Kampung Sei Bebanir Bangun merupakan kampung yang terletak di kecamatan Sambaliung kabupaten Berau provinsi Kalimantan Timur. Kampung ini dikenal dengan kampung adat karena tradisi unik suku Banua yang masih dipegang turun-temurun hingga saat ini. Sebelumnya warga penduduk kampung Sei Bebanir Bangun ini tinggal di kampung Babanir. Kampung Babanir berada di daerah sekitar muara pantai tepatnya ditepi sungai Bebanir dan kampung Tapukan. Mata pencaharian warga kampung Babanir salah satunya dengan bercocok tanam. Menurut bapak Badran, salah satu orang yang dulunya tinggal di kampung Babanir sekarang telah beumur 82 tahun, terdapat kurang lebih 200 kepala keluarga yang bermukim saat itu. Ketika bercocok tanam, mereka tidak hanya akan tinggal di sekitar kampung saja, akan tetapi juga berladang mulai dari daerah Gunung Berau, Selumut, Paddang, dan Simakka.
Menurut bapak Badran, pada saat itu warga kampung Babanir menerapkan system berladang pindah. Mereka menerapkan system berladang pindah karena hasil dari tanaman mereka sudah tidak sama dengan yang di dapatkan pertama kali dan tujuan mereka berpindah dari ladang sebelumnya untuk mencari lahan baru yang lebih subur. Ketika mereka berladang, orang-orang akan membuat pondok tempat mereka bernaung di siang hari atau pun bermalam. Bahasa Beraunya mendirikan lapau. Umumnya sebagian besar waktu mereka dihabiskan untuk tinggal di lapau. Karena jarak antara ladang dan kampung Babanir sangat jauh dan membutuhkan tenaga yang tidak sedikit, kalaupun mereka ingin pulang mereka akan pulang kira-kira seminggu sekali pada hari jumat untuk sholat di masjid kampung atau ketika ada perayaan hari besar dan acara lainnya. Maklum, transportasi utamanya pada waktu itu adalah perahu. Itupun dengan cara mendayung tanpa mesin. Istilah mereka babassai. Sehingga lebih efisien jika mereka tinggal di lapau selama berladang. Daerah Gunung Berau selain sebagai tempat mereka bercocok tanam, juga sebagai tempat pemakaman warga dan hingga sekarang makam-makam tersebut masih dikunjungi oleh anak cucu mereka. Sekilas ada pertanyaan yang muncul dibenak saya ketika lagi mendengarkan cerita dari bapak Badran, mengapa untuk tempat pemakaman masyarakat Babanir waktu itu berada di Gunung Berau, padahal jarak yang harus di tempuh cukup jauh dari perkampungan? Belum lagi harus mendayung perahu untuk sampai ke sana. Menurut bapak Badran, alasan mereka memilih Gunung Berau sebagai tempat pemakaman adalah karena mereka memiliki kebiasaan untuk memakamkan jenazah di daerah yang tinggi. Seperti kita ketahui kampung Babanir terletak di muara pantai, di mana daerahnya sering mengalami pasang surut air. Mereka khawatir jika di makamkan di Babanir, makam tersebut akan rusak terkena air pasang. Jadi daerah yang tinggi seperti Gunung Berau merupakan tempat terbaik bagi mereka untuk pemakaman.
Hingga pada periode tahun 70-an kampung Babanir diserang wabah kolera. Penyakit ini menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak. Rata-rata yang meninggal dunia dari kalangan anak-anak, Meskipun usia dewasa juga tidak sedikit. Menurut cerita orang tua, begitu banyaknya yang meninggal sehingga setiap selesai memakamkan satu jenazah sudah datang lagi jenazah lainnya. Di tanbah lagi wabah datang pada saat musim kemarau atau panas. Suasana kampung begitu sulit saat itu. Beberapa pendapat dari orang Babanir yang bercerita tentang penyebab wabah itu bisa meluas. Pendapat pertama wabah rappisan ini di sebabkan air sungai yang waktu itu sanitasinya kurang terjaga. Wajar saja cepat menyebar. Jika ada warga terjangkit rappisan atau kolera akan mengalami muntah dan diare yang jambannya ada disungai, maka otomatis akan mencemari air tersebut.
