Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Asal Usul Pisang Lesan dan Teraran
Sinopsis Kisah Bagaimana dengan Putri Bidadari dan Putri Sirikandi ? Setelah Gunung Samira dipindahkan dengan aman, rakyat Samira sudah menata kehidupan baru ditempat yang baru. Semuanya sudah kondusip, aman dan damai. Putri Bidadari dan Putri Sirikanda yang cantik dan mahasakti itu pulang kenegeri asalnya di Bulan dan di Awan negeri Kayangan.

Cerita Lengkap

Pada zaman dahulu kala ribuan tahun yang silam. Terdapat sebuah negeri yang diberi nama Benuwo Rekan Tatau, yang letaknya di hulu sungai Mantopaliu (Bahasa Pasernya Atang Mantopaliu) yang menjadi sungai Tentake atau Sungai Long Kali, yang terletak di kecamatan Long Kali Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Terdapat salah satu sejarah turun-temurun tentang asal-usul terjadinya dua macam tumbuhan yang dapat dijadikan sebagai obat / ramuan sekaligus untuk mengusir jin, setan, atau siluman yang dapat menimbulkan berbagai macam penyakit menular (wabah penyakit) yang susah untuk penyembuhannya bahkan dapat mematikan manusia.

Pada zaman itu ada seseorang yang dituakan yang Bernama Datu Tung Pompong. Beliau ini mempunyai banyak sekali anak-anak, cucu, dan cicit. Maklum konon usia mereka pada zaman itu 100 tahun bahkan sampai 500 tahun. Postur tubuhnya besar dan tinggi. Istrinya bernama Dara. Beliau sebagai orang tua selalu dihormati dan disegani di dalam keluarga Kuta Rekan Tatau saat itu.

Pada suatu hari keluarga besar Rekan Tatau kehabisan lauk pauk, seperti ikan, udang, kepiting dan lain-lain. Sedangkan Datu Tung Pompong orangnya sangat rakus, dan bisa menghabiskan satu wajan besar, belum termasuk dengan lauk pauknya. Ketika itu keluarga besar makan bersama, Datu Tung Pompong sebagai orang yang dituakan dengan suara yang lantang beliau berkata "anak-anakku, kita saat ini kehabisan lauk pauk. Coba kalian cari ke muara sungai Mantopaliu, di muara itu berhadapan dengan lautan lepas yang disebut Gosong Tasik Walu Olong". Gosong Tasik Walu Olong adalah tempat para nelayan mencari ikan, udang dan kepiting pada zaman itu. Namun tak satupun yang menyahut dan sanggup melakukan titah beliau itu. Sampai tiga kali beliau mengulangi kata-kata/kalimat itu. Baru anaknya Nalau Raja Tondoi berbicara dengan perasaan yang agak-agak cemas, takut tidak dapat sepenuhnya mampu melaksanakan titah itu. Nalau Raja Tondoi mempunyai banyak saudara, di antaranya Dayang Ine Sumping, Ape Manuk Kurung dan lain-lainnya. Kata Nalau Raja Tondoi "Ayahanda, saya besok pagi akan berangkat kesana untuk mencari ikan, udang, dan kepiting untuk kita semua".

Matahari mulai terbit dari upuk timur, beliau ke tepian/dermaga mempersiapkan perahu sebagai alat transportasi ke muara dan alat-alat lainnya seperti dayung, jangkar dan jala untuk menangkap ikan. Hingga pada waktu yang tepat untuk beliau berangkat, maka Nalau Raja Tondoi pun masuk ke dalam perahunya lalu mulai mendayung dari satu rantau, dua rantau, tiga rantau, dan tanjung dilewati hingga sampai delapan rantau dan tanjung terlampaui, maka tibalah Nalau Raja Tondoi di Gosong Tasik Walu Olong (laut delapan muara). Di sini terdapat hamparan pasir putih yang sangat luas. Di sini banyak sekali ikan, udang, kepiting, dan berbagai kerrang atau siput. Sesampainya di tempat yang dituju, Nalau Raja Tondoi menambatkan perahu beliau, lalu mengikatnya. Setelah habis istirahat sebentar, beliau mulai menjala, ke hulu, ke hilir, lempar ke kanan, lempar ke kiri jalanya, ternyata memang benar, jala penuh oleh ikan dan udang sehingga baru setengah hari perahu sudah penuh. Tidak terasa matahari persis berada di tengah-tengah permukaan bumi, mungkin zaman sekarang tepat pukul 12.00 siang, beliau pun istirahat makan siang, sehabis itu lalu pulang.

