Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Kutukan Raja Kutai
Sinopsis Kisah Kutukan Raja Kutai menyajikan kisah penyesalan mendalam dan ketabahan Tetua Sengata, Datu Manunggal, saat tanah kelahirannya dihantam bencana kekeringan, hama, hingga teror buaya ganas akibat murka sumpah Raja Kutai. Berawal dari kegagalan menyerahkan upeti tahunan, Sengata terisolasi dari dunia luar hingga warganya dilanda kemelaratan dan krisis pangan yang parah. Demi menyelamatkan rakyatnya dari kehancuran, Datu Manunggal akhirnya mengesampingkan ego dan memberanikan diri mengarungi lautan menuju Kerajaan Kutai untuk bersujud memohon ampunan Sang Raja. Cerita rakyat yang menggugah ini mengajarkan pentingnya kerendahan hati dalam mengakui kesalahan serta keagungan sifat pemaaf yang sanggup mengembalikan kedamaian.

Cerita Lengkap

Lembayung senja yang menyapu langit, tampak kekuningan saat puluhan pasukan Kerajaan Kutai menepi ke Dermaga Sengata. Meski lelah tampak jelas menghias wajah karena berhari-hari berlayar, mereka tetap menjalankan tugas untuk menjemput upeti yang setiap tahunnya ditarik dari setiap kepala daerah.

“Wahai Datu Manunggal, Tetua Sengata. Kedatanganku hari ini adalah sama seperti tahun sebelumnya, menagih upeti yang telah dijanjikan untuk kerajaan!” tegas salah seorang pasukan tersebut dengan suara nyaris berteriak.

Warga yang mendengarkan tuturan tersebut hanya saling menatap, tak ada kata yang terucap dari mulut mereka.

“Salam penuh hormat untuk kalian para pasukan gagah, sudilah untuk duduk dahulu menikmati minuman yang kami suguhkan.”

“Bukan minuman yang kami inginkan, namun hasil bumimu!” sahut Pasukan Tinggi, pemimpin rombongan kerajaan itu tanpa memperdulikan tawaran Datu Manunggal.

“Sungguh besar niat kami memberikan upeti terbaik untuk raja, namun apalah daya tak ada hasil bumi yang bisa kami persembahkan.”

Jawaban tersebut membuat geram Pasukan Tinggi, tangannya mengepal penuh amarah.

“Berkali-kali kami datang mengarungi lautan, tetapi tak ada juga yang kalian persembahkan!” bentaknya.

“Apalagi alasan datu kali ini?” bisik seorang warga yang melihat langsung di balai pertemuan.

“Mohon ampun wahai para pasukan, sampaikanlah ucapan maaf kami kepada raja,”

Mendengar ucapan datu, Pasukan Tinggi sempat ingin maju dan menarik pedang yang ia bawa. Namun, salah satu pengawalnya menghalau hingga ia berlalu tanpa mengatakan apapun.

Was-was dan rasa takut mendera hati para pasukan, dalam perjalanan mereka membayangkan betapa marahnya raja. Pasukan Tinggi tak mampu memejamkan matanya karena resah, ia kembali mengeluh. “Aku tidak tau harus menjawab apa saat kembali ke kerajaan,”

Bentangan laut serasa lebih panjang, beruntungnya masih ada sisa sedikit bekal perjalanan yang mereka bawa untuk sekedar mengganjal perut. Angin kencang dan ombak tak begitu menakutkan jika dibandingkan dengan melihat kemarahan sang raja. Itu lebih mengerikan dari cengkraman monster laut dalam kegelapan.

Kapal bersandar dengan aman di dermaga, langkah pasukan kian gontai saat tiba di aula. Dengan hati-hati satu-persatu mereka memasuki ruang pertemuan untuk ikut menemui sang raja. Baru saja mereka hendak memberikan hormat, raut muka sang raja memasam saat melihat tak ada satu barang pun yang dipersembahkan.

