Murai pun iba dan segera membantu Sinen Urai Lingot dengan menggulingkan batu yang menindih tubuh Sinen Urai Lingot. Dengan perlahan, Sinen Urai Lingot berusaha untuk bangkit dan berterima kasih kepada Burung Murai.

“Terima kasih Burung Murai, tanpa bantuanmu aku mungkin akan mati di tengah hutan ini dan mungkin tidak akan bertemu dengan anak ku lagi, sekali lagi terima kasih burung murai”.

Burung murai pun terbang meninggalkan Sinen Urai Lingot setelah mendengar ucapan terima kasih Sinen Urai Lingot. Sinen Urai Lingot pun berjalan dengan pelan-pelan menuju rumahnya, di saat perjalanan pulangnya perutnya terasa lapar, Sinen Urai Lingot pu mencari buah-buahan di sekitarnya yang dapat di makan sambil berjalan pandangan terus menatap mencari ke atas pohon buah-buahan yang dapat Ia makan. Ketika asyik mencari Sinen Urai Lingot melihat sebuah pohon dengan banyak sekali burung di pohon tersebut.

“Wah, di pohon itu pasti ada buahnya”. pikir Sinen Urai Lingot

Ternyata pohon tersebut adalah sebuah pohon cempedak, pohon tersebut memiliki buah yang sangat banyak serta semua nya tampak matang. Sinen Urai Lingot mencium aroma menggoda itu dan segera memanjat pohon tersebut dan segera mencari tempat untuk memakan buah cempedak tersebut, yaitu di salah satu dahan terkuat. Sinen Urai Lingot memakan buah cempedak dengan lahap, ketika buah tersebut habis Ia mengambil satu buah cempedak besar dan bulat saat ingin mengupas buah tersebut seekor babi hutan terlihat di bawah pohon, memakan sisa buah cempedak tadi dengan rakus. Karena Sinen Urai Lingot berada di atas pohon, Ia merasa aman akan babi hutan tersebut namun Ia seketika mendapat sebuah ide untuk membunuh babi tersebut.

“Dapatkah aku membunuh babi hutan itu untuk ku bawa pulang ke rumah, tapi dengan alat apa aku membunuhnya”. pikir Sinen Urai Lingot yang memiliki ide untuk membunuh babi hutan itu

Sebuah ide langsung timbul di kepala Sinen Urai Lingot, Ia pun langsung melihat ke arah tangannya yang sedang memegang buah cempedak.

“Apa aku gunakan buah cempedak ini ya…dengan sekali lemparan buah cempedak ini mungkin babi hutan ini itu akan mati”.

Dengan tekad yang sudah bulat Sinen Urai lingot melepas buah cempedak besar tepat mengenai bagian telinga yang merupakan bagian vatal dengan seketika babi hutan besar itu, dengan seketika babi hutan besar itu mati. Sinen Urai Lingot melihat keadaan babi hutan itu apakah masih hidup atau sudah mati, merasa babi hutan itu sudah mati Sinen Urai Lingot turun dari pohon cempedak itu, dan sekali lagi Sinen Urai Lingot memeriksa babi hutan apakah masih hidup atau sudah mati dengan cara menggoyangkan sedikit tubuh babi hutan itu dan ternyata babi hutan itu memang sudah mati. Babi hutan itu diangkat oleh Sinen Urai Lingot dan ditaruh di atas pundaknya, Sinen Urai Lingot pun berjalan sambil memikul babi hutan besar itu. Cuaca pada hari itu cukup baik sehingga perjalanan pulang Sinen Urai Lingot tidak mengalami hambatan, Sinen Urai Lingot berjalan dengan semangat nya, hingga tak terasa jarak kerumahnya tak jauh lagi, dari jauh terlihat Urai Lingot sedang duduk di tangga rumah hampir setiap hari menantikan kedatangan ibunya. Urai Lingot langsung turun dari tangga rumah setelah melihat betul-betul melihat orang memikul sesuatu yang besar menuju rumahnya secara tiba-tiba Urai Lingot berteriak.

“Itu ibuku…. Ibuku telah pulangg…ibuku telah pulang....,” kata-kata ini berulang kali diucapkan oleh Urai Lingot dengan suara yang gemetaran.

Urai Luang yang sedang berada di dalam rumah, ketika mendengar teriakan yang diucapkan oleh Urai Lingot seketika berucap.

“Bohong…, Urai Lingot bohong, itu pasti hanya mimpi nya saja, Sinen Urai Lingot sudah mati, orang mati tidak mungkin dapat hidup Kembali, yang datang itu mungkin hantu nya”.

Urai Luang pergi ke luar untuk memastika apa benar yang dilihat Urai Lingot Sinen Urai Lingot, Urai Luang terdiam ketika Ia melihat Sinen Urai Lingot berjalan pergi ke rumah nya dan meletakkan babi hutan itu di tanah halaman, Urai Lingot datang memeluk ibunya sambil menangis karena Ia mengira ibunya sudah meninggal dan tidak mungkin bisa bertemu lagi.

Sinen Urai Lingot memeluk dan mencium putri nya yang Ia sayangi itu, air mata Sinen Urai Lingot tak terbendung lagi tanda bahwa Ia gembira karena telah bertemu dengan anak nya.

“Terima kasih Ya Tuhan atas pertolongan mu aku dapat bertemu lagi dengan anak ku terima kasih Ya Tuhan”.

Di malam hari nya ketika ingin tidur Sinen Urai Lingot menceritakan kepada anaknya bagaimana Ia dapat terlepas dari himpitan batu yang besar itu, Sinen Urai Lingot pun mencerikan kepada anak nya tentang seekor burung murai menggolekkan batu besar yang menghimpit badannya sehingga ia dapat bangkit. Sinen Urai Lingot juga menceritakan tentang seekor babi besar yang dibunuhnya. Urai Lingot sangat tertarik akan cerita ibunya, tak lama kemudian mereka tertidur dengan posisi saling memeluk.

Keesokan harinya Sinen Urai Lingot bangun dan di potong-potongnya babi hutan yang besar itu, kemudian di bagi-bagikan kepada tetangganga nya termasuk Sinen Urai Luang dengan Urai Luang disuruh mengantar daging babi itu, hingga Sinen Urai Lingot mendapatkan bagian daging babi hutan itu. Sinen Urai Lingot merupakan orang yang baik hati. Ia tidak memiliki rasa dendam atas perbuatan Sinen Urai Luang, kejahatan yang diperbuat Sinen Urai Luang dibalas dengan kebaikan oleh Sinen Urai Lingot.

Daging babi hutan yang diberikan oleh Sinen Urai Lingot kepada Sinen Urai Luang diterima dengan baik, bahkan Sinen Urai Luang mengucapkan terima kasih. Sore harinya Sinen Urai Luang dan anaknya datang ke rumah Sinen Urai Lingot untuk bertamu, Sinen Urai Luang minta maaf atas perbuatan yang telah dilakukan terhadap diri Sinen Urai Lingot, Sinen Urai Luang berjanji tidak akan berbuat jahat lagi dan juga berjanji akan berbuat baik terhadap siapa pun. Sinen Urai Lingot menerima baik permohonan Sinen Urai Luang. Mulai saat itu kehidupan Sinen Urai Lingot dan Sinen Urai Luang menjadi baik kembali seperti sediakala. Mereka pergi ke ladang dan pulang bersama-sama, Urai Lingot dan Urai Luang menjadi teman yang akrab kembali.