Alangkah senangnya hati Nalau Raja Tondoi, karena beliau berhasil dengan baik menjalankan titah ayahnya Datu Tung Pompong. Tidak terasa karena rasa gembira membuat lajunya perahu ke hulu sungai Mantopaliu seolah-olah sebentar saja hingga tiba di dermaga (tepian). Di dermaga ternyata orang tuanya sejak tadi sudah lama menunggu. "bah, sedek ka ikam udi ngket meto esa, osi, puya, udang ene dah (bah, cepatnya engkau pulang dari mencari ikan, siput, kepiting dan udang itu)" bilang Datu Tung Pompong. "Iya, tadi setengah hari sudah penuh perahu dengan ikan, udang, kepiting ini" sahut Nalau Raja Tondoi.

Setelah mendapatkan hasil yang sangat banyak di hari pertama, Nalau Raja Tondoi rupanya penasaran dengan hasil tersebut, keesokkan harinya beliau berangkat lagi ke tempat yang sama, ternyata begitu pulang hasilnya selalu penuh perahunya dengan ikan, udang, dan kepiting. Namun beliau tidak puas bahkan beliau berjanji sampai delapan hari baru istirahat.

Konon sudah tujuh hari beliau mencari ikan di Gosong Tasik Wolu Olong tersebut selalu saja dapat banyak hingga perahunya penuh. Oleh karena itu keluarga besar Kuta Rekan Tatau tidak lagi kekurangan lauk pauk. Ikan dan udang dikeringkan sehingga tahan untuk dikonsumsi berbulan-bulan. Kata Nalau Raja Tondoi kepada ayahnya Datu Tung Pompong, "esok hari yang kedelapan saya terakhir kesana".

Keesokan paginya Nalau Raja Tondoi berangkat lagi, sesampai di sana beliau seperti biasa sehabis istirahat sebentar, lalu menjala. Namun aneh tak seekorpun yang sangkut ke dalam jalanya hingga tengah hari tak satu pun yang didapati, "wahhh sudah habiskah ikan, udang dan kepiting di sini, tak seekor pun yang didapat" pikir Nalau Raja Tondoi. Kemudian beliau naik ke darat lalu istirahat makan siang. Baru saja selesai makan siang dari tengah laut terdengar suara yang sangat ramai, seperti ada pesta pora, bunyi irama musik, suling, gendang, gong dan lain-lain. Namun suara tersebut semakin dekat dan menuju ke arah beliau. Tidak begitu lama dari kejauhan terlihat delapan buah jong (kapal layar) dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam. Jong-nya sangat besar dan dipenuhi prajurit di dalamnya, begitu pula bentuk warna kulit, rambut prajurit itu sama dengan warna kapal dan layarnya berwarna-warni pula. Namun aneh ke depan jong tersebut tidak lain dan tidak bukan hanya menuju ke arah tempat beliau istirahat. Dalam pikir Nalau Raja Tondoi "kenapa mereka ke sini, ada apa gerangan?". Tiba-tiba jong paling depan dan besar sekali dari jong yang lainnya persis berhenti di tepi gosong tempat beliau istirahat, lalu salah satu dari mereka turun kemudian berlari ke arah beliau. Sesampai di hadapan beliau, orang tersebut berdiri tegak, badannya tinggi dan besar lalu mengomel, dan menunjuk ke arah Nalau Raja Tondoi.

"Engkau telah menghabiskan peliharaanku, kami sudah membiarkan delapan hari ini. Engkau mencari ikan di sini, hingga pada hari ini tidak ada satupun kau dapatkan, artinya semuanya telah habis engkau ambil" kata orang tersebut.

"Iya, memang betul delapan hari ini, tujuh hari yang lalu banyak dapat ikan, udang, dan kepiting" balas Nalau Raja Tondoi.