“Apalagi alasan mereka kali ini?”

“Ampun raja, mereka berdalih tahun ini masih tak menghasilkan hasil bumi,” jawab Pasukan Tinggi.

“Bukankah mereka terkenal dengan penghasil rotan?”

“Ampun raja, tak juga kami temukan tempat mereka menyimpan barang-barang berharga itu.”

Petir mengelegar saat raja berdiri dan mengangkat tangan. “Kusumpah mereka agar tak ada lagi hasil rotan di Tanah Sengata!”

Langit Sengata menghitam dan angin kencang menghantam pepohonan. Saat Datu Manunggal berdiri dan menengok ke luar, firasatnya kian resah ketika langit dipenuhi kilat.

“Astaga!” Datu Manunggal terhenyak ketika angin mendorong keras jendela dan hampir menimpa wajahnya, ia tak sadar bahwa itulah tanda malapetaka.

Semenjak kejadian tersebut, Kerajaan Kutai sepenuhnya mengisolasi daerah Sengata. Tidak ada lagi kunjungan ataupun surat yang dikirimkan kepada daerah tersebut, sumpah Raja Kutai perlahan-lahan menjadi kutukan.

“Mohon izin Datu Manunggal, kami berharap belas kasihan datu untuk warga yang kesusahan.” Angsana datang membawa beberapa tampah kosong di kedua tangannya, ia berharap Datu Manunggal berbelas kasih membantu warganya yang kelaparan.

“Bagaimana mungkin? Sungai terhampar luas, bahkan ikan gabus dan lainnya begitu mudah didapatkan!”

“Mohon ampun datu, tampaknya buaya-buaya sedang tak bersahabat dengan kami.”

Lusa kemarin salah seorang warga kembali diterkam monster Sengata saat sedang mencari ikan. Rasa takut dan cemas kembali menghantui warga, hingga tak ada yang berani mengail dan memancing ikan seperti biasa.

“Bukankah hasil rotan masih bisa dikembangkan?”

“Kami sudah berusaha, datu. Tapi kami hanya menemukan semak belukar.”

Pertanian dan perkebunan pun dilanda kemarau panjang, hingga hasil bumi kian sulit. Rotan yang biasa digunakan sebagai bahan kerajinan semakin berkurang dan susah didapatkan.

“Apakah ini sumpah….” Datu Manunggal menyela, semakin hari warga mengeluh kesusahan. Perekonomian Sengata seakan-akan dilanda kutukan.

“Bagaimana jika kita meminta bantuan kepada raja, datu?” Angsana mencoba memberikan saran.

Datu menghela nafas berat, tatapannya mengadah ke langit biru.

“Sayangnya, aku belum memiliki keberanian,” jawabnya singkat penuh penyesalan.

“Lalu apakah yang akan kita perbuat, datu?”

“Menunggu,” Datu Manunggal berlalu tanpa menengok Angsana.

Ia berjalan menyusuri sawah yang kian mengering. Meratapi antrian warga yang mengantri air bersih di sumber air, sebagian harus kembali ke rumah masing-masing dengan tangan kosong. Sumber air layak kian mengering. Belum lagi jika harus mencuci atau mandi di sungai, warga harus menantang maut.

“Datu, persediaan beras kita semakin menipis. Apakah datu tak punya niat menyeberang?” keluh Nyai Kemas istri Datu Manunggal, di sela kesibukan datu mengasah parang yang biasa ia gunakan untuk bekerja.

Datu tak menjawab, ia bangun dan memanggil anaknya untuk membawa Angsana dan pesuruhnya datang ke balai. Ada rencana yang perlu ia sampaikan.

“Ampun datu, kami datang terlambat karena harus mengurusi lumbung padi yang dipenuhi tikus.”

“Tikus? Mengapa engkau tidak menceritakan ini sebelumnya! Pantas saja nyai mengeluh padaku pagi ini,”

“Baru saja kabar itu sampai ke telinga kami datu,” ucap Angsana sambil memperlihatkan tumpukan padi yang berbau karena ulah binatang hama tersebut.

