Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Dari Samira ke Gunung Padai
Sinopsis Kisah Kisah misteri tentang peperangan antara makhluk gaib di Pulau Samira dengan Putri Junjungan Buih. Akibat kekalahan dalam peperangan yang dahsyat, pasukan dan rakyat Samira harus memindahkan sebuah gunung yang sangat besar dari Pulau Samira melewati Muara Sungai Lungsuran Naga hingga mendekati Gunung Padai. Kisah ini menceritakan awal mula terpisahnya Pulau Samira dan Gunung Samira yang melegenda.

Cerita Lengkap

Kisah Misteri Orang Kayangan

Peperangan Makhluk Gaib Pulau Samira dan Putri Junjungan Buih

Karena kalah perang darat dan udara yang begitu dahsat, pasukan bersama rakyatnya diperintahkan untuk mengangkat dan memindahkan sebuah Gunung yang sangat besar, beratnya jutaan kilogram dari Pulau Samira menyeberangi Muara Sungai Lungsuran Naga sampai mendekat ke Gunung Padai, jaraknya tidak kurang dari sepuluh kilometer. Dengan kekuatan yang maha luar biasa, dengan berat gunung jutaan kilogram tersebut, mereka angkat bersama-sama keudara, lalu terbang diudara. Kemudian gunung itu diletak dengan rapi disebuah daratan yang telah ditunjukkan oleh sang penguasa baru. Kemudian hari gunung itu dikenal dengan nama Gunung Samira. Rakyat Gunung Samira yang sudah mendiami ribuan tahun di Pulau Samira dan Gunung Samira itu dengan tenang, tentram, damai, dan aman harus rela berpindah tempat bersama tempat tinggal dan kota mereka. Maka Pulau Samira dan Gunung Samira sekarang sudah terpisah sangat jauh, Pulau Samira sudah ditinggalkan semua penduduknya. Itulah awal kisah Andai Samira ka Gunung Padai, artinya Dari Samira Ke Gunung Padai. Kisah ini sangat populer dikalangan masyarakat pantai. Seutuhnya kisah ini adalah kisah Misteri, Kisah orang-orang dari negeri Kayangan, kisah makhluk gaib, makhluk halus yang tak kasat mata, tak tampak mata yang ada di Pulau Samira, Gunung Samira, di Negeri Awan dan Gunung Padai. Bagai mana kisah selengkapnya, mari kita ikuti kisah ini. Bacalah bukunya dengan fokus, dan santai agar tidak tertinggal barang satu kata dan satu kalimatpun..... Siaaaappp. Yaahhh Harus siap...

Sungai Berau atau dikenal dulu dengan nama Kuran, muaranya menuju kelaut terbagi menjadi tiga. Muara sungai yang menuju ke Talisayan dan Samarinda namanya Muara Lungsuran Naga, yang menuju ke Tanjung Batu, Pulau Derawan dan Tarakan, namanya Muara Kasai. Sedangkan ditengah yang biasa dilintasi para nelayan dan masyarakat yang tinggal di Desa Batumbuk dan Desa Pegat, namanya Muara Selang. Jadi ketiga muara sungai Berau itu sangat populer dengan kisah dan legenda yang memukau. Disamping itu ketiga muaranya juga dikenal sejak masa Kerajaan Berau, masa penjajahan Hindia Belanda, masa penjajahan Jepang, dan masa perjuangan kemerdekaan sampai sekarang. Para pelaut harus mengenal ketiga muara itu, terutama muara Lungsuran Naga dan Muara Kasai, karena muara itu yang dijadikan patokan apabila kapal mau berlayar menuju Samarinda atau Sulawesi harus keluar melawati Muara Lungsuaran Naga. Sedangkan yang mau menuju ke Pulau Derawan, Maratua, Tanjung Batu, Tarakan dan Tawau harus keluar melalui Muara Kasai. Selain ketiga muara tersebut masih banyak muara lainnya yang kecil dan dangkal. Daratan yang ada sekitar muara Lungsuran Naga, muara Selang, dan muara Kasai berbentuk pulau-pulau yang dibelah oleh sungai. Puluhan aliran sungai yang membelah daratan sekitar muara sungai Berau itu. Puluhan pulau yang ada disana. Puluhan pulau yang ada di Muara Sungai Berau itu terbentuk dari hasil endapan lumpur sebagai delta selama ratusan ribu tahun lalu berperoses secara alamiah, diatas pulau-pulau ditumbuhi semak belukar serta ditumbuhi Nipah yang sangat lebat dan subur, ditumbuhi pohon Bakau, Perangat, serta ditumbuhi pohon Nibung yang sangat tinggi. Daun nipah dipergunakan sebagai atap rumah dan dinding rumah, setelah dijalin menjadia atap nipah dan kajang untuk dinding. Sedangakan pohon Nibung yang tinggi menjulang, ditumbang. Dipergunakan menjadi tiang atau tongkat rumah dan gulang-gulang, jembatan dan pelabuhan kecil untuk tambat perahu. Sedangkan pohon nibung yang dibelah-belah bisa dijadikan lantai rumah, jembatan dan gulang-gulang (pelabuhan tambat perahu).