Pendapat kedua mengatakan musim kemarau yang sedang melanda membuat sulitnya air bersih. Menurut bapak Norbek, 72 tahun, saat itu sumur warga banyak yang kering. Di tambah lagi sungai Babanir airnya asin. Kalaupun sumur itu masih ada airnya, sudah terjadi intrusi air asin. Oleh karena itu, warganya sering kali pergi mendayung ke Suaran demi mendapatkan air bersih. Air di Suaran adalah air tawar. Bahkan ada yang mencari air tawar hingga ke Gunung Padai. Pendapat ketiga adalah akses yang cukup jauh saat itu juga menyulitkan untuk mendapat bantuan yang memadai, terutama layanan kesehatan. Wabah berlangsung kurang lebih satu bulan lamanya. Setelah wabah berakhir di situlah ada wacana untuk pindah kampung. Banyak faktor yang melatar belakangi kepindahan itu. Antara lain daerah pemukiman cukup terpencil, akses yang sulit, pasang surut air masuk cukup tinggi hingga ke perkampungan, sumur warga yang mengalami intrusi air laut, sampai adanya program relokasi masyarakat yang digaungkan oleh distrik setempat.
Di ceritakan pak Norbek, awalnya tahun 1971 mereka ingin pindah ke Gunung Berau. Namun rencana itu di tolak oleh pihak kecamatan karena kondisi Gunung Berau yang saat itu kurang memadai untuk mensuplai air bersih bagi warga. Akhirnya di putuskan masyarakat Babanir pindah ke tempat sekarang yang namanya kampung Sei Bebanir Bangun. Perpindahannya pun tidak langsung menyeluruh. Awalnya hanya beberapa kepala keluarga saja yang pindah. Tempatnya disebut kampung lawas/lama, terjadi sekitar tahun 1975. Di situ mereka mendirikan pondok sederhana sebagai tempat tinggal. Bahkan ada yang beratap dan berdindingkan daun nipah sebelum datang proyek pembangunan rumah rakyat yang diperuntukkan bagi warga Babanir.
Menurut bapak Kamaruddin sebagai ketua adat kampung Babanir bangun, tidak hanya warga kampung Babanir saja yang pindah, tapi juga warga kampung Tapukan. Dulu disebut dengan SP 1. Pada tahun 1985 masyarakat Babanir yang tersisa pindah ke daerah baru yang disebut kampung baru, disebut SP 2. Perpindahan ini juga sekaligus merupakan program relokasi pemerintah daerah setempat dalam menyediakan perumahan rakyat sederhana daan lahan untuk di kelola bagi orang Babanir. Pada fase inilah tidak ada lagi yang tinggal diperkampungan tepi sungai Babanir. Seluruhnya sudah berpindah tempat ke wilayah baru yang lebih dikenal sekarang sebagai kampung Sei Bebanir Bangun. antara kampung lama dan kampung baru masih satu kawasan.
Sejak kepindahan semua masyarakat Babanir ke kampung yang baru, mereka tidak pernah melupakan tanah kelahirannya dulu. Bagi para nelayan Babanir, sungai-sungai yang ada disana merupakan tempat mereka mencari tangkapan ikan dan lainnya. Hasil yang di peroleh pun sangat beraneka ragam. Bahkan saat ini sering di datangi oleh para pemancing dari daerah sekitar. Untuk petani yang bekerja di ladang, kampung Sei Bebanir Bangun yang baru adalah tempat mereka sekarang menanam padi agar tidak jauh dari permukiman,. Akan tetapi, hasil perkebunan yang nenek moyang mereka tanam dahulu tetap terjaga karena kerap didatangi atau dipelihara keberadaannya.
Sebagai kampung adat suku Banua Berau, banyak tradisi atau kepercayaan urang Banua yang kerap dilakukan hingga sekarang. Bagi orang Babanir, ada tiga momen paling penting dalam kehidupan seorang anak manusia. Dalam setiap momen tersebut selalu dirayakan atau diberikan semacam penghargaan, yaitu momen kelahiran, pernikahan dan kematian.
Kelahiran seorang bayi, ari-ari bayi tidak langsung dikuburkaan pada umumnya. Tradisi Babanir, ari-ari tersebut dibrsihkan terlebih dahulu diberi garam dan dibungkus dengan kain putih. Lalu diikat, dibungkus plastik, kemudian dimasukkan kedalam toples untuk disimpan. Lamanya penyimpanan berkisar kurang lebih 40 hari, setelah itu baru dikuburkan. Untuk bayi yang baru lahir biasanya diletakkan dalam sebuah talam berisi beras. Kemudian pegawai masjid yang di undang mendoakan bayi tersebut. Bagi orang Babanir, istilahnya disebut ketenggah. Setelah beberapa hari diadakan syukuran pemberian nama. Istilahnya bemaulud. Pada acara ini, si empunya hajat mengundang para pegawai masjid. Acara dimulai dengan basalakar, yaitu membaca kitab barzanji yang berisi shalawat nabi diiringi dengan tabuhan rebana. Setelah itu, pemotongan rambut dan pemberian nama dilakukan.