“Bagaimana dengan keadaan warga?”

“Sebagian mulai terjangkit penyakit, datu.”

Kesulitan pangan, air bersih, dan mata pencaharian membuat rakyat Sengata semakin dirundung kesusahan.

Datu Manunggal berdiri dari tempatnya duduk.

“Persiapkan bekal perjalanan, kita akan menyeberang esok setelah fajar!”

“Baik datu, kami mohon undur diri untuk menyiapkan bahan bakar dan bekal.”

Angsana dan dua orang pesuruhnya berlalu meninggalkan balai, meski sempat terbersit rasa ragu di hatinya mengiyakan keputusan datu.

Kapal berlabuh saat matahari mulai naik, dengan hati-hati Angsana mengarahkan awak kapal. Walau hanya bertenaga mesin sederhana, ia berharap mampu mengarungi laut yang terbentang luas.

Mendekati perairan Bontang, ombak tiba-tiba menghantam kencang. Sempat limbung karena mengikuti pergerakan air, akhirnya perahu besar yang ditumpangi Datu Manunggal dan empat orang lainnya dapat menepi dengan selamat.

“Hampir saja,” keluh Angsana sambil melabuhkan jangkar besi.

Datu Manunggal turun perlahan, tetapi langkahnya terhenti. Rasa khawatir menyergap perasaannya, ada apa? Belum hilang rasa gelisah yang ia rasakan, mereka justru mendapat penolakan dari Petinggi Bontang.

“Mohon ampun datu, bukan kami tak ingin menerima tamu kehormatan. Namun, Raja Kutai sudah mengamanatkan kami untuk menolak kedatangan kalian!”

“Raja Kutai?”

“Bukankah engkau menolak kedatangan prajurit kerajaan kala itu, datu?”

Datu Manunggal menghela napas, ia tidak menyangka semua akan seperti ini. Akhirnya, dengan penuh rasa penyesalan dan sedih ia memutuskan untuk pergi. Padahal belum sempat ia mengutarakan niat untuk memohon pertolongan.

“Bagaimana jika kita memohon ampun datu?”

Angsana berharap Datu Manunggal tidak bersikap egois kali ini, sikapnya yang lebih mementingkan kesejahteraan dirinya dan para sesepuh Sengata hingga tak menyerahkan upeti ke kerajaan. Telah membuat bencana di tanah kelahirannya.

“Jika kita pergi ke Tanah Jawa, berapa lama waktu yang akan kita tempuh?”

Angsana terhenyak, pertanyaan Datu Manunggal sungguh di luar nalar. Apa dengan meminta bantuan ke tanah yang nun jauh hingga mengarungi samudera akan membantu kehidupan warganya? Rakyat kian didera penyakit dan kekurangan pangan.

“Jika itu pilihan datu, apa tidak sebaiknya kita mengunjungi kerajaan?” Angsana menjawab penuh hati-hati, walaupun ia tidak yakin dengan sarannya. Memohon pertolongan pada tempat yang semestinya.

Kapal menepi saat matahari mulai bergelincir dan awan hitam menyelimuti malam. Beristirahat sejenak mungkin akan membuat hati Datu Manunggal terketuk, harap Angsana. Ia sengaja mengajak para awak kapal menceritakan apa kesulitan yang mereka alami di Tanah Sengata, agar Datu Manunggal berpikir jernih.

Hening, hanya sepoian angin laut yang terdengar berirama. Deburan ombak yang sesekali mengayun kapal, membuat Datu Manunggal dan awak kapal mulai dibuai mimpi.

“Angsana, arahkan awak kapal menuju Kerajaan Kutai.” suara datu terdengar bersemangat kala cahaya terang menyembul di balik awan pagi.

Angsana yang baru terbangun, tersenyum penuh makna. Akhirnya Tetua Sengata itu mau mengalah dan memohon kebaikan hati Raja Kutai.