Sungai Muara Lungsuran Naga yang terus masuk kelaut itu, terlihat seperti biasa-biasa saja. Yah seperti muara sungai yang ada di pulau Kalimantan pada umumnya. Dari kejauhan daratannya hanya terlihat hijau oleh tumbuhan nipah, bakau, perangat dan semak belukar yang lebat. Tetapi sebenrnya, kalau mendekat, dikiri kanan muara itu terbelah-belah, terpisah antara satu dengan yang lainnya oleh sungai-sungai, Sungai itu membelah daratan menjadi pulau-pulau seperti diceriterakan diatas. Disungai-sungai yang membelah daratan itu biasa dimanfaatkan nelayan yang menggunakan perahu bermesin ketinting atau kapal-kapal kecil untuk santai beristirahat ketika malam, dan tempat besembunyi dan berteduh ketika air laut sedang ganas bergelombang besar. Disungai-sungai itu juga nelayan bisa mencari ikan, seperti memancing, menjala atau memasang pukat. Malam hari perahu nelayan berlabuh lebih ketengah sungai, karena ditepi sungai dekat dengan nipah-nipah banyak nyamuk, agas dan rangitnya sangat luar biasa.

Pulau-pulau kecil sekitar muara yang airnya sudah bercampur dengan air tawar dan asin banyak dijadikan lahan tambak oleh masyarakat Berau, terutama masyarakat nelayan yang tinggal diwilayah pesisir laut dan sungai Berau. Seperti tambak Udang, tambak Kepiting, dan tambak ikan Bandeng dan lain-lain. Muara Lungsuran Naga itu namanya sangat terkenal oleh para nalayan dan para pelaut. Naaahhh... Di Muara Lungsuran Naga itulah ada sebuah Pulau yang dikenal masyarakat Berau dan sekitarnya dengan nama Pulau Samira’. Dari sanalah Legenda Gunung Samira dan Gunung Padai ini diangkat.

Legenda Pulau Samira dengan Gunung Samira itu sudah terkenal sangat lama, dikisahkan dari mulut kemulut sejak jaman nenek moyang dulu sampai sekarang. Kalau diukur dengan tahun, tidak kurang sejak tiga ratus tahun yang lalu kisah Dari Gunung Samira ke Gunung Padai itu sudah dikenal. Cuman dalam menceriterakannya berbeda dengan kisah-kisah rakyat pada umumnya, karena kisah ini sangat berbeda. Kisah Pulau Samira, Gunung Samira dan Gunung Padai itu kisah misteri, kisah gaib, kisah orang kayangan. Maka sangat tabu apabila dikisahkan atau diceriterakan dengan sembarangan atau dengan kelakar dan tidak sopan. Mengisahkan harus meminta ijin dulu dengan baik-baik kepada orang kayangan. Paling tidak katakan “Mohon ijin saya mengisahkan Gunung Samira dan Gunung Padai ya datu kayangan” demikian. Seperti itu sudah cukup, mereka sudah tahu. Maka setiap kita mengisahkan cerita ini, orang kayangan senang, dan turut mendengarkan sang pendongeng bercerita. Maka ceriteranya pasti lancar dan runtut. Kisah ini berhubungan dengan kisah legenda misteri gaib dan makhluk halus Gunung Samira dan Gunung Padai.

Dipulau Samira sampai saat ini masih meninggalkan jejak bekas dan bukti dengan dipindahkannya sebuah gunung ketempat lain dan bekas gunung yang dipindahkan itu tetap bersih. Walaupun ada rumput yang tumbuh tidak bisa berkembang dan tidak subur dari dulu sampai sekarang. Karena batu dan tanah disana tetap tidak subur dan seolah menolak untuk ditumbuhi pohon dan rerumputan, ditengah Pulau Samira itulah tempatnya Gunung Samira dicabut paksa dan dipindahkan. Kalau dipikir secara akal normal kejadian pemindahan Gunung Samira dari sebuah pulau yang dikenal dengan Pulau Samira ketempat lain itu pasti mustahil dan tidaklah mungkin. Tapi kenyataannya benar-benar terjadi. Gunung Samira yang cukup besar itu, diangkat dan dipindahkan ketempat lain. Yang luar biasanya lagi, pemindahan Gunung Samira melintasi daratan, melintasi muara sungai yang cukup lebar. Gunung yang dipindahkan tidak ambrol, diangkut seutuhnya. Tanah, batu, dan pohon-pohon serta isi gunung semuanya diangkat dan dipindahkan.

