Tersebutlah sebuah kampung di pinggir sungai bernama Long Uwai. Kehidupan di kampung sangat tenteram. Ladang dan perkebunan pun begitu subur. Tetapi, satu per satu para penetua pun meninggal. Sebagai gantinya, warga kampung mengadakan rapat di balai dan mencari pengganti. Terpilihlah tiga orang, yaitu Lidem Usat, Alang Udau, dan Ipui Lawai.
Lidem Usat tidak setuju dengan pilihan warga yang memilih Alang Udau karena tidak berasal dari keluarga bangsawan. Sebagian warga ada yang setuju dengan apa yang dikatakan Lidem Usat. Sebagian lain, tidak peduli yang terpenting bagaimana caranya hidup di kampung dengan damai.
Lalu Ipui Lawai berkata, “Apa salahnya dengan hal itu? Alang Udau, kan, orang penyabar dan bijaksana.”
“Kamu membela dia tanpa melihat keluarganya?” Lidem Usat balas bertanya.
“Dia dipilih oleh warga karena dia juga terbaik.”
Lidem Usat hanya terdiam saja memikirkan perkataan Ipui Lawai.
“Apa pun pilihan warga, Long Uwai akan dilanjutkan dan Alang Udau akan menjadi tokoh adat penetua kampung ini.”
Acara pemilihan penetua tersebut pun selesai.
Seiring berjalannya waktu, Lidem Usat selalu tidak setuju dengan apa yang disarankan oleh Alang Udau. Dia sering menentang setiap pendapat yang diajukan oleh Alang Udau. Ketidaksukaanya semakin tampak.
Alang Udau menganggap bahwa kehadirannya sudah tidak diharapkan. Dia tahu diri dan segera mengambil keputusan untuk meninggalkan kampung. Dia pergi bersama keluarga dan orang-orang yang mengikutinya.
Setelah kepergian Alang Udau, Ipui Lawai mencoba menasihati Lidem Usat.
“Seharusnya tidak perlu seperti itu,” ucap Ipui Lawai.
“Itu bagus. Supaya kita bisa mencari penggantinya.”
“Harusnya kamu bisa lebih dewasa dan menghargai pilihan warga. Kita adalah teladan bagi warga kampung.”
Lidem Usat tersinggung dengan ucapan Ipui Lawai. Dengan nada tinggi, ia membalas ucapan Ipui Lawai, “Jika aku tidak dewasa, kenapa warga memilihku menjadi tokoh adat? Jika kamu tidak bisa bergabung dengan kami, silakan pergi seperti Alang Udau!”
“Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kita hidup rukun sebagai sesama penetua. Aku juga tidak akan meninggalkan kampung ini sampai mati.”
“Jika seperti itu, aku dan keluargaku yang akan pergi dari kampung ini!” “Jika seperti itu, aku dan keluargaku yang akan pergi dari kampung ini!”
“Tak perlu seperti itu. Aku masih sangat membutuhkanmu di kampung ini.”
“Kita sudah berbeda. Tidak mungkin kampung bisa berjalan jika kita tak lagi sejalan.”
“Aku hanya memintamu untuk tetap tinggal.”
“Aku tak sudi.”
Keputusan yang diambil Lidem Usat sudah bulat. Dia memilih meninggalkan kampung dengan membawa keluarga dan orang-orang yang mengikutinya.
Beberapa tahun berlalu. Kampung Long Uwai tidak begitu banyak bertambah penduduknya. Sebagai pemimpin, Ipui Lawai bersiasat agar kampungnya berkembang dan bertambah banyak. Dia pun mengumpulkan warga dan mengadakan rapat di balai. Dia mengusulkan agar berdamai dengan Long Solok, tempat di mana Lidem Usat tinggal.
“Kita akan mengusulkan untuk dapat beristri atau bersuami dengan warga Long Solok. Dengan begitu, warga kampung akan mendapatkan keturunan sehingga kelangsungan hidup kita bisa terus terjaga,” ucap Ipui Lawai pada warganya.
