Dahulu kala sekitar tahun 1516 M di bumi daya taka termasyhurlah sebuah kerajaan bernama Kerajaan Sadurengas. Kerajaan tersebut pertama kali dipimpin oleh seorang ratu bernama Putri Di Dalam Petung 1516-1567 M dengan menjadikan Lempesu sebagai pusat kerajaannya.
Seiring berjalannya waktu pada tahun 1680-1705 M kerajaan sadurengas yang berpusat di Lempesu berpindah tempat ke Gunung Sahari yang terletak di sebuah bukit batu cadas tempat pendaratan pertama ekspedisi Islam yang dilakukan oleh Pangeran Abu Mansyur Indra Jaya dari Demak.
Di Gunung Sahari tersebutlah Aji Duwo bin Aji Mas Anom Singa Maulana mendirikan istana kerajaan bersamaan dengan dibangunnya sebuah masjid disampingnya.
Aji Duwo bin Aji Mas Anom Singa Maulana (1680-1705 M) diberi gelar Penambahan Adam oleh Kesultanan Banjar karena kerajaan Sadurengas pada waktu itu masih menjadi wilayah bawahannya Kesultanan Banjar serta adanya hubungan baik dan kerja sama antara Kesultanan Banjar dengan kerajaan Sadurengas yakni dalam bidang politik, ekonomi dan militer. Salah satunya Kerajaan sadurengas setiap tahunnya membayar iuran atau upeti terhadap kesultanan Banjar karena telah membantu membasmi gerombolan perampok yang membunuh keluarga kerajaan Sadurengas kala itu.
Aji Duwo atau Penambahan Adam memiliki perawakan yang besar dengan tinggi sekitar 2 meter sehingga ia mempunyai tenaga yang lebih kuat dari rakyatnya. Selain fisiknya yang kuat Penambahan Adam juga memiliki kepribadian yang baik, bijaksana dan cerdas. Hal ini bisa dilihat pada masa kepemimpinannya masyarakat Pasir pada kala itu hidup damai, makmur dan sejahtera.
Dilihat dari kepribadian dan paras dari Penambahan Adam ternyata hal tersebut diturunkan pula kepada putrinya yang bernama Aji Rainah.
Aji Rainah mempunyai paras yang indah rupawan bak permata bening karena parasnya yang sangat cantik sehingga membuat siapapun yang memandang akan terpesona dan tidak akan bisa berpaling darinya.
Bahkan hanya sekedar berpapasan pun maka sudah mampu membuat siapapun yang meliriknya tidak akan bisa tidur nyenyak di malam harinya dan ingin segera beranjak berlari menemui Aji Rainah untuk sekedar melepas kagum akan eloknya rupa dan pesonanya, "Begitulah pesona intan mahkota kerajaan Sadurengas" ucap seluruh makhluk bumi daya taka.
Karena kecantikan Aji Rainah ini membuat setiap pemuda, bangsawan, raja, dan putra mahkota negeri seberang hendak meminang dan memiliki Aji Rainah, hanya saja Aji Rainah masih belum menemukan dambatan hati yang cocok untuk dirinya.
Salah satu pemuda kaya raya yang hendak memperistri Aji Rainah ialah Andi Mappanyuki.
Pada tahun 1111 Hijriyah, atau setara dengan tahun 1700 Miladiyah, suasana di Kerajaan Sadurangas diguncang oleh kedatangan serombongan utusan dari Kerajaan Bugis Penekl. Dipimpin oleh putera Raja, bernama Andi Mappanyukki, rombongan tersebut datang dengan maksud mulia untuk menggalang persahabatan antara kedua kerajaan serta mengatur hubungan perdagangan.
Kedatangan mereka dihormati dengan upacara adat raja-raja, dan untuk merayakannya, diselenggarakan malam pertunjukan seni tradisional yang memukau dari Kerajaan Sadurangas. Tempat tinggal yang nyaman dan layanan pelayan diberikan kepada Andi Mappanyukki dan rombongannya selama mereka berada di Sadurangas.