Sejak lama, sejak ribuan tahun lalu Pulau Samira sudah dihuni oleh masyarakat makhluk gaib. Makhluk gaib yang dikenal juga dengan orang kayangan itu mendiami sekeliling pulau, sekeliling gunung, dan sebagian lagi tinggal sampai kebagian gunung yang kita kenal dengan Gunung Samira. Gunung Samira terletak ditengah-tengah Pulau Samira. Orang Kayangan yang mendiami Pulau Samira itu hidup rukun, damai, tentram dan sejahtera. Apabila terjadi perselisihan diantara mereka, para tetua dan tokoh panutan mereka segera mendamaikan. Karena meraka tahu persatuan adalah harga mati, sedangkan damai tentran dan aman menuju sejahtera itu pasti. Maka tidak ada cara lain yang terbaik, mereka harus hidup damai, rukun, tentran dan selalu aman. Ribuan tahun mereka tinggal disana, pengalaman hidup bersama sudah mereka lalui. Para pemimpin negeri makhluk gaib itupun sudah berganti-ganti dari generasi kegenerasi, tetap dalam kedamain, rukun, tentram sejahtera.

Ditempat lain, yang jaraknya puluhan kilometer, diseberang sungai Muara Lungsuran Naga ada pula sebuah gunung yang sangat terkenal dikalangan masyarakat Berau dan sekitarnya, bahkan sampai Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Bukan karena tinggi menjulang gunungnya atau kaya dengan harta bendanya, tapi karena keangkeran nama gunung itu. Konon di Gunung Padai adalah pusat kerajaan makhluk gaib yang terbesar diseluruh Borneo. Orang tidak akan berani melintasi dekat gunug itu pada waktu-waktu tertentu, apalagi dimalam hari. Karena ada saja keanehan yang terlihat atau mengganggu dalam perjalanan. Seperti suara-suara aneh, atau makhluk-makhluk aneh atau berupa awan putih, kabut putih yang tiba-tiba datang dan menghalangi perjalanan. Oleh karena itu, sebelum melintasi didaerah sekitar pegunungan tersebut, sebaiknya kita meminta ijin, numpang lewat dan memohon agar tidak diganggu kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Gunung yang maha angker itu namanya Gunung Padai. Gunung yang memiliki sumber mata air yang sangat bening dan melimpah. Pada mulanya Gunung Padai belum ada yang menghuni baik manusia maupun makluk kayangan dan sejenis makhluk gaib lainnya seperti hantu, jin atau setan. Kecuali dihuni pohon-pohon besar yang rapat, subur dan hijau menutupi seluruh kulit gunung dari bawah sampai puncaknya. Serta tinggal bebarapa binatang khas Kalimantan seperti Pelanduk (Kancil), Landak, Ayam Hutan, Kijang (Menjangan), Payau (Rusa), Beruang Madu, Badak, Kukang, Musang, Monyet Bekantan, Primata, Babi, beberapa jenis binatang melata termasuk Taddung (Ular), beberapa jenis unggas atau burung termasuk disana ada burung Tiung (Beo), Kalibarau (Cocokrowo), Tinjau, Unjit-unjit batang, Enggang, Burung Hantu, Elang, Walet dan lain-lain.

Gunung Padai dijadikan anjir atau patokan oleh para pelaut dan nelayan. Kapal yang datang dari jauh, semisal dari Samarinda, dari Balikpapan, dari Pulau Sulawesi atau dari Pulau Jawa. Begitu mau memasuki sungai Berau melewati Muara Lungsuran Naga. Maka yang dilihat dari kejauhan adalah Gunung Padai. Jadi Gunung Padai jadi patokokan Kapten dan para Jurumudi kapal untuk mengarah ke Muara Berau, masuk melalui Muara Lungsuran Naga. Dari kejauhan Gunung Padai itu seperti gunung paling tinggi, dan satu-satunya yang terlihat. Daratan yang berupa hijau tipis-tipis terlapis awan putih belum nampak, Gunung Padai sudah menonjol terlihat tipis-tipis berlapis kabut awan putih. Itulah salah satu keunikan Gunung Padai. Baru kemudian nempak sahabatnya yiatu Gunung Samira.

