Indonesia adalah negara kepulauan dengan beragam suku dan budaya yang masing-masing memiliki ciri khas dan keunikan tesendiri. Seperti Kalimantan Timur yang didiami beberapa suku asli seperti Banjar, Kutai, dan Dayak. Berbeda suku maka berbeda pula ciri khas yang ada. Misalnya orang Dayak memiliki banyak ciri khas, diantaranya rumah adat yang disebut Lamin.
Lamin merupakan nama rumah adat suku Dayak dari suku Benuaq (kelompok etnis atau suku bangsa yang berasal dari daerah Kutai Barat) di Kalimantan Timur. Rumah adat ini biasanya digunakan untuk berbagai keperluan seperti upacara adat, pertemuan warga, dan pesta pernikahan. Rumah adat Lamin memiliki bentuk anjungan atau disebut panggung, dengan panjang sekitar 300 meter, lebar 15 meter dan tinggi hingga 3 meter yang biasanya terbuat dari kayu ulin. Letak geografis wilayah Kutai Barat yang banyak dialiri sungai dan lingkungan yang sebagian besar masih tertutup oleh hujan tropis yang lebat mengakibatkan iklim yang sangat panas dan cuaca kelembaban tinggi. Oleh karena itu, rumah adat Lamin berbentuk kotak memanjang dengan dinding kulit kayu dan atap genteng sirap sehingga dapat membuat sirkulasi udara di dalam ruangan akan menjadi lancar dan seragam.
Rumah adat Lamin dibuat dengan dinding dan lantai sangat permeabel terhadap sirkulasi udara, kemudian atap dibuat miring memanjang dari timur ke barat untuk menghalangi sinar matahari. Rumah adat Lamin tidak hanya dilihat dari fungsinya terhadap cuaca, namun juga dapat berfungsi sebagai tempat berlindung dari serangan binatang buas dan serangan suku lain. Rumah adat Lamin yang berbentuk panggung terutama dapat berfungsi sebagai kandang hewan. Tangga menuju rumah adat Lamin terbuat dari kayu utuh yang kokoh, di mana satu sisi dibentuk anak tangga dan berbentuk silinder di sisi lainnya. Pada siang hari, sisi tangga menghadap ke atas memungkinkan penghuni rumah untuk naik turun. Namun, pada malam hari, posisinya dibalik, dengan sisi silinder menghadap ke atas, untuk mencegah hewan merayap seperti ular naik ke dalam rumah adat Lamin.
Tata ruang pada rumah adat Lamin mempunyai keunikan tersendiri dikarenakan rumah adat Lamin dapat ditinggali oleh beberapa keluarga. Rumah adat Lamin memiliki tiga bagian yaitu dapur, kabin, dan ruang tamu. Setiap kepala keluarga yang tinggal di rumah adat Lamin tersebut harus memiliki dapur, kabin khusus untuk pasangan suami istri dan ruang tamu yang pada prinsipnya merupakan ruang publik. Keunikannya terletak pada struktur rumahnya yang memanjang menjadi satu ruangan dengan banyak bilik-bilik keluarga.
Rumah adat Lamin dibangun dengan beberapa tiang penyangga. Tiang penyangga rumah adat Lamin terbagi menjadi dua yaitu tiang inti untuk menopang atap rumah adat Lamin, dan tiang lainnya yang menopang lantai rumah adat Lamin. Biasanya, atap rumah adat Lamin dihiasi oleh kepala naga sebagai lambang keagungan, kebajikan dan kepahlawanan, sedangkan pelataran atau halaman rumah dipenuhi dengan patung-patung yang menggambarkan dewa-dewa yang dipercaya oleh warga setempat sebagai penjaga rumah dan desa.
Lamin Talungsur adalah cerita yang populer di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Berau. Cerita ini memiliki berbagai macam versi karena diceritatkan secara turun temurun. Selain menjadi cerita rakyat yang populer, Lamin Talungsur juga sebuah lagu yang diciptakan oleh H. Abdurrahman Sidiq.
Sesuai dengan namanya, lagu ini diambil dari nama sebuah rumah adat di Kalimantan Timur yang disebut Lamin dan Talungsur diambil dari bahasa Berau yang artinya terseret. Lagu ini bercerita tentang sebuh rumah yang tenggelam dan menghilang ke dalam sungai. Arti dari lagu ini adalah di sebuah desa yang tenggelam dalam kesedihan. Lamin Talungsur adalah lagu ciptaan H. Abdurrahman Sidiq yang diambil berdasarkan kisah kuno, yaitu hilangnya desa akibat longsor. Makna lagu ini dapat kita lihat di paragraf selanjutnya dari lirik lagu tersebut.
