Seperti pada umumnya anak kampung yang hidup di pinggir sungai, begitu dengan keluarga Pak Durus dan Bu Kinang. Terutama anaknya yang bungsu bernama si Allik, kerjaannya hanya memancing ke muara sungai Berau. Hampir setiap hari ia bersama temannya, si Astip dengan berdayung menuju ke hilir sampai ke muara. Dengan berbekal kopi tumbuk buatan ibunya yang ditaruhnya di bambu kuning. Apalagi kopi tumbuk buatan Bu Kinang paling terkenal di kampung Saragan itu. Dengan kopi itu, si Allik kuat menahan laparnya sampai seharian penuh. Untung saja si Astip mau saja mengikuti kelakuan si Astip itu.
Meskipun tidak mendapatkan hasil apa-apa, si Allik terus saja memancing ke muara itu. Berulang kali bapaknya melarangnya untuk memancing itu, tapi tak pernah dihiraukannya. Sebenarnya bapaknya tidak melarang si Allik memancing itu, asal tidak dilakukannya tiap hari. Banyak pekerjaan di rumah yang bisa dilakukan untuk membantu orang tuanya.
Begitu pula ibunya kuatir dengan keselamatan si Allik dan sudah melarangnya, agar mengurangi kebiasaan memancing ke muara sungai Berau yang berbahaya itu. Barangkali saat di muara itu ia diterpa badai atau bahaya lainnya.
“Nah, coba kau lihat si Allik anakmu itu. Sepertinya ia akan berangkat memancing lagi besok pagi. Karena kulihat ia sedang menggali-gali tanah ba’da Ashar tadi. Pasti dia itu mencari cacing untuk umpannya.” ujar Bu Kinang.
“Apalagi kalau bukan memancing itu. Begitu sudah kelakuannya setiap hari. Ada atau tidak ada ikannya, anak itu tetap saja berangkat memancing. Sudah kusampaikan ke dia, kalau hanya untuk mendapatkan ikan patin yang besar, tidak perlu jauh-jauh ke muara. Bisa memasang pancingnya di tepi sungai ini. Jadi ia tidak perlu jauh-jauh. Kita juga jadi kuatir akan keselamatannya. Kalau jauh itu, kita tidak tahu apa yang terjadi dengannya nanti. Kalau terjadi apa-apa, ih jauhkan bala. Nanti kau nasehati lagi anakmu itu.” sahut Pak Durus.
“Iya. Nanti kunasehati lagi. Biasanya ia itu selepas Isya, ia langsung tidur. Supaya habis Subuh, ia langsung berangkat. Mumpung Subuh itu air mulai pasang, sehingga ia gampang berdayung karena arusnya tidak deras.” Kata Bu Kinang yang sudah hafal kegiatan harian anaknya.
“Bagaimana caramu saja agar anak itu tidak lagi memancing jauh-jauh ke muara sana.” Pak Durus mengingatkan isterinya.
Begitulah perbincangan Pak Durus dan isterinya Bu Kinang yang kuatir dengan kelakuan anak bungsunya itu. Si Allik memang agak pendiam kurang banyak bicara, tapi kelakuannya yang makin menjadi. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang rajin bersenda gurau dengan keluarga dan teman-temannya.
Meskipun si Laning yang banyak bicara, anak perempuan yang sulung, tapi ia selalu menurut apa kata orang tuanya. Demikian pula si Sadi, anak perempuan kedua yang sering bangun kesiangan, tapi mau saja disuruh ini itu. Si Ancuy, anak laki-laki ketiga yang banyak kemauannya itu, tapi tak pernah melawan atau membantah apa kata kedua orang tuanya.
Kakak-kakaknya itu semua penurut apa yang dikatakan dan nasehat orang tuanya, meskipun banyak bicara dan tingkahnya. Memang berbeda sekali dengan si Allik yang diam-diam menghanyutkan itu.
Mendekati senja, Bu Kinang sudah menunggu di teras, sambil duduk di anak tangga rumahnya. Dilihatnya saja anaknya yang sedang asyik menggali-gali tanah di bawah pohon di depan rumah. Apalagi kalau bukan mencari cacing untuk umpannya memancing.
Diperhatikannya saja anaknya itu. Tak juga dipanggilnya agar berberhenti menggali-galli tanah mencari cacing itu. Sementara Pak Durus bersembunyi di balik pintu sambil memberi tanda ke isterinya agar memanggil si Allik itu.
Sampai suara orang azan di surau sebagai tanda waktunya sholat Magrib, si Allik tak juga beranjak dari pekerjaannya mencari cacing itu. Bu Kinang sampai kelelahan dan bosan menunggunya. Akhirnya Bu Kinang berangkat ke surau untuk sholat Magrib berjamaah. Begitu juga dengan Pak Durus menyusul isterinya dari belakang menuju surau.
Memang susah dinasihati, rasanya ingin sekali memukul anaknya itu, tapi tak tega. Setengah mati rasanya mengeluarkan dari perutnya selama sembilan bulan sepuluh hari. Dibesarkan sampai sebesar ini. Benar-benar tak tega Bu Kinang untuk memukulnya.