Datu Manunggal mengarahkan langsung awak kapal melaju di atas bentangan perairan Pulau Kalimantan, di hati mereka tersirat harapan besar pada sang raja.

“Apakah persediaan bekal kita masih mencukupi, Angsana?”

“Untuk saat ini persediaan bekal kita cukup datu,”

Meski persediaan bekal yang mereka bawa hanya mampu menutupi kebutuhan sampai ke tanah kerajaan, mereka yakin usaha ini tidak akan sia-sia.

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya, kali ini semua terasa lebih tenang dan aman. Meskipun jarak yang mereka tempuh tiga kali lebih panjang. Kapal bersandar tepat di dermaga yang dipersiapkan bagi para pendatang ataupun tamu kerajaan.

“Izinkan saya menemui pengawal kerajaan untuk menyampaikan tujuan kita,” Angsana pamit menemui para pengawal yang berjaga di dekat dermaga.

Datu Manunggal yang melihat Angsana, mengambil gerak cepat untuk menyusul. Ia tak sabar untuk bertemu langsung dengan raja. Entah sudah berapa lama ia tidak mengunjungi raja seperti dulu. Saat ia diangkat dan dipercaya menjadi pimpinan rakyat Sengata.

“Tak tahu malu!” teriak suara yang terdengar sangat familiar itu dari kejauhan.

Wajar jika Pasukan Tinggi marah, kedatangan datu beserta rombongan yang mendadak setelah kejadian di Tanah Sengata beberapa waktu lalu, sungguh telah mempermalukan Pasukan Tinggi.

“Kami mohon ampun, Pasukan Tinggi. Tetapi izinkanlah kami mengadu pada raja,” pelas Datu Manunggal.

“Apa yang kamu bawa?”

Datu menatap Angsana dengan mata berkaca-kaca, ia tidak menyangka pertanyaan itu dilontarkan Pasukan Tinggi saat ia dan rakyatnya tengah dilanda kesusahan.

“Izinkan kami bertemu sejenak dengan raja, setelah itu ambillah barang yang kalian suka di dalam kapal yang kami gunakan.”

Mendengar jawaban datu, Pasukan Tinggi menyeringai penuh kepuasan. Wajahnya serupa raksasa yang hendak melahap mangsanya.

“Ikutlah denganku, akan kuantar kau bertemu raja!”

“Terimakasih, terimakasih,”

Raja yang sudah mendengar berita kedatangan datu, telah bersiap menerima kehadiran mereka di ruang pertemuan.

“Mohon ampun raja, kami telah melakukan kesalahan besar terhadap raja,” Datu Manunggal bersujud di kaki raja.

Selang beberapa menit terdiam, raja meminta datu bangkit dan mundur. Ia memerintahkan penjaga untuk mengarahkan datu dan Angsana menyantap jamuan yang telah dipersiapkan.

“Ampun raja, tidaklah pantas hamba menerima kebaikan ini ….”

“Aku tahu, perut kalian pasti tak berisi karena kehabisan perbekalan. Maka makanlah jamuan yang telah disediakan,”

Datu Manunggal yang melihat kebaikan raja seketika menangis haru, ia menyesali perbuatan buruknya selama ini hingga tak sanggup berkata-kata.

Setelah memohon ampunan raja, Datu Manunggal mohon pamit untuk pulang. Ia berharap raja dengan ikhlas memaafkan kesalahannya dan menghilangkan kutukan yang mendera Tanah Sengata.

Senyum sumringah Nyai kemas tersungging menyambut kedatangan datu, rakyat Sengata yang berbaris di depan balai bersorak gembira melihat para awak kapal, Angsana dan datu tiba dengan keadaan selamat.

Sawah yang beberapa bulan mengering, perlahan-lahan menghijau. Sumber air bersih pun telah terisi penuh. Kebahagiaan dan kemakmuran Sengata yang sempat menghilang, kini kembali datang.