Tetapi sejak beberapa ribu tahun yang lalu datanglah kegunung Padai seorang putri berdiam dan menetap disana sebagai tempat tinggalnya yang baru. Dia seorang Putri datang dari tempat yang sangat jauh. Putri itu namanya Putri Junjungan Buih yang sangat cantik jelita, namun perangainya buruk, suka berbuat jahil dan membuat onar serta mengusik ketenangan makhluk lain. Putri Junjungan Buih itu sebenarnya berasal dari Negeri Selatan. Putri tersebut adalah jelmaan dari buih-buih dinegeri selatan. Putri Junjungan Buih berada di Pegunungan Padai hanya seorang diri, karena prilakunya yang buruk itu ia terusir dari negerinya sendiri. Sebenarnya Putri Junjungan Buih tinggal di atas kayangan dan biasa beristirahat diatas awan. Namun ia sangat tertarik melihat Pegunungan Padai yang indah dan hijau ranau. Ketika musim bunga, dari puncak gunung sampai kebawah dan sekitar Gunung Padai menjadi sangat indah. Terlihat dari awan bunga-bunga itu sangat indah dan menawan serta menarik sekali. Ada warna merah, warna merah muda, warna putih, warna kuning, warna coklat campur kehitaman, warna ungu dan lain-lain. Oleh karena keindahannya itulah akhirnya Putri Junjungan Buih tinggal disana. Membuat istana yang sangat indah dan mewah. Ketika musim bunga datang, Putri Junjungan Buih sangat gembira dan bersuka cita. Ia ingin rasanya memamerkan wilayah kekuasaannya yang indah itu kepada semua makhluk lain dan orang Kayangan. Namun makhluk lain yang mengetahui perangainya tidak baik itu enggan dan menghindar untuk bersahabat dengannya.

Dengan kehadiran Putri Junjungan Buih disekitar Muara Lungsuran Naga itu, mulanya memang tidak ada pengaruhnya terhadap penduduk lain yang ada disekitar, seperti di Pulau-pulau sekitar Muara Selang, Pulau-pulau sekitar Muara sungai Kasai dan Pulau-pulau sekitar Muara Lungsuran Naga. Walaupun beberapa kali Putri Junjungan Buih mencoba dan berupaya mendekati mereka termasuk penduduk yang sudah ribuan tahun mendiami Pulau Samira untuk bersatu dengannya, dibawah kepemimpinannya, namun semuanya menolak dengan halus. Mereka tidak mau terusik atas nama apapun. Mereka lebih suka dengan keadaan yang ada sekarang dengan pemimpin mereka masing-masing. Yang lebih sering didekati oleh Putri Junjungan Buih adalah rakyat yang tinggal di Pulau Samira dan disekitar gunung Samira. Tetapi pemimpin Samira tetap menolak dengan halus. Alasan mereka, mereka sudah mengetahui kepribadian Putri Junjungan Buih yang suka membuat onar, dan mengganggu ketentraman bangsa-bangsa lain dan negeri-negeri lain. Bangsa Pulau Samira ingin tetap bersatu, ingin nyaman, rukun, tentram dan damai, itu sudah lebih dari cukup.

Walaupun tidak mendapat sambutan yang baik dan keinginannya belum terpenuhi, Putri Junjungan Buih tetap sabar dan berupaya mencari jalan untuk menyatukan negeri-negeri bangsa makhluk gaib orang kayangan itu dibawah kepemimpinannya. Ia tahu yang menolak dengan keras keinginannya adalah bangsa negeri Pulau Samira. Senyum hambar atas kekecewaan itu terlihat tampak dibibirnya Putri Junjungan Buih. Tetapi lama kelamaan atas penolakan tersebut, kesabaranpun akhirnya terkikis habis dari hati Putri Junjungan Buih. Wajahnya yang cantik dan menawan itu menjadi murka dan sangat menakutkan. Wajahnya ketika marah, bukan hanya menjadi merah saja, tetapi wajahnya yang cantik itu bisa seketika berubah menjadi api yang menyala-nyala.

Sepanjang amarahnya yang sudah memuncak-muncak itu, wajah cantik Putri Junjungan Buih sudah pudar dan berubah. Tidak secantik dulu lagi ketika ia datang dari negeri kayangan turun kebumi lalu menetap di Gunung Padai. Perilakunya semakin ganas, wajahnya memperlihatkan keganasan dan kejahatannya. Rambutnya yang panjang terurai, tidak diurusnya lagi, dibiarkannya acak-acakan, kusut tidak beraturan seperti nenek lampir dari tanah Jawa. Maka akhirnya dibuatlah perjanjian perang antara bangsa Negeri Samira dengan Putri Junjungan Buih dari Gunung Padai.

