Kembali ke Daftar Cerita Rakyat
Asal Usul Kampung Tuha Bensamar
Sinopsis Kisah Pernahkah Anda membayangkan bahaya mistis yang mengintai saat merambah belantara tanpa meminta izin dari penjaga tak kasatmata? Cerita "Asal Mula Kampung Tuha Bensamar" membawa kita ke era 1600-an, mengikuti jejak Bensamar bersama dua adiknya yang sakti, Bidai dan Balu, dalam ekspedisi menyusuri Sungai Saka Kanan untuk membuka lahan permukiman baru. Ketegangan memuncak ketika proses penebasan hutan mendadak dicekam horor; seorang kerabat tiba-tiba tumbang merintih kesakitan dengan tubuh kaku seolah dililit ular raksasa, sebuah serangan langsung dari orang bunian yang merasa wilayahnya dilanggar. Ikuti kisah mendebarkan tentang bagaimana ketiga bersaudara ini menggunakan mantra penyembuh untuk melawan kutukan gaib, mengikrarkan perjanjian damai dengan alam, dan meletakkan fondasi Kampung Tuha Bensamar yang hidup tenteram melintasi zaman!

Cerita Lengkap

Dikisahkan, ratusan tahun yang lalu, sekitar tahun 1600-an di suatu daerah pedalaman Mahakam, ada seorang pria yang bernama Bensamar. Seorang pria yang mempunyai perawakan yang besar dan mempunyai ilmu kesaktian. Seorang yang menyukai alam dan senang menjelajah hutan. Perawakannya tinggi besar, tegap, dan tangkas. Bensamar mempunyai kedua adik laki-laki, yaitu Bidai dan Balu. Kesukaan mereka sama, yaitu menyukai alam dan senang dengan kehidupan di alam. Bidai seorang yang berperawakan lebih besar dari Bensamar yang juga mempunyai kesaktian. Balu, saudara termuda juga mempunyai kesaktian tetapi ia lebih suka menggurung diri di pondok dan keunikannya adalah tidak senang berpakaian hanya mengenakan cancut.

Suatu hari, Bensamar mengutarakan niatnya kepada kedua adiknya itu. Ia ingin berkelana, keluar dari kampungnya yang berada di pedalaman Mahakam dan ingin berdiam di suatu tempat yang sama sekali belum pernah didatanginya.

“Aku mempunyai keinginan untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah kita datangi,” Bensamar membuka pembicaraan. Ia lalu menyantap kudapan yang ada di hadapannya. Bidai diam untuk sesaat demikian juga Balu.

“Kita? Semua?” Balu memandang Bensamar lalu memandang Bidai.

“Apakah maksudmu kita semua akan pergi?” Bidai menegaskan pertanyaan Balu tadi yang kemudian dianggukkan oleh Bensamar. Kopi panas sudah menjadi hangat di hadapan mereka bertiga. Bensamar lalu menyeruput kopi itu.

“Aku bermaksud seperti itu. Di suatu daerah, lumayan jauh dari Tangga Arung ada suatu hutan yang ada rondongnya.(2) Belum banyak orang yang datang ke situ. Aku pernah mendengar hal itu dari penduduk di sekitaran pinggir Sungai Mahakam di daerah Tangga Arung. Jalan menuju ke sana bisa melalui jalan setapak yang sukar dilalui, tetapi ada cara lain yaitu menyusuri sungai kecil.” Penjelasan Bensamar rupanya membuat kedua adiknya tertarik. Pembicaraan tentang hal itu terus berlanjut hingga akhirnya ada kesepakatan bahwa mereka dan keluarganya akan datang ke daerah hutan itu dan menetap di sana. Mereka juga berharap kehidupan mereka setelah tinggal di sana akan lebih baik.

Hari yang ditentukan pun tiba. Bensamar dan semua keluarganya, laki-laki dan perempuan, tua dan muda, berangkat ke Tangga Arung dengan menaiki beberapa perahu kecil yang disebut gubang menyusuri Sungai Mahakam. Tak lupa doa dipanjatkan agar perjalanan lancar dan terhindar dari aral melintang karena arus Sungai Mahakam terkadang tenang tetapi bisa juga sedikit beriak bahkan deras. Perjalanan itu ditempuh beberapa hari lamanya. Semua bersukacita. Perjalanan yang menyenangkan bagi mereka.

Beberapa hari kemudian, suatu pagi, mereka tiba di daerah Tangga Arung. Kapal berhenti sejenak untuk merapat dan membeli bahan makanan dan keperluan lainnya. Setelah bahan makanan sudah dibeli, mereka lalu kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan dan mulai memasuki sungai yang lebih kecil yaitu Sungai Saka Kanan. Sungai yang menuju ke daerah yang ditunjukkan kepada Bensamar. Keriangan selama perjalanan sungguh terasa di keluarga besar Bensamar sehingga perjalanan yang jauh tidak begitu melelahkan mereka.

