Tari ronggeng paser memiliki akar sejarah yang panjang, salah satu versinya menyebut tari ini dikenal sejak animisme dan dinamisme masih dianut masyarakat lokal.
Gerakan tari digunakan sebagai ritual untuk berkomunikasi dengan roh leluhur dan kekuatan alam. Gerakan yang meniru unsur-unsur alam, seperti angin, air, dan tumbuhan, diyakini sebagai doa agar masyarakat diberi keselamatan dan hasil panen yang berlimpah.
Di era Kerajaan Sadurangas, ronggeng paser tidak hanya hadir dalam ritual adat, tetapi juga menjadi hiburan resmi di lingkungan istana. Para penari perempuan yang terlatih menampilkan gerakan anggun diiringi musik bersyair pesan moral dan kisah kehidupan masyarakat.
Di masa kerajaan ini pula, tarian mulai dikenal sebagai "ronggeng paser", sebuah istilah yang dipengaruhi interaksi dagang dengan pedagang dari Semenanjung Malaya.
Pada masa penjajahan, tarian ini sempat mengalami kemunduran karena dibatasi. Meski demikian ronggeng paser kerap dipentaskan sebagai hiburan bagi tentara.
Dalam Tari Ronggeng Paser Sebagai Identitas Masyarakat Suku Paser di Kabupaten Paser Kalimantan Timur oleh Narsidah Ilam dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, salah satu ciri khas yang muncul dalam perkembangan pasca-kemerdekaan adalah tradisi ngibing.
Ngibing adalah interaksi langsung antara penari dan penonton. Dalam ngibing, penari memberikan selendang atau sapu tangan kepada penonton untuk diajak menari bersama di arena pertunjukan.
Mulai dekade 1980-an, pemerintah daerah mulai menyadari pentingnya pelestarian seni tradisional sebagai identitas budaya. Sanggar-sanggar seni didirikan, penari muda dilatih, dan festival budaya digelar secara rutin.
Kini, tari ronggeng paser terus berkembang dan mengalami modifikasi dalam gerak, musik, dan kostum agar lebih sesuai dengan selera generasi muda, tanpa meninggalkan akar tradisinya.