Tidak lama setelah kedatangan, Andi Mappanyukki tertarik oleh kecantikan Aji Rainah, puteri cantik dari Penambahan Adam. Meskipun kebiasaan pingitan belum berlaku di Kerajaan Sadurangas, Aji Rainah memiliki kemerdekaan untuk keluar rumah tanpa banyak pengawalan. Namun, perbedaan antara gadis rakyat biasa dengan gadis raja menjadi batasan.
Bersama para tokoh penting dari rombongan, Andi Mappanyukki mengadakan perundingan untuk melamar Aji Rainah. Penambahan Adam, sebagai ayah Aji Rainah, menetapkan syarat dan prosedur adat yang harus diikuti sebelum lamaran dapat diterima. Dengan penuh kesabaran, perundingan berlangsung dan batas waktu ditentukan.
Setelah Penambahan Adam menerima kehadiran ketujuh orang duta tersebut. Ia duduk bersama mereka dan dengan penuh perhatian mendengarkan maksud dan tujuan mereka berkunjung ke Kerajaan Sadurangas. Melihat kedatangan duta Bugis tersebut, Penambahan Adam menyadari pentingnya menghormati adat istiadat yang berlaku di wilayahnya.
Dalam menyikapi kunjungan tersebut, Penambahan Adam menyampaikan permohonan untuk diberi waktu guna mematuhi ketentuan adat yang telah diwariskan oleh nenek moyang di Kerajaan Sadurangas. Dia ingin memastikan bahwa setiap langkah yang diambil sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang dihormati dalam masyarakat.
Beberapa hal yang harus dilakukan oleh Penambahan Adam adalah merundingkan dengan ibunya tentang kehadiran duta-duta tersebut. Keterlibatan ibu Penambahan Adam dalam proses ini menjadi penting karena adat istiadat di Kerajaan Sadurangas memberikan peran sentral bagi wanita dalam keputusan-keputusan penting.
Selain itu, Penambahan Adam juga menyadari perlunya merundingkan dengan lingkungan keluarga, baik dari pihaknya maupun dari pihak ibunya. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh keluarga terlibat dalam proses pengambilan keputusan dan memberikan dukungan penuh terhadap langkah-langkah yang akan diambil.
Namun, tidak hanya keluarga yang harus terlibat dalam proses ini. Penambahan Adam juga merasa perlu mendapatkan persetujuan dan kata mufakat dari anak yang bersangkutan, yaitu duta dari Bugis. Pendapat dan kehendak mereka memiliki bobot penting dalam rangka mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan bagi semua pihak.
Terakhir, Penambahan Adam sadar bahwa duta Bugis tersebut adalah Andi Mappanyukki. Oleh karena itu, dia perlu menerima kata mufakat dari kedua orang tua Andi Mappanyukki. Kedua belah pihak harus sama-sama sepakat dan merasa puas dengan hasil dari pertemuan ini.
Dengan mengikuti langkah-langkah ini, Penambahan Adam berharap bahwa kunjungan para duta dan pertemuan ini akan berjalan dengan baik dan membawa manfaat bagi Kerajaan Sadurangas dan masyarakatnya. Keterbukaan, rasa hormat terhadap adat istiadat, dan kerjasama antarpihak dianggapnya sebagai kunci untuk mencapai kesepakatan yang harmonis dan berkelanjutan.
Namun, keputusan Aji Rainah mengejutkan semuanya. Ia menolak lamaran Andi Mappanyukki karena ia melihatnya hanya dari fisik nya. Setelah Penambahan Adam dan Permaisuri mengetahui bahwa Aji Rainah menolak dengan tegas lamaran Andi Mappanyukki, maka tidak ada pilihan lain bagi mereka selain menolak lamaran tersebut. Penolakan Aji Rainah didasari oleh perbedaan fisik dan penampilan antara dia dan Andi Mappanyukki. Meskipun Andi Mappanyukki tampan dan cakap, Aji Rainah merasa bahwa dirinya berbeda dengan fisik yang gemuk, pendek, dan berkulit agak hitam, dengan bekas bopeng dari penyakit cacar di wajahnya.