“Apabila pasukan perang negeri Samira dari Pulau Samira kalah tanding, maka seluruh rakyat negeri Samira harus tunduk dan menyerah serta mengakui Putri Junjungan Buih sebagai pemimpinya. Dan kemudian Gunung Samira diangkat, dipindahkan kedekat Gunung Padai beserta seluruh pimpinan, pasukan dan rakyatnya. Begitu pula sebaliknya, apabila Putri Junjungan Buih kalah harus menyerah, tunduk dan berbakti kepada pemimpin dan rakyat Pulau Samira”.

Dengan adanya perjanjian itu, maka mereka masing-masing kekuatan mengadakan persiapan-persiapan yang matang. Pastilah dengan persiapan yang matang dan strategi perang hebat dan mumpuni, tujuannya hanya satu mampu mengalahkan musuh dan Menang. Begitu pula dengan Putri Junjungan Buih yang berpengalaman hidup dikayangan dan menguasai ilmu kanuragan serta sakti itu, melakukan persiapan-persiapan yang matang juga. Walaupun ia sakti, tetapi hidup sendirian, ia membutuh bantuan. Putri Junjungan Buih sangat sibuk mencari bala bantuan dari negeri-negeri lain. Namun sayang semua yang ditemui menolak, tidak ingin terlibat dalam peperangan itu. Sehebat apapun Putri Junjungan Buih pasti bisa dikalahkan oleh pasukan Negeri Samira yang banyak, kuat dan bersatu dan berpengalaman hidup ribuan tahun di pulau Samira. Mengetahui dirinya akan menerima kekalahan yang memalukan itu, Putri Junjungan Buih terus berupaya mendatangi sahabat-sahabat lamanya untuk berkenan membantunya dalam peperangan melawan Negeri Samira. Namun tetap saja yang ia terima semuanya menolak terlibat. Putri Junjungan Buih sudah sangat kecewa, dan sudah siap menerima kekalahan dalam perang nanti.

Tiba-tiba keberuntungan datang pada saat sangat genting. Karena sesuai perjanjian peperangan tidak lama lagi akan dimulai. Entah berawal dari mana dan bagaimana pula awal mulanya. Semua yakin, pastilah dengan gaya tarik yang dibuat sedemikian rupa, dengan senyuman dan kecantikannya yang dimilikinya, dengan rayuan pemikat lemah lembut luar biasa, serta ketidaktuan prilaku perangai sebenarnya yang dimiliki Putri Junjungan Buih. Terpikatlah sahabatnya Putri Kayangan yang hidup dan tinggal dibulan dan Putri Dewa yang tinggal diawan. Keduanya berkenan membantu Putri Junjungan Buih untuk berperang melawan pasukan Negeri Samira dengan suka cita. Senyum surmingahlah Putri Junjungan Buih, semangat dan keberaniannya kembali pulih, kekecewaan yang tadinya sudah memuncak sirna seketika saat itu juga.

Putri Awan dan Putri Bulan itu sakti mandraguna, sangat terkenal kesaktiannya seantero dunia kayangan. Dimana-mana negeri kayangan sudah mengetahui dan mendengar habarnya. Bahkan Negeri Samira juga sudah mendengar kabar dan mengetahui betapa hebat dan saktinya mereka berdua itu. Putri Kayangan yang tinggal di bulan nama lain yang dikenal adalah Putri Bidadari sedangkan Putri Awan anak dewa itu nama lain yang juga dikenal adalah Putri Sirikandi. Keduanya turun kebumi untuk membantu Putri Junjungan Buih. Dengan bantuan dua putri itu, maka santai dan tenanglah sudah Putri Junjungan Buih. Tinggal menunggu waktu saat pertempuran dimulai.

Bagaimana dengan persiapan Negeri Samira ?

Dalam persiapan perang yang sudah dirancang sedemikian rupa, strategi perang melawan Putri Junjungan Buih sudah diatur dengan mantap. Kekuatan dan kesaktian lawan seperti apapun akan ditangkis dengan berbagai strategi yang sudah dibuat dengan berlapis. Tetapi mereka semua sangat terkejut dengan turunnya Putri Bidadari dari bulan dan Putri Sirikandi dari negeri awan yang tiba-tiba turun dan membantu Putri Junjungan Buih. Maka dalam waktu yang singkat dan sempit ini, mereka harus segera merombak tehnik serangan dan strategi bertahan. Apabila kekuatan pertahanan pasukan perang Negeri Samira porak poranda, maka pasukan tambahan harus segera datang bertahan lebih kuat dan seterusnya.

