Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Garutu Sahabat Sang Raja
Sinopsis Kisah Pernahkah Anda mendengar kisah mistis di balik kokohnya Keraton Kesultanan Sambaliung di Berau yang secara ajaib selamat dari hantaman mematikan bom pesawat Sekutu? Kisah sejarah ini mengungkap misteri sosok "Garutu", makhluk gaib bertubuh raksasa nan menyeramkan yang ternyata merupakan sahabat karib dan pelindung setia Sultan Aminuddin. Konon, saat serangan udara mematikan itu terjadi, para mata-mata Sekutu terkejut melihat gumpalan awan hitam menyerupai tangan raksasa yang menangkis rentetan bom dari angkasa, membuat keraton tersebut tak tertembus dan tetap berdiri tegak. Selami kisah epik persahabatan dua dunia ini, yang jejak magis serta semangat perjuangannya kini diabadikan melalui monumen tugu telapak tangan penahan bom di halaman istana!

Cerita Lengkap

Keraton Kesultanan Sambaliung atau Istana Sambaliung yang terletak di Kabupaten Berau Provinsi Kalimantan Timur merupakan salah satu bukti sejarah pernah berdirinya Kerajaan Berau. Istana Sambaliung kini dialih fungsikan sebagai museum yang menyimpan banyak benda sejarah. Keberadaan Kesultanan Sambaliung tidak bisa terlepas dari keberadaan Kerajaan Berau yang lahir pada era sebelum Islam masuk ke wilayah Kalimantan Timur.

Kesultanan Sambaliung adalah salah satu kerajaan di Kalimantan Timur yang berdiri pada tahun 1810. Adanya bukti dari Keberadaan Keraton Kesultanan Sambaliung ini bukan hanya menyisakan sejarah. Namun, juga menyisakan kisah misteri, konon terdapat sesosok makhluk gaib yang kerap melindungi Keraton Kesultanan Sambaliung yang digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan namun sangat bersahabat dengan Raja dan sosok yang menjadi sahabat Raja tersebut bernama Garutu.

Sosok Garutu dikenal oleh masyarakat luas saat Keraton Kesultanan Sambaliung pernah selamat dari hantaman bom para Sekutu yang berusaha untuk mengambil alih kekuasaan Raja, namun bom Sekutu tersebut tidak dapat menembus bangunan Keraton karena dipercayai ada sesosok Garutu yang melindungi Keraton Kesultanan Sambaliung dari serangan Sekutu. Kisah Garutu sangat lekat dengan Kesultanan Sambaliung yang terbentuk dari pecahan Kerajaan Berau.

Kesultanan Sambaliung merupakan pecahan dari Kerajaan Berau, yang berdiri sejak abad ke-14 hingga abad ke-19. Pada abad ke-19 sekitar tahun 1810 Kerajaan Berau terpecah menjadi dua yaitu Kesultanan Gunung Tabur Dan Kesultanan Sambaliung. Hal ini disebabkan oleh politik devide it impera atau politik adu domba yang dilakukan oleh Belanda.

Kerajaan Berau pada abad ke-14 pertama kali di pimpin oleh Baddit Dipattung yang bergelar Aji Surya Natakesuma, sampai ke generasi ke-9 Kerajaan Berau dipimpin oleh pangeran Adji Dilayas. Adji Dilayas mempunyai dua orang anak dari istri yang berbeda yang pertama bernama Pangeran Tua dan yang kedua bernama Pangeran Dipati, Kerajaan Berau di perintah secara bergantian antara keturunan Pangeran Tua dan Pangeran Dipati.

Pergantian kekuasaan di Kerajaan Berau dimanfaatkan oleh bangsa Barat untuk melakukan praktik politik devide it impera atau politik adu domba antara Pangeran Tua dan Pangeran Dipati dalam hal pergantian kepemimpinan Kerajaan Berau. Hal inilah yang menjadi latar belakang terpecahnya Kerajaan Berau menjadi dua Kesultanan.

Wilayah Kerajaan Berau dibagi menjadi dua kekuasaan yaitu Kesultanan Sambaliung dan Kesultanan Gunung Tabur yang dipisahkan berdasrkan sungai yang ada di wilayah tersebut, yaitu dari sungai Kuran Tanjung Batu sampai pedalaman Segah menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Gunung Tabur dan dari sungai Tanjung Mangkaliat sampai pedalaman sungai Kelay menjadi wilayah kekuasaan Kesultanan Sambaliung. Setelah terpecah dari Kerajaan Berau kedua Kesultanan dipimpin oleh masing-masing Raja.

Sultan pertama di Kesultanan Sambaliung adalah Raja Alam yang bergelar Sultan Alimuddin yang memerintah pada tahun 1810-1834. Pada saat pemerintahan Raja Alam ia terkenal gigih menentang penjajahan Belanda. Hal ini menyebabkan Raja Alam pernah dibuang atau diasingkan ke Makassar pada tahun 1835 selama dua tahun. Sepulangnya dari pengasingan di Makassar ia berhasil berkuasa kembali di Kesultanan Sambaliung hingga abad ke-17. Pada tahun 1900 hingga 1960 Kesultanan Sambaliung dipimpin oleh Sultan Muhammad Aminuddin yang merupakan sosok pemimpin yang bijak dan menjadi suri tauladan bagi masyarakat Kesultanan Sambaliung.

Memiliki dua Kesultanan kehidupan masyarakat suku Banua atau suku Berau asli terbilang aman dan damai dan tidak ada timbul perselisihan, masyarakat bebas sendiri dalam menentukan pada siapa mereka akan mengabdi, melihat kedua Kesultanan ini begitu kokoh dengan sistem kekuasaannya masing-masing selama bertahun-tahun tentara Sekutu merasa geram dan berusaha untuk menguasai wilayah Berau.