Sebelumnya, kalangan keluarga telah terbagi dalam tiga pendapat, di mana ada yang setuju untuk menerima lamaran, ada yang tidak setuju dan menolak, dan ada juga yang membiarkan keputusan ada di tangan Aji Rainah sendiri. Namun, dengan penolakan Aji Rainah, opsi yang tersedia hanyalah menolak lamaran tersebut.
kesimpulan dari situasi ini adalah bahwa meskipun ada kesepakatan dari beberapa anggota keluarga untuk menerima lamaran Andi Mappanyukki, penolakan tegas dari Aji Rainah membawa akhir dari kemungkinan pernikahan tersebut. Keputusan Aji Rainah dihormati, dan lamaran Andi Mappanyukki ditolak dengan segenap pertimbangan yang ada.
Tiga bulan setelah batas waktu lamaran berakhir, rombongan Andi Mappanyukki kembali untuk menghadap Penambahan Adam dan menerima keputusan tersebut. Saat itu, suasana berubah menjadi sangat dramatis. Sesudah Petta Sulle Watangnge selesai berbicara, hidangan yang penuh dengan adat diadatkan, dan semua bersantap dengan sikap saling menghormati. Setelah makan selesai, mereka duduk kembali dengan tertib dan mengikuti adat. Duta Bugis Peneki menunggu ucapan dari Penambahan Adam, sebagai jawaban positif atas maksud kedatangan rombongan mereka yang telah dijelaskan oleh Petta Sulle Watangnge. Penambahan Adam berbicara dengan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan pihak Duta Bugis Peneki. Akhirnya, beliau menyampaikan kata-kata "maaf sebesar-besarnya karena tidak dapat menerima lamaran Andi Mappanyúkki".
Namun, setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut, tiba-tiba Andi Riajang berteriak dalam bahasanya sendiri, "Launi siri'ta". Ia langsung berdiri dan pergi tanpa pamit, diikuti oleh rombongannya, menuju dermaga. Setelah Andi Riajang dan rombongan memasuki kapal, mereka segera memerintahkan untuk membongkar sauh dan memberi aba-aba "Tette rukka geadrange", yang berarti menabuh genderang dengan irama perang. Ketiga kapal layar Bugis Peneki kemudian meninggalkan Benuwo pe abuhan Sadurangas, menyusuri sungai Kendilo dengan iringan suara jendang irama perang, menuju kembali ke negeri mereka di Peneki, Sulawesi Selatan. dan langsung meninggalkan Sadurangas dengan para pengikutnya sambil menabuh genderang perang.
Peristiwa penolakan lamaran ini menjadi pemicu konflik besar antara Kerajaan Sadurangas dan Kerajaan Bugis Peneki. Kabar bahwa pasukan Bugis yang banyak berkumpul di tengah hutan Sadurangas menyulut pertempuran sengit yang berlarut-larut. Kedua belah pihak terus mengalami korban besar, dan mayat-mayat bergelimpangan tak terkubur.
Dalam keadaan yang genting itu, Penambahan Adam berusaha mencari tahu lebih lanjut tentang niat dan tujuan pasukan Bugis. Ia mengutus La Palattui sebagai penyelidik untuk berbicara dengan mereka secara rahasia. Namun, La Palattui ditangkap oleh pasukan Bugis dan dibawa ke perkampungan mereka.
Setelah melaporkan temuannya, Penambahan Adam segera mempersiapkan pertahanan dan menyusun pasukan untuk menghadapi serangan Bugis. Pertempuran berlangsung ganas, mengisi suasana dengan letusan senjata dan jeritan kesedihan.
Korban semakin bertambah, dan aroma kematian menyelimuti daerah tersebut. Pada akhirnya, kedua pihak menemui titik buntu, dan medan pertempuran membentang dari muara sungai hingga ke anak sungai.
Kebrutalan dan kematian menguasai pemandangan, dan ketegangan tak kunjung reda. Konflik ini mencabik-cabik persahabatan antara kedua kerajaan, dan masa depan mereka terasa suram dan penuh ketidakpastian.