Banyak warga tidak setuju dengan usulan itu. Mengingat apa yang terjadi di masa lalu dan perangai Lidem Usat yang sombong. Warga takut nantinya akan memicu peperangan dengan Long Solok. Tetapi, salah seorang warga menyarankan untuk mencobanya dulu. Di sana nanti hanya berbicara yang diwakili oleh Ipui Lawai. Jika tidak disetujui, seluruh warga bisa langsung pulang.
Ipui Lawai menyetujui ide tersebut dan mengumpulkan laki-laki dewasa yang bisa dibawa ke sana. Warga membawa gong, guci, dan parang sebagai tanda kesungguhan.
Sesampainya di Long Solok, Ipui Lawai beserta warganya menuju ke balai. Mereka disambut oleh warga. Lidem Usat awalnya tidak mau menemui. Tetapi, atas desakan warganya, dia mau menemui Ipui Lawai.
Di balai pertemuan, Lidem Usat langsung menanyakan maksud kedatangan Ipui Lawai.
“Apa keperluanmu datang jauh-jauh ke sini?”
“Kami datang dengan niat baik untuk meminta perdamaian. Kita lupakan masa lalu. Kita perlu bersatu untuk bisa menjadikan kampung semakin berkembang. Persatuan ini kita wujudkan melalui pernikahan. Kami membawa gong, guci, dan parang. Apakah kamu setuju dengan niat baik kami?”
“Aku setuju. Tapi, dengan satu syarat. Warga yang menikah nantinya harus tinggal di Long Solok. Tidak boleh tinggal di Long Uwai karena kampung itu terkutuk,” balas Lidem Usat dengan sombong.
Ternyata Lidem Usat masih menyimpan rasa dendam. Dia meluapkan kebenciannya kepada Ipui Lawai di depan semua orang. Ipui Lawai keberatan dengan syarat yang diajukan. Syarat itu hanya menguntungkan Long Solok. Tidak memberikan dampak pada Long Uwai.
“Jika demikian berat syarat itu, kami tak bisa menerimanya. Apa kamu tidak ingin memikirkannya lagi?”
“Tidak. Keputusanku sudah bulat. Jika tidak setuju, kalian bisa pulang meninggalkan kampung ini. Bawa juga gong, guci, dan parang itu. Aku tidak bisa menerimanya,” balas Lidem Usat ketus.
“Aku harap kamu tidak akan menyesalinya nanti. Kalau begitu, kami permisi pulang,” pamit Ipui Lawai penuh kekecewaan.
Ipui Lawai beserta warganya pergi meninggalkan Long Solok. Mereka tidak langsung pulang, tetapi menuju Long Lasak untuk menemui Alang Udau.
Sesampainya di Long Lasak, Ipui Lawai disambuat ramah oleh Alang Udau. Mereka diterima di balai pertemuan sambil istritahat dari lelahnya perjalanan. Ipui Lawai menyampaikan hasil pembicaraan dengan Lidem Usat.
“Kami bermaksud sama dengan yang sudah ditolak oleh Lidem Usat. Apa kamu menyetujuinya?” tanya Ipui Lawai.
“Bukankah aku ini orang biasa dan bukan dari keluarga bangsawan? Mengapa kalian ingin berdamai dan bergabung dengan kami?” Alang Udau tidak langsung menjawab, tapi membalasnya dengan tanya.
Ternyata Alang Udau masih mengingat peristiwa masa lalu. Dia khawatir asal-usul keluarga akan dipersoalkan lagi.
“Kami tidak melihat keluargamu, tapi kami melihat dirimu,” jawab Ipui Lawai memastikan.
“Aku akan memikirkannya dan meminta pendapat warga lainnya. Kamu dan orang-orangmu bisa beristirahat di balai ini. Ada beberapa kamar tamu di belakang sana yang bisa digunakan. Besok aku akan memberikan jawabannya.”
Sepanjang malam Ipui Lawai memikirkan jawaban yang akan diberikan oleh Alang Udau. Dia takut permintaannya akan ditolak seperti Lidem Usat.