"Oleh karena itu, saya bersama prajurit dan rakyat saya datang ke seini untuk menemui engkau untuk menuntut atas perbuatanmu itu" timpal orang tersebut.

Nalau Raja Tondoi terdiam sejenak, dan merenungkan apa sih tuntutan yang disangsikan kepadanya dan masyarakat Rekan Tatau nantinya. Namun belum habis Nalau merenung, orang tersebut melanjutkan pembicaraannya dan katanya "kami akan datang ke Kuta Rekan Tatau untuk menyerang dan meratakan tempat kalian dengan tanah, karena kalian melakukan kesalahan besar. Kemudian orang tersebut selaku kepala regu atau pemimpinnya bergegas naik ke dalam jong yang paling besar dan dipenuhi oleh prajuritnya. Janjinya pada hari kedelapan nanti mereka akan datang ke Kuta Rekan Tatau untuk meratakan dengan tanah apa yang ada di sana.

Nalau Raja Tondoi pun bergegas pulang, sesampainya di tepian Rekan Tatau, bilang Datu sebagai orang tua "Bah, kode mbe moko osau pedau dau ene (bah, kenapa kosong perahumu itu) tak ada ikan, udang, kepiting, dan lain-lain di dalam perahut itu". Nalau Raja Tondoi hanya diam saja tidak ada kata-kata yang keluar dari dalam mulutnya. Dia masih ingat pesan orang di muara tadi siang. Ternyata orang-orang yang berada di dalam jong itu adalah sejenis bangsa siluman dan jin penjaga lautan. Nalau pun bergegas masuk ke dalam Kuta Rekan Tatau dan langsung menuju sumur untuk mandi. Setelah siap, beliau menghadap Datu Tung Pompong lalu menyampaikan pesan para siluman dan jin yang menempati samudra luas di sana. Datu Tung Pompong setelah mendengar dengan terkejut berkata.

"Bah, Moko di ketine otang iyo oli (kenapa begitu cerita sudah)" Kata Datu Tung Pompong.

"iya, karena peliharaan mereka habis saya ambil" sahut Nalau Raja Tondoi.

"tidak mungkin, masa iya habis, padahal lautan itu sangat luas" potong Datu Tung Pompong.

"entah lah, mungkin karena tujuh hari yang lalu perahu saya selalu penuh dengan hasil tangkapan" kata Nalau Raja Tondoi.

Singkat cerita, tak terasa sudah tujuh malam tujuh hari sudah terlewati. Datu Tung Pompong sebagai orang tua mengumpulkan semua orang di Kuta Rekan Tatau dan memulai pembicaraan.

"siapa yang berani dan punya nyali untuk menghadapi mereka itu?"

Tidak ada yang berani menjawab hingga berkali-kali beliau menanyakan hal tersebut kepada anak, cucu, cicit, dan buyut-buyutnya beserta warga masyarakat yang lain. Tiba-tiba dari sudut kanan Kuta Rekan Tatau terdengar suara orang yang sangat tua dan terbata-bata sambil berkata.

"kalau tidak ada yang sanggup, kakek dan nenek ini akan bersedia untuk menyambut kedatangan bala tentara itu nanti, kami berdua sudah tahu seperti apa mereka. Mereka itu bangsa siluman dan jin lautan yang sangat ganas, mereka memerangi kita semua tidak padang bulu".

Datu mendengar kata-kata kakek tua itu menangis, ternyata kakek dan nenek itu adalah orang tua kandung Datu Tung Pompong, mereka adalah kakek dan nenek Rigang-Rigo.

"Besok pagi antar kami berdua ke muara Tasik Wolu Olong itu dan buatkan pondok untuk tempat tinggal kami" kata kakek Rigang-Rigo. Mendengar hal itu bertambah nyaring bunyi tangis Datu Tung Pompong karena takut kehilangan orang tuanya.

"Tidak usah kau tangisi nak, ini sudah janji kami berdua, memang untuk menyelamatkan kalian semua" kata kakek Rigang-Rigo.