Aji Geger, seorang bekas perwira Kesultanan Banjar yang penuh dengan keahlian medan dan ilmu pertempuran, kini memimpin pasukan Sadurangas. Mereka telah berhasil menyusup ke dalam markas musuh, Pasukan Bugis, pada malam yang gelap gulita, hanya berjumlah seratus orang. Dengan kecerdikan, mereka membunuh hampir seluruh pasukan penjaga dan penyerbu markas musuh di Pabbencengeng dan Paapara. Di sana, mereka menemukan enam orang utusan Penambahan Adam yang keji, terikat di rantai dan disiksa. Aji Geger segera membebaskan mereka dari belenggu.
Setelah pasukan penjaga markas musuh habis dihabisi, Aji Geger mengumpulkan yang diperlukan dan menyimpannya di tempat tersembunyi. Kemudian, markas pangkalan dan perbekalan musuh dibakar habis. Aji Geger dan pasukannya kemudian menyerang pasukan Bugis dari belakang, menciptakan kekacauan dan menyebabkan banyak korban di pihak musuh.
Pasukan Bugis mencoba melarikan diri dengan perahu-perahu panjang khusus untuk perang menuju Muara Sungal Kendilo. Aji Geger dan pasukannya mengejar mereka dengan perahu, namun kecepatan perahu Bugis membuatnya sulit untuk mengejar. Akhirnya, Aji Geger kehilangan jejak musuh di Tempoleng, sungai bercabang tiga.
Khawatir kapal-kapalnya di sungai Laburan dibakar musuh, Aji Geger buru-buru masuk ke Sungai Laburan bersama pasukannya. Ternyata musuh tidak ada di sana, dan kapal-kapalnya aman. Dengan lega, mereka kembali ke Tempoleng dan berlayar ke muara Sungai Kendilo. Namun, di sana, mereka melihat puluhan kapal layar jenis pinis sedang berlabuh di kejauhan.
Aji Geger langsung memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang kapal-kapal Bugis itu pada malam hari. Namun, saat perahu-perahu Sadurangas berlayar ke laut, banyak dari mereka mabuk karena ombak yang ganas. Kondisi tersebut membuat pasukan Sadurangas menjadi tidak berdaya, dan Aji Geger terpaksa memerintahkan mereka untuk kembali ke pantai.
Setelah beristirahat di tepi pantai Muara Sungai Kendilo selama satu hari satu malam, pasukan Sadurangas akhirnya pulih dan siap untuk bertempur lagi. Namun, tak disadari, pasukan Bugis Peneki pimpinan Andi Mappanyukki sudah tiba dan bermarkas di hutan belantara kepala Sungai Sambu.
Andi Mappanyukki mempersiapkan serangan balasan untuk merebut Puteri RaInah dan telah mengerahkan pasukannya, yang berjumlah ratusan orang, dan 100 ekor kerbau sebagai alat pengangkutan. Mereka membuat perahu lepa-lepa besar untuk memuat pasukan dan perlengkapan perang.
Sebagai tindakan persiapan, pasukan Bugis itu juga membuat terusan dari tepi Selatan Sungai Seratai ke tepi Utara Sungai Kendilo, melalui hutan kayu galam yang lebat. Mereka berencana menyerang langsung Ibu Negeri Kerajaan Sadurangas di Gunung Sahari melalui terusan tersebut.
Ketika bala bantuan dari Peneki tiba, Andi Mappanyukki memutuskan untuk menyerang kembali Sadurangas. Pasukan Bugis menyeberangi Sungai Kendilo dan menyebarkan diri di sepanjang tepi Sungai, siap untuk menyerang Dermaga Kerajaan Sadurangas.
Aji Geger dan pasukannya yang sebenarnya masih berjaga-jaga, terkejut melihat pergerakan pasukan Bugis. Mereka mengetahui bahwa perahu-perahu layar Bugis telah berlabuh di Sungai Pampang dan Sungal Raya. Seluruh pasukan Sadurangas berjaga-jaga dengan kubu pertahanan panjang dan menara-menara pelambang panah siap menembakkan panah mereka.
Namun, karena keadaan pasukan Sadurangas yang merasa aman dan tak berduga, kubu-kubu pertahanan tersebut ditinggalkan dan pasukan-pasukannya tersebar kembali ke kampung masing-masing. Saat itulah, Andi Mappanyukki dan pasukannya mendekati Dermaga Kerajaan Sadurangas dengan hati-hati, melepaskan tembakan percobaan untuk menguji musuh mereka.