Akhirnya, Sekutu melancarkan aksinya dengan menyerang dua Kesultanan tersebut, Kesultanan Gunung Tabur pun luluh lantah namun tidak dengan Kesultanan Sambaliung hal ini dipercayai oleh masyarakat bahwa ada kekuatan mistis yang melindungi Kesultanan Sambaliung yang dipercayai sebagai sesosok orang yang bertubuh besar yang berusaha untuk menangkap dan juga menangkis bom yang dikirim oleh Sekutu untuk menghancurkan Kesultanan Sambaliung dan wilayah sekitarnya.

Kesultanan Sambaliung dibawah kepemipinan Sultan Aminuddin berusaha untuk selalu menjaga wilayah kekuasaannya, walapun tak jarang kerap kali Ia memiliki banyak musuh namun ia tak sekalipun membalasnya bahkan tidak pula menebar kebencian kepada musuhnya. Selain memiliki perangai yang baik Sultan Aminuddin juga memiliki kemampuan dalam hal dunia gaib.

Kemampuan Sultan Aminuddin berkomunikasi dengan hal-hal gaib menjadikannya banyak bersahabat dengan makhluk tak kasat mata, terbilang ada beberapa makhluk gaib yang juga mendiami Kesultanan Sambaliung yang salah satunya ialah Garutu yang menjadi sosok pelindung Kesultanan Sambaliung yang ia pimpin saat itu. Sosok Garutu digambarkan sebagai sosok tinggi besar dan menyeramkan namun sangat bersahabat dengan Raja sehingga dipercaya menjadi pelindung Keraton.

Diperkuat dari penjelasan pemandu Keraton Kesultanan Sambaliung yang merupakan salah satu orang yang memiliki hubungan darah dengan keturunan Kesultanan Sambaliung kembali menegaskan bagaimana sosok Garutu tersebut. Ia adalah ibu Inda Pangian yang juga menyampaikan bahwa ia meyakini keberadaan dari sosok Garutu yang berada di alam gaib dan ia menyampaikan bagaimana saksi mata yang ikut dalam pesawat mata-mata Sekutu yang datang untuk menghancurkan Kesultanan Sambaliung.

Mata-mata Sekutu tersebut ternyata dari masyarakat lokal yang menyampaikan bahwa saat ingin melakukan pengeboman kearah Kesultanan Sambaliung tiba-tiba pasukan Sekutu tidak dapat melihat wilayah Kesultanan dari atas seolah-olah ada yang melindungi seperti gumpalan awan hitam yang menyerupai tangan besar yang menangkis jatuhnya bom dari Sekutu. Dari kejadian pengeboman yang dilakukan oleh Sekutu Kesultanan Sambaliung hanya terkenan getara dari meledaknya bom tersebut sehingga menyebabkan beberap bagian dari ruangan dan pelapon Kesultanan Sambaliung retak.

Di dalam bangunan Keraton Kesultanan Sambaliung santer terdengar ada satu ruangan khusus yang hanya boleh dikunjungi oleh Raja, ruangan tersebut merupakan ruang satu-satunya yang berada diatas bagian dari bangunan Keraton yang digunakan sebagai ruangan meditasi Raja yang diyakini sebagai tempat pemanggilan dan pertemuan Raja dengan beberapa sahabat gaib nya yang salah satunya adalah Garutu.

Di ruang meditasi ini juga biasanya Raja sering mengadakan ritual, salah satunya dengan membunyikan benda yang merupakan seserahan dari Kerajaan Bugis yang diberikan pada Raja saat diasingkan ke Makassar, benda tersebut saat dibunyikan dapat menjadi perantara dalam komunikasi gaib antara Kerajaan Berau dengan Kerajaan Bone yang dihubungkan dengan telepati.

Akhir dari bom bardir Sekutu cukup membuat masyarakat terguncang walapun tidak dapat menghancurkan Keraton Kesultanan Sambaliung. Namun, masih lekat di ingatan masyarakat akan sosok makhluk berukuran besar yang dikenal dengan nama Garutu yang menjdi sosok pelindung bagi Keraton Kesultanan Sambaliung, hingga kini diyakini sosoknya kerap muncul diatap Keraton Kesultanan Sambaliung dengan keadaan bersila, walapun kisah Garutu dan Raja sudah berlangsung cukup lama. Namun sosok Garutu sebagai pelingdung Keraton Kesultanan Sambaliung masih kerap kali muncul untuk melindungi Keraton dari niatan orang-orang jahat.

Seperti saat ketika ada orang yang berniat buruk untuk memasuki Keraton Kesultanan Sambaliung tanpa ijin dan berusaha untuk mengambil barang-barang peninggalan akan merasa tersesat sehingga tidak tahu jalan untuk bisa keluar dari Keraton Kesultanan Sambaliung.

Langkah masyarakat dan beberapa keturunan Raja berusaha agar sejarah Keraton Kesultanan Sambaliung tidak hilang dalam ingatan dengan dibuatnya semacam monumen yang ditempatkan di halaman Keraton Kesultanan Sambaliung. Bentuknya diserupakan dengan kejadian yang sering diceritakan oleh masyarakat pada saat itu yang diyakini sebagai sosok Garutu yaitu berupa tugu telapak tangan seolah-olah sedang menahan bom.

Selain itu, monumen ini juga memberikan informasi kepada masyarakat maupun pengunjung bahwa ketika Sekutu datang dan berusaha untuk mengambil alih kekuasaan Kesultanan Sambaliung terdapat adanya perjuangan dari masyarakat Sambaliung. Semangat dari perjuangan ini diharapkan dapat tersampaikan kepada penerus Bangsa untuk selalu mewariskan SEMANGAT PERJUANGAN.