Keesokan paginya yaitu hari ketujuh mereka beberapa kapal berangkat ke muara untuk mengantar kakek dan nenek Rigang Riqo sebagai penjaga di muara agar prajurit bangsa siluman dan jin itu tidak bisa ke hulu (Kuta Rekan Tatau) untuk menyerang dengan kekuatan penuh. Setelah sampai di muara, mereka gotong royong membuat pondok buat nenek dan kakek. Tak terasa lama pondok pun selesai. Pas siang hari mereka pamit pulang. Datu Tung Pompong menangis lagi hingga pingsan, sehingga diangkat ke dalam perahu kemudian berangkat pulang ke hulu. Sesuai hari perjanjian esok hari kedelapan, bangsa siluman dan jin penguasa lautan akan datang menyerang Kuta Rekan Tatau.

Malam pun tiba, kakek dan nenek Rigong-Rigo pun mulai beristirahat, karena besok pagi akan berhadapan dengan bangsa jin dan siluman yang sangat banyak. Ternyata kakek dan nenek tersebut bukan orang sembarangan. Rupanya mereka memiliki sedikit kesaktian, sehingga mereka berani dan siap menghadapi pasukan siluman dan jin itu.

Tidak terasa hari sudah menunjukkan waktunya tepat pada siang hari. Tiba-tiba dari tengah lautan sana terdengar suara tembakan dan sangat ramai, tak begitu lama terlihat dari kejauhan muncul delapan buah jong besar dan dipenuhi bala tantara yang berwarna-warni serta mengarahkan moncong meriam, senjata, panah dan sumpit ke arah kakek dan nenek, hingga pondok mereka berdua rata dengan tanah. Namun mereka berdua tetap duduk santai di hamparan pasir putih, tak bergeming sedikit pun. Sesampai di tepi gosong Tasik Walu Olong persis di hadapan kakek dan nenek Rigang-Rigo jong paling besar pertama bersandar kemudian salah satu dari mereka turun lalu tanpa basa-basi langsung menangkap leher kakek Rigang- Rigo lalu ingin memotong lehernya. Sambil tersengal-sengal nafas sang kakek berkata "jangan kau potong leherku dulu, dekatkan semua jong kalian dulu ke sini biar terisi semua oleh darah dan daging kami berdua. Kemudian prajurit tersebut menyahut "wah, jangankan kalian berdua, satu negeri Rekan Tatau pun tidak sanggup melawan kami ini". "tidak betul, rapatkan semua jong, takut jong-mu ini tak akan muat nantinya, setelah kami berdua habis dan masih kurang baru kalian semua bisa melanjutkan perjalanan ke Kuta Rekan Tatau" sahut kakek Rigang- Rigo.

Rupanya mereka percaya, lalu mengisyaratkan agar ketujuh jong yang lain merapat ke tepi, dekat dengan bibir pantai. Tiba-tiba dengan ganasnya prajurit tersebut memotong leher kakek dan nenek Rigang-Rigo. Ketika darah mulai mengalir ke dalam jong yang paling besar dari leher sang kakek dan nenek, jong tersebut mulai dipenuhi oleh darah namun tak habis-habisnya, begitu pula para prajuritnya, mereka kenyang oleh darah kakek dan nenek itu hingga kedelapan jong itu penuh dan tidakk muat lagi. Bala tentara siluman dan jin itu tidakk sanggup lagi melanjutkan perjalanannya ke Kuta Rekan Tatau untuk melakukan invasinya dalam rangka membalas dendam.

Mari kita tinggalkan cerita kakek dan nenek rigang rigo kita beralih ke hulu sungai Mantopalio tempat berdirinya sebuah rumah besar atau istana Kuta Rekan Tatau. Kata Datu Tung Pompong "bagaimana kabar Dato atau Ninin kalian di sana ini sudah hari yang kedelapan,apa kakek dan nenek Rigang-Rigo masih hidup atau habis dimakan oleh mereka?".

Maka pagi itu Datu Tung Tompong dengan Nalau Raja Tondoi berangkat ke Tasik Walu Olong dengan warga masyarakat yang lainnya. Setiba di sana dari kejauhan tidak terlihat sedikitpun pondok yang telah mereka bangun. Posisi pondok yang dibangun rata dengan tanah. Di hamparan pasir putih juga terlihat banyak bekas telapak kaki baik besar dan kecil serta darah berceceran di sekitarnya.