Sayangnya, serangan mendadak dari Bugis pada suatu hari menyebabkan Aji Geger terluka parah oleh peluru picunang, yang diyakini memiliki kekuatan mistis dan racun berbisa. Aji Geger harus dilarikan jauh untuk berobat dan mengeluarkan peluru itu dari tubuhnya.
Beberapa hari yang berselang terjadi sesuatu yang tak terduga,
Di dalam istana, Penambahan Adam duduk sendirian di suatu ruangan. Pikirannya penuh dengan kekhawatiran tentang tiga panglima pikun, bekas panglima ayahnya, yang misterius dan memiliki kekuatan yang luar biasa. Kemudian, tiba-tiba, suara selembo memenuhi ruangan, mengingatkan Penambahan Adam akan kedatangan tiga panglima pikun.
Ketiga kakek tersebut memiliki reputasi yang aneh dan dijuluki "3 Panglima Pikun" karena kelakuannya yang berbeda dari kebanyakan orang. Mereka adalah Kaka Latik, Kaka Geang, dan Kaka Raba. Meskipun sudah lanjut usia, mereka masih memiliki kekuatan luar biasa dan dianggap seperti setan oleh lawan-lawan mereka.
Kerajaan Sadurengas dihadapkan pada ancaman serangan dari pasukan Kerajaan Bugis Peneki, yang jumlahnya diperkirakan mencapai 1.000 orang. Di tengah ketakutan akan invasi ini, Raja Penambahan Adam meminta bantuan ketiga kakek tersebut untuk menyelamatkan kerajaannya.
Sebelum bertempur, Penambahan Adam menyerahkan dua jenis bendera kepada ketiga kakek tersebut. Jika mereka menang melawan pasukan Bugis Peneki, maka mereka diminta untuk mengibarkan Bendera Pusaka Kerajaan Sadurengas. Namun, jika mereka kalah, maka mereka diminta mengibarkan kain putih sebagai tanda menyerah.
Pertempuran berlangsung dengan seru. Ketiga kakek ini berhasil mengalahkan pasukan Bugis Peneki yang jumlahnya jauh lebih banyak, dan mengusir mereka kembali ke seberang sungai. Sebagai bukti kemenangan, Bendera Pusaka Kerajaan Sadurengas dikibarkan di atas puncak pohon lumu.
Namun, ketika Penambahan Adam melihat bendera kuning tersebut dari kejauhan, pandangannya terganggu oleh teriknya matahari, dan dia keliru mengira bahwa bendera tersebut adalah kain putih menandakan kekalahan ketiga kakeknya. Tanpa berpikir panjang, dia langsung beranggapan bahwa ketiga kakeknya sudah kalah dan kerajaannya tak bisa bertahan dari serangan musuh.
Dalam kepanikan dan ketakutan, Penambahan Adam memutuskan untuk mengungsi dengan keluarga dan rakyatnya, dan membakar istana sebagai tindakan terakhir sebelum meninggalkan tempat itu. Ketika istana terbakar, Diang Cengal, istri Penambahan Adam, memohon izin untuk mengambil anak mereka, Aji Dipati, agar dia tidak jatuh ke tangan musuh.
Ketika Diang Cengal berlari mencari Aji Dipati dan pengasuhnya, ketiga kakek yang sebenarnya masih hidup dan tidak kalah, tiba-tiba muncul dan menyelamatkan keempat orang buta dengan mengembalikan penglihatan mereka. Kakek-kakek ini memiliki kekuatan gaib yang luar biasa.
Setelah situasi tenang, ketiga kakek tersebut melakukan aksi pahlawan lagi. Kaka Raba, Kaka Geang, dan Kaka Latik berhasil menggagalkan upaya pasukan Bugis Peneki yang mencoba menghancurkan pohon lumu dengan membawa keempat orang buta sebagai tawanan.
Ketika ketiga kakek itu berhasil memasang Bendera Pusaka Kerajaan Sadurengas di puncak pohon lumu, rakyat dan pasukan Sadurengas bergembira dan menikmati kemenangan mereka atas pasukan Bugis Peneki.