Basurung ka ulu rantau tujuan
Bertolak kehulu rantau tujuan
Basunsung surut mangiring pasang
Pergi melawan arus
Rantau tujuan lamin talungsur adidindang
Rantau tujuan lamin talungsur sayang
Kissarini kunun jadi susuran
Kisah ini jadi cerita jaman ke jaman
Lamin talungsur la nama rantaunya
Lamin talungsur nama kampungnya
Nyadi susuran jaman ka jaman
Jadi cerita turun temurun
Adalah kunun ini kissanya adidindang
Jadi begini ceritanya sayang
Si ayus mangail bauli kalli
Si Ayus memancing ikan jalau
Paulliannya lalu disalai
Hasil pancingan lalu dipanggang
Diatas salaian cadandak mati
Di atas bara tidak mau mati
Jabakulisar manggamlim buar
Dia meronta dan menggeliat
Si Ayus galli tatawa gallak
Si Ayus tertawa terbahak-bahak
Tapi apa kunun jadi akhirnya
Tapi apa yang terjadi akhirnya
Turunla imbut cada takira
Turunlah hujan deras tidak terkira
Kampung balungsur kadasar sungai adidindang
Kampung longsor kedasar sungai sayang
Yattu susurannya lamin talungsur
Itulah ceritanya lamin talungsur
Dalam setiap lirik terdapat pesan-pesan yang disampaikan oleh pencipta lagu kepada siapapun yang mendengarkan bahwa sebagai warga asli Kalimantan Timur khususnya Berau harus selalu menjaga dan melestarikan budaya. Seperti larangan atau perintah yang tidak seharusnya dikerjakan harus selalu diingat dan dijaga. Makna yang didapat selain memberikan pengetahuan tentang sejarah, lagu ini juga memberikan kesan kesediha, karena lagu ini menceritakan tentang suatu tragedi yang terjadi di sebuah kampung yang tenggelam. Ada petuah yang berkembang di masyarakat ternyata pada saat membersihkan ikan atau bahasa Berau disebut menyiangi iwak itu tidak boleh bercanda atau tertawa, pamali, karena bisa terjadi musibah. Salah satu contoh musibah yang terjadi adalah Lamin Talungsur. Kisah Lamin Talungsur yang menjadi tema lagu di atas memiliki beberapa versi, namun versi yang paling populer diceritakan adalah sebagai berikut.
Dikisahkan ada beberapa keluarga yang tinggal di sebuah rumah lamin. Diantara sekian banyak orang yang tinggal di lamin itu, ada tinggal seorang janda bernama Minai. Ia memiliki dua orang anak yang sekarang sudah besar. Anak yang pertama prempuan berumur sembilan tahun bernama Man’a, sedangkan adiknya laki-laki baru berumur enam tahun namanya Jit Jiu.
Anak pertamanya, si Man’a sudah pandai menanak nasi, merebus air dan membakar ikan dan daging. Ikan untuk lauk makan, mereka dapatkan dengan cara ditangkap di sungai atau bahasa Beraunya mengail. Sedangkan daging mereka peroleh dengan cara berburu dengan membawa senjata sejenis parang yang disebut mandau.
Pada hari minggu Minai pergi ke tepian sungai dengan membawa kail di tangannya. Cukup lama Minai menunggu, namun belum ada ikan yang memakannya membuat Minai merasa heran bercampur kesal. Angin sepoi-sepoi yang bertiup mengenai raut muka ibu, gemerisik daun kering beradu sesama. Bersamaan dengan itu Minai terkejut, sebab kailnya bergerak, ada yang menarik. Dengan sigap Minai terus berusaha menariknya, dan seekor ikan menggelepar-gelepar karena tersangkut mata kailnya. Ikan itu besar dan panjang. Dalam bahasa Berau ikan itu namanya Jallau. Jallau ini sangat besar hingga cukup dimakan tiga hari.
Sampai di rumah, ikan jallau itu di bersihkan dan di potong-potong menjadi beberapa bagian. Satu-satunya cara yang paling mudah untuk memasak ikan tentu dengan di bakar. Harum jallau yang dibakar menghambur sekeliling lamin. Minyak dari badan ikan jallau menetes kebara api. Si Man’a yang mendapat tugas menjaga ikan dan membalik-baliknya hingga masak. Sebelum pergi, Minai berpesan kepada anaknya, “jangan kau tertawa di depan ikan yang sedang dibakar, pamali.” Tapi apa yang terjadi, pesan tinggal pesan, Man’a dan Jit Jiu lain pula lakunya. Apabila mereka merasa lucu maka tertawalah mereka. Tanpa menyadari hal ikhwal, akibat apa yang nantinya mereka terima.