Datu dan Nalau bersama rakyat memanggil-manggil kakek dan nenek Rigang-Rigo namun tidak ada jawaban. Nalau Raja Tondoi berkata "ini sudah jelas ada bercakan darah, berarti ini darah mereka, apa boleh buat memang mereka berdua sudah ditakdirkan sebagai penyelamat masyarakat Kuta Rekan Tatau". Namun tiba-tiba terdengar suara, "anak cucuku ini kakek dan nenek kalian ada di sini". Nalau tidak melihat siapapun dari arah suara tersebut. Nalau tetap memperhatikan arah datangnya suara tersebut ternyata ada dua buah benda yang terlihat dari sumber suara tadi, terletak di hamparan pasir putih. Benda tersebut ternyata tempurung lutut kakek dan nenek. Sambal memegang kedua benda itu Nalau berkata "dari sini kah datangnya sumber suara tadi?". Tempurung itu pun menyahut "iya betul, tempurung lutut ini adalah kakek dan nenek, hanya ini saja sisa badan kami berdua, tetapi mereka tidak sempat ke Kuta Rekan Tatau karena cukup hanya di sini jong mereka penuh dengan darah dan daging kami berdua, oleh karena itu tempurung lutut ini kalian simpan bawa ke Kuta sebagai pengganti kami berdua". Datu Tung Pompong dan Nalau Raja Tondoi pun kembali pulang ke Kuta Rekan Tatau dengan membawa kedua benda kecil yang berupa tempurung lutut kakek dan nenek.

Tidak terasa sudah bertahun-tahun waktu terlewati, Ape Manuk Kurung sebagai penjaga kedua tempurung tersebut, menyimpannya dalam lanjung kecil yang disebut baku (dalam bahasa Pasernya). Ape Manuk Kurung bingung dengan kedua tempurung lutut tersebut hingga akhirnya pada suatu pagi ketika pergi ke sumur, kedua tempurung tersebut dibawanya lalu ditanamnya, satu ditanam di depan sumur dan satunya di belakang sumur. Keesokan paginya Ape Manuk Kurung kembali mandi ke sumur betapa terkejutnya melihat kejadian yang sangat aneh, dari kedua tempurung lutut yang ditanam itu tumbuh berupa tanaman yang sangat subur. Di Kuta Rekan Tatau beliau ceritakan apa yang beliau lihat yaitu perubahan tulang tempurung lutut bisa jadi tumbuhan yang belum pernah dilihatnya selama ini. warga pun berduyun-duyun menuju sumur itu tak terkecuali Datu Tung Pompong dan Nalau Raja Tondoi.

Masyarakat Kuta penasaran tidak tahu apa nama tumbuhan baru itu dan apa kegunaannya. Oleh karena itu, Datu Tung Pompong membuat sayembara untuk mengetahui nama tumbuhan itu dan untuk apa kegunaannya bagi umat manusia. Tetapi sudah tujuh hari berjalan sayembara itu tidak ada warga masyarakat yang tahu dan kegunaannya, bahkan dari dari daerah luar pun diundang namun belum ada yang tahu nama kedua macam tumbuhan jelmaan dari tulang tempurung lutut itu. Hingga bilang Datu kepada Nalau, "engkau berangkat ke rumah kakek Sengkan Wayat, minta beliau ke sini karena ada hal-hal yang belum terpecahkan". Konon Kakek ini tinggalnya di negeri atas angin jadi hanya Nalau Raja Tondoi yang mampu ke sana.

Nalau Raja Tondoi pamit dan berangkat ke negeri atas angin untuk menjemput kakek Sengkan Wayat. Tibalah Nalau di rumah kakek Sengkan Wayat kemudian dipersilahkan masuk dan duduk. "Apa kabarmu Nalau Raja Tondoi baik-baik saja?" kata kakek. "saya disuruh ayah untuk menjemput kakek karena ada hal yang sangat penting bilang Ayah" jawab Nalau. "Iya nanti saya ke sana" kata kakek Sengkan Wayat.