.
Ketika pertempuran dimulai, keajaiban terjadi. Tadok gelang dan serangan musuh tidaklah berdaya melawan ketiga panglima pikun. Mereka tampak seperti hantu yang tak terkena serangan apa pun. Tiga panglima pikun mengamuk di tengah-tengah musuh, menghasilkan mayat-mayat yang bergelimpangan di sekeliling mereka.
Andi Mappanyukki, pemimpin pasukan Kerajaan Bugis Peneki, merasa putus asa dan mencari jalan untuk mengalahkan ketiga orang tua aneh itu.
Ketika perang dimulai lagi, ketiga panglima pikun terlihat tak terkalahkan seperti sebelumnya. Namun, Andi Mappanyukki dan pasukannya tak menyerah. Mereka berusaha mencari celah Namun, tiba-tiba, kejadian tak terduga terjadi: sejumlah besar perahu datang dari Lempesu membawa bala bantuan sebanyak 300 orang.
Namun, keseluruhan kebingungan yang terjadi sebelumnya membuat Penambahan Adam keliru mengartikan situasi dan menyebabkan kehancuran istananya. Akhirnya, setelah kebenaran terungkap, ketiga kakek tersebut mendapat penghargaan atas kepahlawanan mereka, dan kerajaan Sadurengas dapat tetap tegak berdiri berkat bantuan mereka
Namun, sebelum mereka ikut berperang, istana Penambahan Adam terbakar dengan dahsyatnya. Rakyat dan pasukan mencari Penambahan Adam dan keluarganya, tetapi semuanya telah lenyap tanpa jejak. Tiga panglima pikun merasa bersalah dan menyesal, meratapi takdir tragis yang menimpa sang Raja.
Dengan perasaan terombang-ambing, tiga panglima pikun menyampaikan salam perpisahan pada rakyat dan pasukan. Mereka tahu bahwa takdir mereka tak bisa diubah dan berpisah dengan hati penuh duka. Setelah itu, ketiga orang tua itu menghilang dalam kerimbunan hutan, meninggalkan sebuah misteri dan legenda yang akan dikenang selamanya oleh rakyat Sadurangas.
dalam menghadapi permasalahan dan tantangan hidup, kita harus memiliki keberanian, tekad, dan semangat yang kuat. Ketiga panglima pikun yang memiliki ilmu tenaga dalam mengajarkan kita untuk tidak menyerah dalam menghadapi rintangan, bahkan jika tampak tidak mungkin untuk berhasil. Mereka menunjukkan pentingnya keyakinan pada diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh opini negatif orang lain.
Cerita ini juga mengajarkan tentang pentingnya kerja sama dan dukungan antara sesama. Pasukan dan rakyat Kerajaan Sadurangas bersatu padu untuk melawan musuh dan meraih kemenangan. Dalam kebersamaan itulah, mereka mencapai hasil yang luar biasa dan memperlihatkan bahwa persatuan dapat mengatasi segala kesulitan.
Selain itu, cerita ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan orang lain berdasarkan penampilan atau latar belakang mereka. Meskipun ketiga panglima pikun tampak lemah dan aneh, mereka memiliki kemampuan yang luar biasa dan menjadi penentu kemenangan dalam pertempuran.
Terakhir, cerita ini menyoroti pentingnya menjaga dan memelihara warisan budaya dan tradisi. Bendera Pusaka dan simbol-simbol kerajaan menjadi representasi identitas dan kekuatan suatu negara. Hal ini mengajarkan kita untuk menghormati dan mempertahankan warisan budaya agar tetap hidup dan dikenang oleh generasi mendatang.
Dalam kehidupan sehari-hari, amanat dari cerita ini mengajarkan kita untuk memiliki keberanian dalam menghadapi tantangan, bekerja sama dengan orang lain, tidak menilai seseorang dari penampilan fisiknya, dan menghargai dan memelihara warisan budaya kita. Dengan menggali makna cerita ini, kita dapat mengambil inspirasi dan pelajaran berharga untuk meraih kesuksesan dan membentuk masyarakat yang harmonis dan berdaya saing.