“Kita berhenti di sini,” perintah Bensamar membuat yang lain melambatkan laju gubang lalu perlahan berhenti. Nampak sebidang tanah yang cukup rata di tebes yang menjadi tempat untuk mereka turun dan menurunkan barang bawaan yang tidak seberapa banyaknya.

Bensamar dibantu kedua adiknya dan beberapa anggota keluarga yang lain, semuanya laki-laki, segera menebas rumput-rumput yang tinggi untuk membuka jalan. Bersama-sama mereka masuk menelusuri daerah itu hingga tiba pada suatu tempat yang cukup lapang.

“Tolong … “ Suara erangan kesakitan dari seorang anggota keluarga menghentikan aktivitas mereka.

“Ada apa?” tanya yang lain heran. Tidak ada anggota tubuh yang luka dari orang tersebut. Tetapi orang itu terus kesakitan. Ia terbaring di tanah dan berkata seperti ada ular besar yang melilitnya. Badannya sekarang tidak dapat digerakkan dan terlihat sangat kaku.

“Mungkin kita telah mengganggu orang bunian (3) yang ada di sini,” Balu berkata dan diiyakan oleh yang lain.

“Kita tadi belum meminta izin pada mereka,” ucap Bidai, “kita juga belum berdoa kepada Yang Mahakuasa,” lanjutnya. Bidai lalu mendekati si sakit lalu memegang kepalanya dan mengucapkan beberapa kalimat mantra. Balu datang membawakan air putih lalu sama seperti Bidai, ia juga mengucapkan kalimat mantra dan meminumkan air itu pada anggota keluarga yang kesakitan tadi.

Perlahan tubuh yang kaku itu mulai lemas dan bisa digerakkan. Bensamar mendekat dan mengangkatnya untuk beristirahat sejenak.

“Maafkan kami yang tidak meminta izin terlebih dahulu. Kami tidak akan merusak alam di sini. Kami hanya ingin bertempat tinggal dan merawat alam di sini. Kami dan keturunan kami akan hidup di sini. Berkenan kiranya untuk menerima kami,” ucap Bensamar dengan lantang ke arah hutan. Tidak ada sahutan tetapi suasana terasa lebih ringan dan tenang.

“Ayo, kita kembali bekerja,” ajakan Bensamar disahut dengan teriakan semangat keluarganya. Kini semuanya kembali bekerja sama untuk mendirikan beberapa pondok sederhana sebagai tempat tinggal dengan memanfaatkan pohon-pohon di situ. Para perempuan melakukan aktivitas mereka yaitu menyiapkan makanan sederhana untuk santap bersama. Anak-anak ada yang bermain tetapi ada juga yang membantu ibu mereka. Beberapa kayu bakar disiapkan oleh para lelaki untuk dipakai memasak.

Matahari semakin meninggi. Perut yang lapar membuat mereka berhenti untuk sementara. Semuanya bersantap bersama dengan senang. Senang karena pekerjaan mereka hampir rampung sehingga nanti malam semua bisa tidur dengan tenang di pondok yang dibangun. Selesai makan dan beristirahat sejenak, mereka melanjutkan pekerjaan yaitu membuka lahan dan membuat pondok-pondok untuk ditempati.

“Semoga kita semua yang tinggal di sini aman dan tenteram. Kita jaga tempat tinggal kita ini dengan baik juga alam dan hutannya. Inilah tempat kita sekarang,” ucap Bensamar bijak.

Begitulah awal mula mereka tinggal di sana. Kehidupan yang tenteram dan kesukaan mereka pada alam dan kemampuan mereka bertani, menanam padi, membuat keberlangsungan hidup mereka di sana semakin baik walaupun terkucil dari penduduk Tangga Arung karena lokasi yang jauh. Terkadang Bensamar atau adiknya atau keluarga yang lain turun ke Tangga Arung untuk menjual buah dari rondong yang ada ataupun membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari . Mereka juga kadang-kadang turun ke Tangga Arung untuk menemui keluarga yang berdiam di sana. Begitu sebaliknya dengan penduduk Tangga Arung. Semua perjalanan dilakukan dengan menyusuri Sungai Saka Kanan menggunakan gubang.

Demikianlah asal mula Kampung Tuha Bensamar, yang sudah ada sejak tahun 1618. Kampung yang diambil dari nama Bensamar, saudara tertua dari tiga bersaudara. Kampung yang kini masih ditempati kaum keturunannya dan pendatang yang ikut menetap di sana.