Sejak dahulu mereka percaya benar kalau sedang membakar ikan, tidak boleh tertawa dihadapan dapur atau di hadapan tempat membakar ikan itu. Perilaku semacam itu bisa menimbulkan malapetaka yang tidak dapat dielakkan. Ikan Jallau yang dibakar semakin kering, semakin menggeliat-geliat seperti hendak turun dari tempat pembakaran. Mereka terus tertawa sampai terbahak-bahak, hingga tidak ingat apa-apa dan tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitar mereka berdua. Di luar Lamin angin sudah kencang menerobos daun-daun kayu dan bahkan menumbangkan pohon-pohon. Yang sedang berada di ladang semua bergegas pulang. Mereka heran dan bertanya-tanya ada apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Dengan perlahan-lahan ikan itu tanpa merasa kepanasan bergerak turun dari tungku atau bahasa Beraunya atang tempat ikan itu di bakar.
Semua penghuni lamin telah berkumpul dalam rumah panjang itu, kaget melihat apa yang terjadi. Minai tidak sempat berbuat apa-apa, hanya menatap apa yang telah dilakukan kedua anaknya, kedua anaknya itu telah melanggar sumpah, telah melanggar hal yang tidak boleh dilakukan atau bahasa Beraunya pamantang, telah melanggar adat nenek moyang. Bersamaan dengan ikan turun, Lamin pun ikut bergerak turun terus longsor masuk kedalam sungai mengikuti gerak dan geliat ikan jallau.
Anjing melolong kencang seperti memburu hantu, ayam terbang sambil berteriak tidak jelas memaknai situasi, semuanya hanya berteriak, berlari, ketakutan, tapi tidak menjauh dari lamin yang siap tenggelam. Dalam waktu yang sangat singkat lamin beserta isinya itu turun ke dasar sungai bersama dengan orang-orang tua, remaja, anak-anak, ayam dan anjing peliharaan yang ada ditempat itu. Sedangkan ikan jallau yang bersama lamin turun kedasar sungai langsung berenang dengan pongahnya, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ikan jallau itu hidup kembali seperti semula tanpa cedera sedikitpun. Lamin tenggelam dan menghilang kedalam sungai seperti ditelan bumi. Dengan kejadian tersebut, maka tempat itu dikenal dengan Lamin Talungsur. Pada malam-malam jum’at tertentu, maka nampaklah rumah Lamin didasar sungai.
Menurut cerita kakek Ulay, Lamin Talungsur itu terletak di sebuah teluk yang indah namun sepi. Kakek Ulay pun menceritakan sebuah kisah yang diyakini terjadi setelah Lamin Talungsur. Awalnya sepasang ayah dan anak pergi mudik dari Gunung Tabur ke Gunung Sari, salah satu wilayah yang ada di Kalimantan Timur. Saat itu, sang anak melihat buah manggis dan ingin memakannya, namun sang ayah menolak karena airnya masih pasang hingga mereka harus segera pulang. Kebiasaan mudik ini memang harus mengikuti arus air untuk mempercepat dan mempermudah perjalanan. Saat mudik harus menunggu air pasang, karena apabila air surut maka mereka akan melawan arus dan bisa menyebabkan mendayung sangat berat dan memperlambat perjalanan. Ketika pasangan ayah anak ini melewati tempat yang diyakini menjadi tempat Lamin Talungsur, sang ayah membangunkan anaknya untuk menunjukkan keindahan dari tempat tersebut. Pada saat itu sang ayah merasakan perasaannya bercampur aduk hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Perasaan sang ayah senang karena melihat pemandangan yang sangat indah dikarenakan dasar sungai itu tampak sangat jelas ada sebuah kehidupan disana, ada yang bekerja, ada yang menumbuk padi, membelah kayu, memancing dan sebagainya.
Panjang Rantau itu tidak kurang dari 1 km, seperti kampung di dalam air tapi kaku seperti batu. Setelah melewati Lamin Talungsur, sang ayah baru menyadari bahwa anaknya tidak ada disana, saat itu sang ayah ingat bahwa anaknya ingin makan buah manggis tapi tidak diberi hingga membuat anak tersebut mengalami kepuunan. Kepuunan dalam bahasa Berau, berarti saat kita menginginkan sesuatu tapi tidak tercapai maka akan ada sesuatu yang terjadi pada diri kita. Melihat sang anak tidak ada, sang ayah pun langsung berputar balik ke hilir, setelah beberapa saat melewati Lamin Talungsur ia melihat anaknya berada di tengah perairan sedang tertidur di batang kayu yang sedang hanyut. Beberapa saat kemudian, sang anak pun tersadar, namun lupa akan apapun yang terjadi.
Jadi, Lamin Talungsur ini dipercaya memang mengandung latar belakang riwayat yang unik. Sebelum memeluk agama Islam, masyarakat Berau masih menganut Animisme, yaitu kepercayaan terhadap kekuatan alam. Masyarakat masih percaya bahwa alam memiliki kekuatan yang mengatur kehidupan manusia.