Jadi pembicaraan besar dalam pasukan gaib dari Gunung di Pulau Samira itu, tentang kedua wanita sakti yang turun kebumi membantu Putri Junjungan Buih. Mereka sangat yakin keduanya tidak mengetahui rencana jahat Putri Junjungan Buih yang akan memberangus seluruh pasukan dan rakyat Pulau Samira yang kemudian nanti akan dijadikan suruhan dan budak Putri Junjungan Buih. Kalau keduanya tahu mereka yakin, pastilah keduanya tidak akan mau membantu Putri Junjungan Buih. Putri Bidadari dan Putri Sirikandi pasti tergoda oleh bujuk rayu dan tipu muslihat yang begitu halus, indah, mempesona, dan meyakinkan, bahwa kedudukannya mengalahkan Rakyat dan Pasukan Gunung Samira benar dan harus segera dilakukan. Sedangkan upaya pasukan Gunung Samira untuk melakukan pendekatan dan menjelaskan pokok persoalan agar tidak terjadi peperangan kepada Putri Bidadari dan Putri Sirikandi sudah tidak bisa lagi. Sebab dengan perang harus mengorban pasukan dan mengorbankan rakyat. Perdamaian dikalangan makhluk gaib dimuka bumi ini pastilah lebih baik. Damai itu Indah. Tetapi apa boleh buat sudah tidak bisa dilakukan lagi, kecuali mengadu kekuatan dengan perang. Saat ini Putri Bidadari dan Putri Sirikandi sudah berada di istana megah Gunung Padai bersama Putri Junjungan Buih. Untuk bersantai dan beristirahat. Sebab tinggal menunggu waktu untuk melakukan serangan ke Pulau Samira.

Pada hari dan tanggal yang telah ditentukan, kedua belah pihak yang bertikai sudah saling berhadapan. Siap tempur. Pasukan Samira mempersiapkan pasukan dengan sistem maju dan bertahan yang ketat dan sangat disiplin. Agar saat mendapatkan serangan dahsat dari Putri Junjungan Buih dan koleganya. Pasukannya dapat bertahan dan balik menyerang. Apabila ada sebagian pasukan yang kewalahan, pasukan lain segera merapat dan membantu.

Dari atas langit terdengar tawa yang sangat keras, huahahahaha....huahahahahaha... huahahahaha... suara tawa itu sampai memekak telingan. Seperti rasa pecah dinding gendang telinga mendengarnya. Itulah suara tawa dahsat dari Putri Junjungan Buih dan disambung dengan tawa Putri Bidadari dari kayangan yang tinggal di bulan... huahahahahaha... huahahahahaha... hahahahaha... kemudian disambut lagi dengan suara lantang dari Putri Sirikandi anak dewa yang tinggal di awan...Huahahahahaha...huahahahaha...hahahahahaha.... sekedar untuk menggetarkan pertahanan lawan. Disis lain, pasukan Pulau Samira tetap bertahan dan menenangkan diri agar suara tawa yang mengerikan itu tidak mengganggu konsentrasi dan fokus pertahanan.