Nalau Raja Tondoi pun pamit pulang. Sesampainya di Kuta belum habis lelahnya Datu Tung Pompong bertanya "apa kabar kakek Sengkan Wayat?"."baik-baik saja Ayah" jawab Nalau. Baru saja tertutup mulut Nalau menjawab pertanyaan Datu, tiba-tiba dari arah datangnya Nalau tadi kelihatan gelap gulita seakan-akan angin puting beliung turun ke bumi, angin pun tertiup kencang pepohonan banyak yang tumbang dan patah. Konon kakek Sengkan Wayat jika lagi berjalan di permukaan bumi ini, tumbuh-tumbuhan akan tumbang patah dilewatinya walaupun beliau berjalan di atas awan. Namun aneh, setelah tiba di Kuta Rekan Tatau tidak satu pun pohon kayu atau pun buah-buahan yang tumbang, rupanya si kakek tahu diri ketika dan kurangi gelombang hembusan anginnya.

"Apa kabar Datu, kenapa gerangan engkau memanggil aku" tanya kakek Sengkan Wayat.

"Ada hal yang sangat penting. Saya membuat sayembara, sudah tujuh hari ini belum ada yang tahu nama dua tumbuhan yang tumbuh di sumur Ape Manuk Kurung dan apa kegunaannya. Kakek saya minta untuk menjemput kakek pore pun tahu, dan nenek pore pun pandai karena hanya kakek saja yang bisa sampai ke tempat mereka".

Kakek Sengkan Wayat pun menyanggupi, dan seketika itu juga pergi ke tempat kakek pun tahu dan nenek pun pandai, tak begitu lama tibalah kakek Sengkan Wayat di tempat kakek pun tahu dan pun pandai. "Apa kabar kakek Sengkan Wayat?" tanya mereka berdua. "Kabar baik, saya di amanahkan oleh Datu Tung Pompong untuk menjemput kakek dan nenek berdua, karena di Kuta Rekan Tatau ada dua jenis tumbuhan yang baru tumbuh yang asalnya dari tulang tempurung lutut kakek dan nenek Rigong-Rigo. Sampai saat ini belum tahu nama dan kegunaan tumbuhan tersebut". Kakek pun tahu pun menjawab "iya, nanti kami berdua akan pergi ke sana, silakan kakek Sengkan Wayat duluan". Kakek dan nenek pergi menggunakan kendaraan langsang ilap (sejenis perahu kilat). Konon kendaraan ini lajunya secepat kilat. Sekejap saja kakek dan nenek sudah sampai di Kuta.

Ketika pagi hari masyarakat Kuta Rekan Tatau mulai berbondong-bondong datang untuk melihat tumbuhan yang baru tumbuh itu, tak terkecuali kakek pore pun tahu dan nenek pore pun pandai. Sesampai di sana kakek melihat tumbuhan tersebut lalu berkata kepada Datu Tung Pompong dan Nalau Raja Tondoi "yang berdaun lebar namanya pisang lesan (bahasa Paser) atau pisang musang, tumbuh di depan sumur tempat ditanam tempurung lutut kakek Rigang-Rigo. Sedangkan teraran, sejenis tumbuhan sebangsa lengkuas, tumbuhan ini juga biasanya dijadikan sebagai ramuan atau obat di dalam acara ritual seperti belian dan lain-lain. tumbuhan ini berasal dari tempurung lutut nenek Rigang Rigo". Itulah nama kedua tumbuhan yang asal mulanya dari tempurung lutut kakek dan nenek Rigang-Rigo.

Kakek pore pun tahu dan nenek pore pun pandai berpesan tumbuhan ini dijaga dan dirawat karena sebagai obat penolak siluman dan jin yang dapat menimbulkan berbagai macam wabah penyakit menular. Sehingga kedua tumbuhan tersebut bagi ke suku Paser sangat berguna dan tidak boleh sembarangan tebang karena asalnya dari bagian tubuh manusia yang berjasa bagi keselamatan rakyat Kuta Rekan Tatau pada zaman itu.

Demikian cerita asal mula terjadinya pohon pisang hutan atau pisang musang kalau bahasa Pasernya pisang lesan dan tumbuhan bernama teraran yang berfungsi sebagai obat bagi manusia di muka bumi ini. Mudah-mudahan dengan adanya cerita ini dengan menambah kekayaan seni budaya dan dapat mengangkat serta menjaga kearifan lokal khas khususnya bagi masyarakat Paser dan pada umumnya masyarakat Kalimantan Timur.