Sepulangnya dari sholat Magrib, suami isteri itu pulang ke rumahnya untuk bersiap-siap makan malam bersama keluarganya yang sudah disiapkan oleh si Laning dan si Sadi. Sampai di rumah, semua sudah berkumpul, hanya si Allik yang belum ada kelihatan.
“Ancuy!!! Mana adikmu, si Allik?” tanya Pak Durus kepada si Ancuy, anak ketiganya.
“Dari tadi ia mencari cacing di tepi sungai itu, Pak.” Sahut si Ancuy.
“Coba kau periksa dulu ke sana, ajak makan. Ini sudah waktu kita makan malam, yah!” begitu perintah Pak Durus.
“Iya, Pak!” jawab si Ancuy dan segera berangkat mencari si Allik.
Si Ancuy berjalan keluar membawa tanju yang tergantung di tiang teras rumahnya. Dengan perlahan si Ancuy menuruni tangga rumanya yang tinggi itu. Sambil memanggil-manggil adiknya itu.
“Lik…!!! Lik . . .!!! Oi, Liiiik!!! Di mana kau? Pulanglah dulu. Kau dipanggil Bapak makan. Ini sudah waktu kita makan, Liiiik!!!” Si Ancuy terus berjalan di sepanjang tepi sungai itu. Tapi tiada ditemukannya adiknya itu. Si Ancuy juga mendatangi tempat-tempat si Allik mencari cacing tadi siang, tetap saja ia tidak menemukannya.
Karena sudah lelah mencarinya dari hulu ke hilir sampai 2-3 kali bolak-balik, akhirnya si Ancuy memutuskan kembali ke rumah. Dalam hatinya, ”Terserahmu-lah, Lik. Kau mau apa, aku sudah malas".
Sesampai di teras rumahnya, ia menggantungkan kembali tanju itu, dan si Ancuy masuk ke dalam rumahnya. Ternyata si Allik sudah ada duduk bersila di samping ibunya.
“Astaghfirullah adziim, ternyata ia sudah di sini. Aku setengah mati mencari di sepanjang tepi sungai berulang kali. Kau dimana, Lik?” si Ancuy mengomel pada adiknya itu.
Mendengar itu, si Allik diam saja. Dibiarkannya kakaknya menggerutu itu. Bapak ibunya juga menyuruhnya diam dan mencuci kaki dan tangannya untuk segera makan. Kalau waktunya makan, jangan ada lagi yang berbicara. Begitu perintah Pak Durus pada anggota keluarganya. Saat makan, ia tak mengijinkan ada suara-suara ribut apalagi sampai bertengkar.
Setelah selesai sholat Subuh, seperti biasa, si Allik diam-diam ke batang melepaskan tali perahunya untuk memancing kembali. Hari itu si Astip tidak ikut, karena ia dimarahi ibunya ikut si Allik memancing tiap hari. Dan seperti biasa pula, si Allik tidak pamit memancing itu. Kalau ia pamit pasti diomeli lagi. Sendiri saja si Allik memancing hari itu.
Tok, tok, tok; begitu suara dayung menyentuh tepi perahu. Ia mengambil jalur tengah, karena saat menjelang air pasang di jalur tengah itu arusnya tidak terlalu deras. Kalau mengambil jalan pinggir, arusnya lebih deras saat menjelang air pasang itu, sehingga menyulitkan untuk berdayung yang melawan arah itu.
Akibat ia berangkat terlalu dini hari, sehingga hasrat membuang air kecil. Tanpa menunggu lama, si Allik meletakkan dayungnya dan berdiri tegak, langsung membuang air kecilnya di tengah sungai nan luas itu. Selesai membuang air kecil, ia mendayung kembali.
Belum lama ia mendayung perahunya, tiba-tiba si Allik mendengar suara gemuruh di tengah sungai itu. Ternyata ribuan ikan julung-julung akan menyerang si Allik. Karena paniknya, si Allik mempercepat mendayung perahunya ke tepi. Baru saja akan naik ke darat, kaki tertancap di langas itu. Ribuan ikan julung-julung yang mengejarnya juga tertancap di langas itu dan sebagian juga sudah mematuk kaki dan tubuh si Allik. Sampai hamper seluruh badannya sampai berdarah dan bengkak akibat dipatuk ikan julung-julung itu.
“Paaaaak….. Buuuuuu…sakitnyaaaaa!!!” si Allik berteriak kesakitan yang telah dipatuk ikan julung-julung itu.
Tak lama muncul Raja Julung-Julung, “Hai anak kurang ajar! Kau sudah mencemari tempat tinggal kami, maka kukutuk kau jadi pohon penunggu langas ini.”
Perlahan-lahan tubuh si Allik berubah menjadi pohon di atas langas itu. Demikian pula dengan ikan julung-julung yang sempat naik dan tertancap di langas itu ikut berubah menjadi akar pohon itu. Ternyata keluarga ikan julung-julung itu marah dan sakit hati kepada si Allik yang selalu mencemari sungai tempat tinggal mereka. Siapapun juga pasti akan marah kalau tempat tinggalnya dicemari.
Pohon di tepi sungai dan banyak akarnya seperti keris berdiri itu sekarang dinamakan orang Pohon Perangat dan daerah si Allik tertancap itu di ujung tanjung kampung Saragan itu, yang sekarang dikenal orang dengan nama Tanjung Perangat.