Kemudian terdengar lagi suara lantang dan keras dari langit “Besiaplah kalian semua pasukan Samira yang sombooooong !!!.....” kemudian mulai terlihat kelebatan cahaya dilangit, memberi sinyal siap serang dari tiga penjuru mata angin. Ditengan Putri Junjungan Buih disisi barat dan timur kedua putri yang membantunya. Kemudian kelebatan dari sisi barat dan timur berhenti, sedangkan ditengah Putri Junjungan Buih langsung menyerang. Kata-kata dalam teriakan Putri Junjungan Buih “Pasukan Samira yang sombong” adalah kalimat fitnah yang dibuatnya sendiri. Seolah-olah rakyat Samira itu sangat sombong, tidak mau bersahabat dengan siapapun. Padahal sebaliknya, prilaku Junjungan Buih-lah yang membuat masyarakat Samira tidak berkenan dan enggan bersahabat. Karena sejak awal Putri Junjungan Buih sudah berkeinginan menjadi ratu dan pemimpin rakyat Samira dan rakyat pulau-pulau lain sekitar Muara Lungsuran Naga. Ratu Junjungan Buih berkedudukan dengan di istana yang megah di Gunung Padai. Dan kalimat itu juga, sebagai pernyataan dan meyakinkan kedua sahabatnya yang siap membantu dalam perang dahsat itu. Putri Junjungan Buih langsung menyerang pertahanan Pasukan Samira. Dikiranya serangan pertamanya itu langsung memporakporandakan pasukan Samira. Senjatanya yang panjang model pedang dengan diujungnya ada rantai yang menyala-nyala, bercahaya, itu langsung disabet-sabetkan kemudian menyambar-nyambar pertahanan Pasukan Samira. Kesaktian Puti Junjungan Buih sudah diperhitungkan dengan matang oleh negeri Samira. Ternyata benar, pasukan Samira tak bergeming, pasukan Samira tidak apa-apa....bisa bertahan. Terus membalas dan berusaha menekan lawan. Serangan berikutnya datang lagi dari Putri. Lagi-lagi Pasukan Samira mampu bertahan, pasukan Samira mampu menutup celah-celah diantara mereka agar sambaran yang menyala-nyala dari ujung rantai senjata Putri Junjungan Buih yang sangat menggila itu tidak menghanguskan siapapun dibawahnya, pasukan Samira tidak bergeming. Cahaya yang menyala dari senjatanya tidak bisa meluluhlantakkan lawan. Ketika ada kesempatan lawan membuka pertahanan dan balik menyerang Putri Junjungan Buih. Serangan balik itu sangat mengejutkan Putri Junjungan Buih. Ia harus segera menyingkir dari serangan lawan yang sambung-menyambung. Ketika dirinya hampir terkurung ditengah pasukan Samira, ia segera melompat dan menghindar sejauh-jauhnya untuk menghindari sergapan lawan dan...... sambil melompat dan menghindar itu Putri Junjungan Buih masih sempat mengirim serangan untuk mengganggu kekuatan dan keutuhan lawan yang semakin kuat. Putri Junjungan Buih sampai hampir terpojok. Tetapi ia masih sendirian dalam perang maut ini.

Dimana kedua sahabatnya yang sangat sakti ? Pasukan Samira menyerang Putri Junjungan Buih tidak gegabah, mereka tetap siap untuk bertahan apabila mendapat serangan balik dari lawan. Apa lagi mereka tahu, serangan yang datang baru dari Putri Junjungan Buih seorang saja.

Melihat kejadian itu, Putri Junjungan Buih sudah terpojok menghindari serangan ribuan pasukan Gunung Samira. Kedua putri yang siap membantunya langsung masuk dalam gelanggang pertempuran, langsung menyerang dari dua sisi yang berbeda. Melihat lawan sudah menyerang dari sisi barat dan sisi timur. Pasukan yang memang sudah dipersiapkan sedemkian rupa itu, mulailah terbagi konsentrasinya. Ribuan Pasukan Samira langsung membelah menjadi tiga bagian kesisi barat, kesisi timur dan tengah arah posisi Putri Junjungan Buih, seperti gerakan burung terbang meliuk-liuk dan kemudian tertata rapi kembali sesuai dengan aturan pertahanan yang ditugaskan. Semuanya dengan kekuatan dan kemampuan yang sama.

Perang di kayangan, perang diangkasa itu semuanya tidak menjejakkan kaki di bumi. Semuanya berada diudara dengan gerakan yang begitu cepat, lincah, ringan dan melayang-layang, meliuk-liuk, naik turun. Mata manusia normal seperti kita-kita ini, pastilah tidak mampu mengikuti kecepatan gerakan makhluk gaib diudara yang sedang berperang itu. Gerakan mereka, satu kali berkelebat saja sudah ratusan meter jauhnya. Kalau sepuluh kali kelebat atau sepuluh kali lompatan, sudah lebih 1000 meter jauhnya. Sama dengan satu kilometer lebih jauhnya, pasti sudah tak terpantau oleh kecepatan mata kita manusia. Sedangkan satu kali lompatan kita sebagai manusia super paling jauh antara sepuluh sampai dua puluh meter saja. Jadi sehebat apapun manusia belum mampu menandingi kecepatan bergeraknya makhluk gaib seperti jin, iblis dan makhluk-makhluk gaib lainnya.

Sehari berlalu, dua hari berlalu, tiga hari, sampai seminggu berlalu, peperang yang sangat dahsyat dan mengerikan itu belum juga berakhir. Memasuki minggu kedua, kekuatan pasukan Pulau Samira sudah semakin lemah. Ribuan pasukannya sudah mati dan luka-luka parah. Pertahanan disisi barat dan timur sudah goyah. Tidak mampu menahan serangan Putri Bidadari dari Kayangan dan Putri Sirikandi anak dewa di awan yang begitu dahsyat dan sakti. Suara teriakan saja mampu memekakan gendang telinga. Ditambah lagi dengan tenaga dan fisik yang sudah semakin lemah. Karena sudah kelelahan dan sebagian sudah gugur dan luka parah dimedan laga, pertahanan pasukan Samira sudah kocar-kacir. Sedangkan kecepatan, kekuatan dan kesaktian kedua Putri Kayangan dan Anak Dewa itu masih seperti sedia kala. Semakin menggila, semakin brutal, semakin tidak mampu ditandingi oleh ribuan pasukan dari Samira lagi. Mereka bertahan apa adanya, semampu-mampunya saja.