Keesokan harinya, pertemuan di balai kembali digelar. Ipui Lawai semakin penasaran dengan jawaban Alang Udau.
“Aku menyetujui hal tersebut dengan satu syarat.”
Ipui Lawai semakin deg-degan. Jantungnya berdetak lebih kencang. Khawatir jawaban yang keluar akan sama dengan sebelumnya.
“Kita tidak lagi memandang asal keluarga. Siapa pun berhak memiliki keluarga dengan dasar saling mencintai.”
Mendengar itu, Ipui Lawai merasa lega. Niat baiknya disambut dengan sukacita. Semua warga di balai tampak bahagia. Suasana kegembiraan dilanjutkan dengan makan hidangan bersama yang sudah disiapkan oleh warga Long Lasak. Tak lupa tari dan musik mengiringi kegembiraan hingga malam tiba.
Keesokan harinya, di pagi yang matahari masih malu-malu, Ipui Lawai dan orang-orangnya berpamitan untuk pulang.
Sesampainya di Long Uwai, kegembiraan disambut oleh seluruh warga. Hari baru telah tiba. Harapan akan kemajuan kampung akan bisa diwujudkan.
Dalam beberapa tahun, kehidupan berjalan tenteram antara Long Uwai dan Long Lasak. Banyak warga Long Lasak yang menikah dan memiliki anak tinggal di Long Uwai. Begitu juga sebaliknya. Kehidupan ditopang dari berladang dan hasil sungai yang melimpah. Semua tampak bahagia.
Selama itu, Lidem Usat memata-matai perkembangan Long Uwai. Dia merasa iri dengan kemajuan dan ketenteraman Long Uwai. Dia berniat akan menyerang di tengah malam ketika warga kampung sedang terlelap.
Untungnya, Ipui Lawai memiliki kesaktian bisa berbicara dengan binatang. Saat sore hari, seekor burung paruh panjang penghisap madu mendatangi Ipui Lawai dan mengingatkan. Ipui Lawai bisa saja menghadapi serangan Lidem Usat dan orang-orangnya. Tetapi, dia lebih memilih jalan damai. Ipui Lawai membawa semua warganya meninggalkan kampung menuju Long Lasak.
Lidem Usat dan orang-orangnya hanya mendapati kampung kosong. Semua warga sudah pergi.
“Sial! Kenapa sudah tidak ada orang? Mereka pasti mengamankan diri ke Long Lasak. Alang Udau pasti melindunginya. Mana sanggup melawan mereka kalau sudah bersatu. Bakar semua rumah! Kita pulang!” perintah Lidem Usat pada orang-orangnya.
Setelah membakar dan membumihanguskan Long Uwai, Lidem Usat beserta pengikutnya pulang kembali ke Long Solok.
Beberapa hari berlalu, Ipui Lawai tidak berniat membalas dendam pada Lidem Usat. Di sisi lain, Ipui Lawai juga menyadari bahwa tidak mungkin dalam satu kampung ada dua pemimpin. Dia tidak ingin merepotkan Alang Udau lebih jauh. Bukan hanya dirinya. Seluruh warga Long Uwai akan menjadi beban dan tanggungan. Kecuali, mereka yang memiliki keluarga atau berasal dari Long Lasak.
Dalam kegelisahan pikiran, Ipui Lawai berjalan-jalan ke sungai. Seekor buaya mendatangi. Ipui Lawai meminta saran pada buaya. Dari perbincangannya dengan buaya, Ipui Lawai mendapat ketepatan hati bahwa dia harus pergi. Meninggalkan Long Lasak bersama keluarga dan para pengikutnya. Belajar untuk mandiri dan tidak bergantung pada Alang Udau.
Berbekal keberanian itu, Ipui Lawai menempuh perjalanan panjang. Masuk-keluar hutan dan menyeberangi beberapa sungai. Dalam perjalanan, Ipui Lawai beserta orang-orangnya juga tidak jarang bermukim dan berladang untuk bertahan hidup. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun. Hingga akhirnya, Ipui Lawai memutuskan menetap di sebuah daerah yang dinamai Rantau Panjang.