Tiba-tiba terdengar teriakan lantang Junjungan Buih dari atas langit..... “menyerhlah kalian..... sebelum punah dari muka bumi” perintah Putri Junjungan Buih. Melihat kekuatan yang ada, mempertimbangkan semua akibat peperangan, mempertimbangkan baik dan buruk, melihat ribuan pasukan yang mati dan luka-luka. Pimpinanan pasukan Samira membalas berteriak agar didengar seluruh pasukannya dan didengar Putri Junjungan Buih “aku atas nama pasukan Samira...Kami menyerah”

Mendengar penyataan “kami menyerah” dari pemimpin Pasukan Samira, maka langsung serangan ketiga putri sakti itu berhenti, ketiganya tersenyum puas. Dan semua pasukan Pulau Samira mundur keposisi semula. Dengan demikian maka rakyat Samira harus rela tunduk dibawah perintah dan kekuasaan Putri Junjungan Buih. Kalau tidak menyerah, dapat dipastikan semua pasukan dan rakyat Samira dibinasakan semua dan punah dari muka bumi. Itu tidak boleh terjadi, keturunan rakyat pulau Samira harus tetap ada sepanjang bumi dan dunia masih ada. Keputusan terbaiknya pastilah dengan menyerah kalah dan berbakti kepada Putri Junjungan Buih.

Setelah beristirahat beberapa hari untuk memulihkan kekuatan dan mengobati semua pasukan yang terluka. Maka hari ketujuh diadakan upacara besar, yaitu upacara memindahkan Gunung Samira mendekat ke Gunung Padai. Secara bergotong royong, semua rakyat Pulau Samira, laki-laki, perempuan, tua dan muda mengangkat Gunung Samira yang beratnya jutaan ton itu bersama-sama dengan satu gerakan. Begitu terangkat, Gunnung Samira terserabut dari asalnya di Pulau Samira, dibawa melewati udara. Lalu kemudian diletakkan ditempat yang sudah ditentukan oleh Putri Junjungan Buih. Lebih dekat dengan Gunung Padai. Sedangkan rakyat Pulau Samira semuanya harus pindah juga bersamaan dengan dipindahnya Gunung tersebut. Rakyat Samira harus berbenah diri dan menyesuaikan dengan tempat yang baru dengan membangun perumahan dan kediaman baru ditempat yang baru. Mereka sudah siap kapanpun dan diwaktu manapun apabila mendapat perintah dari pimpinan barunya Putri Junjungan Buih.

Pulau Samira sudah rata, menjadi wilayah datar tanpa gunung lagi. Gunungnya sudah tidak ada lagi. Gunungnya sudah diangkat dan dipindah mendekati Gunung Padai. Tujuannya semata agar pengawasan rakyat Samira mudah dipantau oleh pemimpinnya. Namun legenda Pulau Samira tetap populer diseluruh dunia makhluk gaib, makhluk Kayangan dan dunia manusia. Semua masyarakat Berau masih menceriterakan hebatnya Gunung Samira yang dipindahkan puluhan kilo meter dari tempatnya semula. Menjadi wilayah kekuasaan Putri Junjungan Buih yang bertahta dinegeri gaib disebuah istana yang sangat megah di Gunung Padai, gunung yang sangat melegenda sampai saat ini dengan kisah-kisah gaibnya. Pulau Samira, namanya tetap Pulau Samira, walaupun Gunungnya sudah dipindahkan. Sedangkan nama Gunung Samira tetap namanya Gunung Samira, walaupun sudah dipindahkan ketempat yang lain. Makanya jangan heran ada nama Pulau Samira dan ada nama Gunung Samira, tetapi tempatnya terpisah dan berjauhan.

Bagaimana dengan Putri Bidadari dan Putri Sirikandi ?

Setelah Gunung Samira dipindahkan dengan aman, rakyat Samira sudah menata kehidupan baru ditempat yang baru. Semuanya sudah kondusip, aman dan damai. Putri Bidadari dan Putri Sirikanda yang cantik dan mahasakti itu pulang kenegeri asalnya di Bulan dan di Awan negeri Kayangan.